Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 106. Mencari Titik Keraguan.


__ADS_3

Hari ke empat Rai di rumah sakit, dokter sudah memperbolehkannya pulang. Dan karna Hera tidak ada disana, jadi Esta yang membantu mengurusi pria itu. Esta bahkan jadi jarang pulang karna Rai. Untung saja masih ada Nisa yang bisa mengurusi pekerjaannya.


Esta mengantarkan Rai kembali ke hotel. Padahal sebenarnya pria itu sudah merengek agar diperbolehkan untuk tinggal di mess saja. Ia masih tidak terima dengan kedekatan Esta dengan Oza dan putrinya.


Kemarin saja, ia sempat mencibiri Oza saat pria itu datang untuk menjemput anaknya. Ia tidak suka sikap manis yang selalu di tunjukkan Oza kepada Esta. Ia seperti merasa kalah sebelum bertanding.


“Kenapa sih aku gak boleh nginep di mess?”


“Karna aku gak mau orang lain repot gara-gara aku.” Jawab Esta yang sedang merapikan pakaian kotor Rai untuk di bawa pulang le laundry.


“Kenapa kamu yang repot?” Tanya Rai heran. Esta berbalik menghadap Rai sambil menghela nafas.


“Ya kan kalau kamu disana, harus tidur di kamarku. Terus aku harus tidur di kamarnya Nisa. Aku gak mau ngerepotin Nisa. Dia pasti gak nyaman kalau aku terus-terusan tidur di kamarnya. Udah jangan bawel. Aku harus pulang.” Jawab Esta sambil berdiri dan menenteng kantung plastik berisi pakaian kotor.


Rai nampak merengut di sisi tempat tidur. Ia menatap pias Esta. Namun pada saat wanita itu sudah meraih handle pintu dan hendak keluar, Rai langsung merangsek dan memeluknya dari belakang.


“Rai? Lepasin.”


“Gak bisakah temenin aku disini seharian ini?” Rengek Rai yang masih mengeratkan pelukannya. Tidak peduli kalau wajah Esta sudah memerah dan dadanya hampir saja melompat.


“Gak bisa. Udah beberapa hari aku ninggalin kerjaan.”


“Kan ada Nisa.”


Esta langsung melepaskan lilitan tangan Rai saat pria itu melonggarkan pelukannya. Ia kemudian berbalik dan menatap Rai.


“Aku gak bisa bebanin kerjaanku terus-terusan sama Nisa. Dia kan juga punya kerjaannya sendiri. Lagian aku harus menyiapkan bahan buat seminar besok lusa.”

__ADS_1


“Aaaahhhh. Nanti malem kan bisa ngerjainnya.” Rai masih merengek dengan wajah frustasi.


“Kamu ini kenapa sih? Merengek-rengek kayak anak kecil aja.”


“Karna aku udah nyaman sama kamu.”


“Dulu kamu gak ada manja kayak gini.”


“Siapa bilang? Dari dulu aku juga udah manja. Cuma dulu aku masih gengsi aja. Tapi sekarang enggak. Aku gak mau jaga gengsi di depanmu. Aku mau tunjukin kalau aku nyaman ada di dekatmu. Aku gak akan nahan diri buat nunjukkin seluruh perasaanku ke kamu, Ta. Biar kamu tau sebesar apa sayangku sama kamu.”


Jawaban itu langsung membuat Esta terdiam. Menatap dalam netra Rai yang menyuguhkan ketulusan. Teduh, dan nyaman.


“Aku butuh waktu. Kamu udah menyita seluruh waktuku, Rai. Jadi beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Aku butuh waktu untuk berfikir. Aku gak mau salah langkah lagi. Aku gak mau keputusanku nanti malah membuat kita sakit. Aku udah cukup nyesel karna dulu maksa kamu pergi. Karna keputusanku itu, akhirnya kita berdua ngerasain sakit.  Dan aku gak mau bagitu lagi. Lagian masih ada sedikit keraguan di hatiku. Kasih aku waktu supaya aku bisa melakukan sesuatu dengan keraguanku ini.”


Rai terdiam. Ia lega karna akhirnya Esta mengutarakan isi fikirannya.


“Yaudah. Aku akan nunggu kamu sampai kapanpun kamu siap. Aku gak akan ganggu kamu beberapa hari ke depan supaya kamu fokus mikirinnya. Semangat Esta!” Ujar Rai sambil mengangkat kepalan tangannya.


Ia berdiri di balik pintu setelah menutupnya. Tersenyum lirih saat membayangkan Esta. Membayangkannya membuat hatinya bedebar dan ia suka itu. Ia tidak pernah punya rasa bosan kepada wanita itu. Memikirkan Esta selalu saja membuatnya bergairah dan bersemangat.


Setelah itu ia berjalan ke arah jendela untuk memperhatikan hiruk pikuk di bawah sana. Barangkali ia bisa melihat Esta disana.


Esta menunggu taksi di pinggir jalan di depan hotel. Sekali lagi ia menoleh kearah atas. Menduga-duga dimana kamar Rai berada. Hatinya selalu bergetar saat berada di dekat pria itu.


Esta segera masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti di hadapannya. Ia segera masuk dan meminta supir untuk mengantarkannya pulang.


Kedatangan Esta disambut meriah oleh Giri yang sudah sangat merindukannya. Pria itu langsung bergelayut manja kepada Esta.

__ADS_1


“Aku tuh kangen banget tau Mbak. Beberapa hari Mbak Esta gak pernah ada di rumah. Kalau gak ada Mbak Esta tuh, rasanya sunyiii gitu.”


“Halah, gayamu.” Hardik Esta. Ia sudah biasa mendengar rayuan Giri. “Mana Nisa?”


“Didalam.”


“Yaudah buruan balik sana. Aku mau mandi dulu, terus tidur sebentar. Soalnya ngantuk udah beberapa malam kurang tidur.”


Giri hanya mengangguk. Ia segera kembali ke kantor dan meneruskan pekerjaannya. Membiarkan Esta sibuk mengurusi dan memanjakan diri sendiri.


Esta merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memandangi langit-langit dengan tatapan hampa. Fikirannya kembali tertuju kepada Rai. Ia mencari titik keraguan di dalam dirinya agar bisa segera mengambil keputusan yang tepat.


Mungkin karna ia masih lelah, jadi ia tidak bisa memutuskan apa yang akan ia lakukan. Akhirnya Esta bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


Guyuran air yang terasa sangat menyegarkan membasahi seluruh tubuh Esta. Kesegarannya bahkan mengalir sampai ke dalam hatinya.


Selesai mandi, Esta duduk di meja kamarnya sambil mengeringkan rambut dengan menggunakan hairdryer. Namun tiba-tiba tatapannya tertuju kepada sebuah foto yang menyembul keluar dari buku bindernya. Karna penasaran ia segera menariknya keluar.


Esta mengernyit melihat foto USG yang sudah ia buang masih ada disana. Heran memikirkan kenapa foto itu malah terselip di buku bindernya? Padahal ia ingat sudah membuangnya ke tempat sampah bersamaan dengan pena perekam.


Esta membolak-balik foto itu dan mendapati sebuah tulisan di belakangnya.  Itu bukan tulisannya karna ia tidak pernah menilis apapun di foto itu.


‘Dedek.. PAPA kangen. Kamu baik-baik ya disana. Papa janji akan bawa Mama pulang supaya bisa sering-sering jengukin kamu dan iyut.’


Tak terasa, airmata mulai menggenang di ujung matanya. Hatinya bagai teriris setelah membaca tulisan itu. Ternyata Rai juga menyimpan kerinduan kepada anak mereka. Ia fikir selama ini Rai sudah melupakannya.


Melupakan hal yang membuat mereka jadi terikat satu sama lain. Melupakan hal yang membuat perasaan tumbuh dalam hati mereka. Melupakan setiap kenangan indah yang singgah di dalam pernikahan singkat mereka.

__ADS_1


Kenapa Esta tidak bisa melihat kilatan kesedihan itu di netra Rai? Apa karna ia terlalu memperhatikan kesedihannya sendiri sehingga ia tidak bisa membaca perasaan Rai?


Ia fikir hanya ia yang terluka. Ternyata Rai juga terluka dan kehilangan. Sama sepertinya. Betapa egoisnya ia telah memaksa pria itu untuk melepaskannya.


__ADS_2