Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 120. Yang Namanya Kebetulan Itu Tidak Bisa Dihindari.


__ADS_3

Selesai makan malam, Rai kembali melanjutkan mobilnya menuju ke daerah rusun yang dulu mereka tinggali. Mereka ingin mampir ke rumah Mpok Nur.


Keadaan rusun sudah banyak berubah. Lingkungan di sekitar rusun juga sudah banyak yang berubah. Kini, di samping rusun terdapat sebuah pusat perbelanjaan yang menjulang tinggi. Padahal di sana dulunya merupakan persawahan milik warga.


Rai memarkirkan mobilnya di depan rusun. Setelah turun dari mobil, Esta berjalan menghampiri seorang pria paruh baya untuk menanyakan keberadaan Mpok Nur. Sebuah keberuntungan kalau ternyata Mpok Nur masih tinggal di unit yang sama seperti dulu.


Esta dan Rai berjalan beriringan menapaki koridor. Kenangan itu kini semakin menumpuk di benak keduanya. Semua yang pernah terjadi di sana langsung memutar di kepala mereka.


Esta terpaku berdiri di depan pintu sebuah rumah. Ya, itu adalah rumah mereka dulu yang kini sudah di huni oleh orang lain. Pias Esta menatapi pintu yang tertutup itu.


Genggaman tangan Rai menyadarkan Esta. Pria itu tersenyum seolah ingin saling menguatkan akan kenangan yang kini masih berputar di ingatan.


Esta membalas perlakuan Rai dengan senyuman. Kemudian mereka kembali melangkahkan kaki menuju ke rumah milik Mpok Nur.


Tok, tok, tok.. Rai mengetuk pintu rumah yang sudah berganti cat itu.


Seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 7 tahunan muncul setelah membukakan pintu. Menatap heran kepada Esta dan Rai bergantian. Membuat Esta sedikit terkejut.


“Cari siapa?” Tanya anak laki-laki itu kepada Esta dan Rai.


“Ehm, mau cari Mpok Nur. Ada?” Tanya Esta.


Anak itu mengernyitkan keningnya dengan curiga. Kemudian berteriak untuk memanggil ibunya.


“Nyakk!!! Ada yang nyariin!!” Pekiknya.


Sesaat kemudian, muncullah wanita paruh baya yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


“Siapa?” Tanya wanita itu.


“Mpok. Haiii..” Ujar Esta dengan genangan airmata yang sudah siap mengalir.


Wajah Mpok Nur sudah keriput disana sini. Jauh melampaui umurnya yang belum setua wajahnya. Apalagi uban yang sudah tumbuh di beberapa bagian, manambah kesan lelah dari wajah wanita itu.


Ia menatap lekat kepada Esta dan Rai bergantian. Keningnya berkerut sedang mengingat siapa mereka.


“Esta?!!” Pekik Mpok Nur kemudian dengan mata yang terbelalak.


“Iya, Mpok. Ini aku, Esta. Apa kabar, Mpok?” Ujar Esta.


Mpok Nur tidak menjawab. Ia hanya maju ke depan kemudian memeluk Esta dengan sangat erat. Airmata sudah mengalir di pipi kedua wanita itu.


“Apa kabar, Mpok?” Esta mengulangi pertanyaannya.


“Baik, baik. Ya ampunn.. Gak nyangka kamu bakalan dateng. Ayo, masuk, masuk.” Ajak Mpok Nur mempersilahkan kedua tamunya.

__ADS_1


Rai dan Esta mengikuti Mpok Nur masuk ke dalam rumah kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


“Ini, Mpok.” Ujar Esta menyerahkan keranjang berisi berbagai macam buah-buahan kepada Mpok Nur.


“Walah. Makasih banyak ya. Tunggu bentar.” Ujar Mpok Nur lagi.


Untuk sesaat Mpok Nur menghilang ke dapur kemudian kembali tidak lama kemudian dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


“Kayaknya kalian baik-baik aja ya. Makin baik malah.” Seloroh Mpok Nur. “Ini si Rai juga malah makin ganteng aja.”


“Hehehehehe. Iya kah Mpok?” Jawab Rai terkekeh.


“Itu siapa, Mpok?” Tanya Esta kepada anak laki-laki yang sibuk bermian ponsel di belakang Mpok Nur.


“Sega. Anakku.”


“Anak Mpok? Ya ampun. Pantesan ganteng banget. Berapa umurnya, Mpok?”


“7 tahun.”


“Waah. Akhirnya ada juga temennya ya, Mpok.”


“Bukan kandung, Ta. Aku ambil dari panti. Kayaknya memang takdir kami buat ngerawat dia.”


“Gak masalah, Mpok. Sama aja.” Ujar Rai akhirnya.


“Kalian udah pada makan belom? Kita makan dulu, ya?” Tawar


Mpok Nur.


“Udah makan, Mpok. Baru aja.” Jawab Esta.


“Kabarnya dulu kalian udah pisah. Kok sekarang jadi tambah mesra gini?”


“Hehehehe. Iya, Mpok. Dulu pisah karna aku harus kuliah di luar negeri.” Rai yang menjawab.


Mpok Nur mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum senang.


Selebihnya, mereka mengobrol ringan. Esta semangat menceritakan perjalanannya hingga ia berhasil mendirikan perusahaan laundry atas namanya. Mpok Nur nampak bangga mendengarnya.


Tidak lupa Esta berterimakasih atas bantuan Mpok Nur selama ini. Karna Mpok Nurlah yang mencarikan Esta pekerjaan di Semarang.


Rai dan Esta tidak bisa berlama-lama di rumah Mpok Nur. Pukul 8 malam, keduanya lantas pamit untuk pulang dan berjanji akan datang lain waktu lagi.


“Pokoknya kalau kalian nikah kasih tau Mpok ya.” Ujar Mpok Nur mengantarkan Esta dan Rai sampai ke dapan rumah

__ADS_1


“Siap, Mpok. Di tunggu aja undangannya.” Jawab Rai.


Esta kembali memeluk Mpok Nur sebelum mereka beranjak pergi. Nampak raut kebahagiaan dari wajah Esta. Dan itu membuat Rai ikut bahagia juga.


“Mas, kita mampir ke mall itu yuk.” Ajak Esta saat Rai baru saja melajukan mobilnya.


“Mau cari apa?”


“Lihat-lihat aja.”


“Siap, Nyonya.” Seloroh Rai yang langsug di sambut kekehan dari Esta.


Rai membelokkan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan terkenal milik salah satu orang terkaya di indonesia itu. Begitu mobil terparkir sempurna, Esta dan Rai segera berjalan masuk kedalam gedung mall.


“Mau nonton?” Tawar Rai.


Esta melihat jam tangannya lalu menggelengkan kepala. “Enggak ah. Udah jam segini.”


“Gak apa-apa. Nanti nginep di rumah aja. Tante Citra pasti seneng.”


“Tapi aku gak bawa baju ganti.”


“Kita beli di dalam.” Rai menggenggam tangan Esta kemudian mengajaknya masuk ke dalam lift.


Namun, sesuatu menghentikan Esta. Matanya terpaku kepada seorang wanita yang berdiri tak jauh di samping kanannya. Esta sangat terkejut melihatnya


Begitu juga dengan wanita itu. Ia nampak mencoba mengalihkan pandangannya dari Esta dan bahkan mulai melangkahkan kakinya untuk menjauh.


“Bi!” Panggil Esta.


Kanti berhenti karna Esta memanggilnya. Begitu juga dengan anak perempuan yang sedang di gandeng oleh Kanti.


Berapa persen kemungkinan ia bertemu Kanti disini?


Esta melepaskan diri dari genggaman tangan Rai kemudian berjalan mendekati Kanti. Rai hanya mengernyit saja karna ia tidak mengenali Kanti lagi.


“Bibi apa kabar?” Tanya Esta setelah berhadapan dengan Kanti.


“Baik.” Jawab Kanti lirih sambil setengah menundukkan wajah.


Wajah Kanti nampak lebih tua dan kurus. Wanita itu sudah jauh berubah. Tapi kini, Kanti mengenakan hijab yang dulu tidak pernah ia kenakan. Sehingga wajahnya telihat teduh walaupun sudah keriput.


Perasaan Esta sedang campur aduk antara senang dan trenyuh. Tidak menyangka kalau ia bisa  bertemu dengan Kanti di sini. Dia memang sama sekali tidak berniat untuk menemui Kanti, tapi ternyata mereka bertemu secara tidak sengaja. Jadi Esta tidak punya alasan untuk menghindar.


Masalalu antara Esta dan Kanti memang kelam. Tapi karna Esta sudah berniat untuk lepas dari semua masalah di masalalu, jadi ia ingin berbicara kepada Kanti. Ia benar-benar tidak ingin lagi menyimpan penyakit hati di kehidupan masa depannya. Ia ingin hidup tenang dan damai bersama Rai tanpa bayang-bayang kejadian masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2