
“Aku fikir kamu ada hubungan spesial sama Mas Oza.” Entah kenapa tiba-tiba Rai malah membahas perihal Oza. Membuat Esta langsung menoleh padanya.
Rai pura-pura tidak merasa, ia hanya fokus pada jalan raya untuk mengemudikan mobilnya.
“Kenapa tiba-tiba bahas Mas Oza?”
“Soalnya masih ada yang ngeganjal di otakku.”
“Maksudnya?”
“Ya kalau ngelihat cara dia ngelihat kamu, perhatiin kamu, semua orang juga bakalan berfikir kalau dia itu suka sama kamu.”
“Kamu ini ngaco deh. Kami tu beneran gak ada apa-apa. Soalnya Mas Oza itu..” Esta tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat.
“Kok malah diem? Mas Oza kenapa?”
Hufhh...
Esta menghela nafas bimbang. Ia sangat tidak ingin memberitahu Rai tentang rahasia Oza. Tapi sepertinya ia harus mengatakannya.
“Mas Oza kenapa?” Rai bertanya ulang.
“Ya karna mas Oza itu udah mau tunangan sama Putri.” Akhirnya rahasia yang ia simpan rapat itu keluar juga dari mulutnya. Padahal Putri sudah mewanti-wantinya untuk tidak memberitahu siapapun sebelum mereka resmi bertunangan.
Gara-gara desakan dari Rai akhirnya ia jadi memberitahu kabar yang belum seharusnya di beritahu.
“Hah?!! Seriusan?!” Rai nampak sangat terkejut. Ternyata selama ini ia salah penafsiran.
“Ish! Jangan bilang siapa-siapa. Putri bisa ngamuk sama aku nanti.” Ancam Esta.
“Hahahahahahah. Iya. Gak akan ku bilang sama siapa-siapa. Hahahahahahaha.” Rai tertawa sangat lepas. Seolah ia lega sekaligus malu karna sudah berfikir yang macam-macam.
Rai megemudikan mobilnya memasuki arena cafe yang nampak sangat ramai. Cafe outdoor yang sedang di gandrungi oleh anak-anak muda di Semarang.
Ia memarkirkan mobilnya walaupun sangat sulit mencari tempat yang kosong, tapi untungnya Rai berhasil memarkirkan mobil dengan baik.
“Rame banget..” Ujar Esta memperhatikan ke arah cafe yang memang nampak penuh oleh pengunjung.
“Masih banyak tempat yang kosong kok.”
Esta melepaskan sabuk pengamannya dan hendak turun, tapi tangan Rai memegang dan mencegahnya. Membuatnya langsung membalikkan badan dan menoleh kepada Rai.
__ADS_1
Rai sedang menatap dalam kepada netra Esta. Membuat jantung Esta berdegup dengan sangat kencang.
“Kenapa?” Tanya Esta dengan wajah yang sudah merona.
“Aku sayang kamu, Semesta...” Lirih Rai tiba-tiba.
“Iya. Aku udah tau.”
Rai malah menggeleng tidak jelas. “Enggak. Kamu gak tau. Yang kamu tau itu cuma setengahnya aja. Masih ada banyak cinta disini buat kamu, Ta.” Ujar Rai sambil menunjuk ke arah dadanya.
“Apaan sih kamu. Bikin aku meleyot aja.” Gumam Esta malu.
“Cuma mau ngasih tau kok. Coba itu di mukamu ada apa itu?” Ujar Rai menunjuk bagian wajah Esta dengan dagunya.
“Mana?” Esta mencari di wajahnya.
“Itu, di atas..”
Esta mencari di bagian atas wajahnya.
“Mana?”
“Ke samping dikit.”
“Coba dekat sini. Aku ambilin.” Paksa Rai sambil menarik lengan Esta agar lebih dekat dengannya.
Cup!
Esta langsung terbelalak saat bibir Rai mengecup pipinya. Sontak ia langsung memukul lengan Rai dengan keras. Bodohnya dia, selalu tetipu dengan muslihat Rai.
“Hahahahahahahaha. Love you Esta.” Rai malah terkekeh tidak karuan. Sementara Esta hanya bisa mendengus kesal saja.
“Dulu aja jaim. Jarang ngomong bahkan. Sekarang kok amburadul gini. Gak ada malu-malunya.” Gumam Esta kesal.
“Ya kan dulu masih bocil, Ta. Karna jaim aku jadi telat nyadarin perasaanku ke kamu. Sekarang aku gak mau jaim-jaim lagi ke kamu. Aku akan nunjukin semua apa yang kurasakan ke kamu. Akan ku tunjukin semua perasaanku. Pokoknya gak ada jaim-jaim lagi. Soalnya aku gak mau kehilangan kamu lagi karna sikap bodohku itu.”
Esta semakin tersipu. Ungkapan itu menghangatkan hatinya. Membuatnya bergetar dan bahagia.
“Udah ah, ayo masuk.” Ajak Esta yang langsung membuka pintu mobil kembali dan keluar.
Rai segera mengikuti Esta keluar dari mobil. Ia tersenyum bahagia.
__ADS_1
Tinggal selangkah lagi Rai bisa memiliki Esta seutuhnya. Tinggal selangkah lagi ia bisa menghalalkan Esta untuk dirinya. Dan kali ini, ia tidak akan membuat kesalahan yang sama.
Semua prosesnya akan ia tapaki tahap demi tahap. Agar tidak ada kesalahan lagi. Ia akan memiliki Esta dengan proses yang benar, bukan karna kesalahan.
“Sayang, tunggu. Sayangku...” Desis Rai dari belakang Esta.
Esta yang berjalan di depan Rai, masih tersipu malu. Bahkan hanya teringat pengakuan Rai membuat hatinya menghangat dan terus bergetar. Sampai tiba-tiba...
Bruk!
Esta langsung mematung di tempatnya berdiri. Di depan dinding kaca transparan yang ia tabrak. Padahal tadi tidak ada kaca disana. Perasaannya itu tadi pintu yang terbuka, bukan kaca. Kenapa malah jadi kaca?
Perasaan hangat itu sudah tergantikan oleh rasa malu yang sangat luar biasa. Apalagi ada seorang pelayan cafe pria yang juga sedang mematung seperti dirinya tepat di hadapannya. Melihat kepadanya dengan aneh dan tawa yang tertahan di wajahnya. Bahkan sendok yang ada di tangan pelayan itu sampai terjatuh.
Bukan hanya pelayan itu, semua mata kini langsung tertuju kepada Esta. Bahkan para pengunjung yang ada di halaman outdoor kompak menatap kearahnya. Menambah beban malu yang semakin menggunung di wajahnya. Rasa malunya sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi.
“Hahahahahahahahahahaha.” Terdengar tawa Rai yang tertahan.
Dan tawa Rai itu langsung di sambut oleh beberapa pengunjung yang juga ikut menertawainya. Sumpah, malu sekali rasanya. Ia hilang fokus karna Rai terus memanggilnya sayang, sayang....
Perlahan Esta menundukkan wajahnya kemudian memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju ke arah tempat parkir.
“Sayang! Mau kemana? Hahahahaha.” Pekik Rai dengan masih tertawa. Membuat Esta bertambah malu saja.
Esta terus menundukkan wajahnya dan langsung masuk ke dalam mobil kembali. Bahkan di dalam mobil dia masih menundukkan wajahnya. Malu.
“Sayang, kok malah kesini? Gak jadi masuk? Brrhhhh.” Tawa Rai. Ia berdiri di luar mobil di samping Esta.
“Udah buruan. Ayo ke tempat lain aja.” Pinta Esta. Melirik ke arah orang-orang yang masih melihat ke arah mereka.
“Panggil ‘Mas’ dulu dong.”
“Rai... Please. Ayo buruan.” Mohon Esta.
“Panggil ‘Mas’ dulu. Ayo.”
Rai tetap bersikeras meminta Esta untuk memanggilnya ‘Mas’. Padahal Esta sudah malu setengah mati. Sepertinya kali ini Esta harus mengalah.
“Mas,,, ayo buruan pergi. Aku malu...” Rengek Esta dengan muka memelas. Muka memelas plus marah dan memaksa.
Rai merasa sangat puas mendengar Esta memanggilnya begitu. Ia tersenyum lebar dan mengangguk kemudian berjalan memutar dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Ya ampun. Aku gak akan dateng ke sini lagi. Gak akan.” Lirih Esta masih menahan malu. Sementara Rai terus cekikikan di sebelahnya.
“Ya udah, gak usah malu lagi. Kita pergi dari sini ya...” Ujar Rai kemudian untuk menenangkan kekasihnya. Padahal ia masih menahan tawanya.