
Esta masih terus tergugu di pelukan Salamah. Kali ini, ia nampak seperti gadis pada umumnya yang nampak lemah dan butuh menangis untuk sekedar menenangkan diri. Ia nampak seperti gadis seusianya yang masih membutuhkan bimbingan dan pelukan dari orang-orang di sekitarnya.
Bukan gadis yang memasang topeng kuat padahal hatinya sudah hancur lebur oleh keadaan. Bukan gadis yang melarikan diri kepada keceriaan dan berusaha untuk menyelesaikan semua sendiri karna ia tidak punya tempat bersandar.
“Menangislah, tumpahin semuanya. Gak apa-apa.” Lirih Salamah lagi. Ia tetap memeluk tubuh Esta dan membelai kepalanya lembut.
Rasa penyesalan dan rasa bersalah kian menumpuk di hati Rai. Pilu juga rasanya saat ia mendengar deru tangis Esta yang terdengar sangat menyedihkan itu. Ia menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap langsung pemandangan menyesakkan yang tersaji di hadapannya. Pras bahkan mencoba untuk menenangkan Rai dengan mengelus punggung keponakannya itu.
Lama sekali Esta meluapkan kesedihan dan lukanya di pelukan Salamah yang bahkan baru pertama kali ia temui. Ia tidak peduli kalau ia nampak lemah dan rapuh. Ia hanya ingin menunpahkan seluruh kesedihannya.
Setelah berjuang untuk menenangkan hatinya, perlahan Esta mampu mengendalikan diri dan melepas pelukannya dari Salamah walaupun ia masih sesekali terisak.
Esta segera membersihkan bekas airmatanya dengan telapak tangannya dan langsung menundukkan kepalanya. Salamah masih terus berusaha untuk menenangkannya dengan mengusap pundaknya.
Setelah keadaan berangsur normal, Esta baru berani mengangkat kepalanya dan melihat kepada Rai yang sedang menatapnya pias. Tapi, entah kenapa ia tidak suka tatapan kasihan yang terpancar dari kedua netra pria itu.
Esta terkejut saat tiba-tiba Rai berdiri dan langsung mendekatinya lantas menarik pergelangan tangannya untuk menjauh dari ruang tamu. Rai mengajaknya masuk ke dalam sebuah kamar yang entah milik siapa.
Setelah menutup pintu rapat-rapat, Rai melepaskan genggaman tangannya dan berdiri menghadap kepada Esta. Rai menatap Esta dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
“Maaf.” Lirih Rai kepada Esta.
“Enggak. Gak perlu minta maaf. Ini semua salah kita. Kita berdua sama-sama salah.”
“Aku bakalan bertanggung jawab.” Ujar Rai kemudian.
“Aku gak minta pertanggung jawaban kamu, Rai. Aku bisa kok, ngurus anak ini sendiri. Lagian kan bentar lagi juga udah tamat.”
__ADS_1
“Ta...”
“Rai, aku gak apa-apa, beneran. Gak usah terlalu di fikirin gitu. Kamu sampai sakit lho,,”
“Gimana aku gak mikirin, Ta? Kamu itu cewek lho. Aku tau kamu pasti marah kan sama aku?”
“Aku gak pernah marah sama kamu kok, Rai. Karna memang aku sadar kalau ini tu memang salahku juga. Aku gak apa-apa, sumpah.”
“Kamu bilang gitu karna kamu mau balas dendam kan sama aku? Kamu mau aku nyesel dan ngerasa bersalah seumur hidupku. Gitu kan?”
“Kok kamu ngiranya gitu? Aku sama sekali gak ada maksud apa-apa. Aku gak ngerasa rugi sama sekali. Dan juga, gak akan ada keluarga yang bakalan kecewa sama aku. Sedangkan kamu, ada nama baik keluarga yang mesti kamu jaga. Kamu punya nama besar di belakangmu, Rai. Dan mereka bakalan kecewa sama kamu.”
“Persetan sama nama baik!! Aku gak mau nyesel dan ngerasa jadi orang pengecut setelah apa yang ku lakuin sama kamu. Kamu gak tau seberapa kerasnya usahaku buat gak jadi orang yang berengsek! Kayak,,, kayak...” Rai tidak mampu melanjutkan potongan kalimatnya.
Sementara Esta nampak sangat terkejut dengan kemarahan Rai. Tatapan Rai berubah menjadi menakutkan.
“Udah begini kamu masih ngomongin cinta? ini semua bukan masalah cinta, Ta. Tapi masalah tanggung jawab dan nasib anak itu nanti. Ayo kita jangan egois. Apa kamu mau anak itu lahir tanpa ayah? Seumur hidup anak itu bakalan nerima cibiran dari orang-orang. Dia bakalan di cemooh dan jadi bahan ejekan. Apa kamu tega ngelihat semua itu? Fikirkan nasibnya nanti.” Bujuk Rai.
Semua yang di katakan oleh Rai ada benarnya. Ia sangat tau dinamika sosial seperti apa yang ada di sekitarnya. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Esta menghela nafas berat sambil memejamkan matanya.
“Kita urus masalah cinta itu nanti. Setelah anak itu lahir dan besar, terserah kalau kamu mau menikah sama orang yang kamu cintai. Tapi saat ini, kamu harus nikah sama aku, demi anak kita. Jangan sepelekan niatku, pliss.”
Mendengar Rai menyebutkan kata ‘anak kita’, membuat hati Esta luluh. Ia terdiam dan tidak menjawab apapun.
“Ayo kita keluar.” Ajak Rai setelah beberapa detik keheningan yang sudah berlalu.
Rai keluar dari kamar dengan Esta yang mengikuti di belakangnya. Mereka kembali duduk di ruang tamu dan duduk di tempat mereka semula.
__ADS_1
“Esta, apa kamu mau, nikah sama Rai?” Tanya Salamah dengan nada yang selembut mungkin.
“Aku udah sempet jelasin sama Rai, nek. Kalau aku gak nuntut dia buat tanggung jawab.” Ucapan Esta itu membuat Rai memperingatkan lewat tatapan matanya.
“Esta,, tolong jangan begitu. Jangan tolak niat baik Rai. Itu udah kewajibannya buat mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Kasihan anak ini kalau sampai lahir tanpa sosok ayahnya. Hidupnya gak akan mudah nanti.” Bujuk Salamah.
Esta jadi terdiam.
“Esta, kami semua bakalan nerima kamu dengan tangan terbuka. Kami semua bakalan bantu kamu. Selama kamu menikah sama Rai, kami akan ngerasa lega, Ta. Kalau kamu gak mau nikah sama Rai, kami bakalan ngerasa bersalah sama kamu.” Istri Pras ikut menimpali.
“Tolong biarkan Rai nebus kesalahannya, Semesta. Nikahi Rai.” Pras ikut ambil bagian dalam membujuk Esta.
“Tapi kami masih sekolah, gimana kalau orang-orang tau kalau kami menikah? Kita bisa nikah setelah lulus aja.” Ujar Esta masih dengan keras kepalanya.
“Kamu udah hamil. Semakin cepat nikah semakin baik. Kalau masalah itu, kita bisa menyembunyikannya sampai waktu yang tepat. Harus ada orang yang jaga kamu, TA. Sayang anakmu nanti.” Ujar Salamah.
Esta berfikir, apa bedanya jika mereka menikah sekarang atau nanti setelah lulus? Toh dia sudah terlanjur hamil ini. Mau secepatnya ataupun nanti, sama sekali tidak akan mengubah apapun. Ia tetap sudah rusak dan tidak ada sesuatu yang bisa mengubah hal itu.
“Esta...” Panggil Salamah. Ia manatap Esta dengan tatapan memohon. Tatapan tulus dari wanita renta itu mampu menggerakkan hati Esta.
Nenek dan Pras kembali meyakinkan Esta tentang akibat kalau mereka tidak segera menikah. Pras bahkan memberitahu sedikit pemahaman agama yang ia punya dan memberi pengertian kepada gadis itu.
Mendengar semua orang nampak sangat berharap padanya, ia mengerutkan alisnya dan beralih menatap Rai seolah meminta penjelasan.
Rai mengangguk pelan kepada Esta untuk meyakinkan gadis itu. Ini benar-benar bukanlah sebuah pernikahan impian kebanyakan gadis normal pada umumnya. Esta harus menyerah pada impian itu karna keadaan yang memaksa. Ia memikirkan semua penjelasan nenek, Pras dan istrinya.
Setelah mempertimbangkan dengan seksama, akhirnya Esta menganggukkan kepalanya dan berkata kalau ia bersedia untuk menikah dengan Rai. Semua yang mendengarnya langsung mengucap syukur dan tersenyum kepada Esta.
__ADS_1