Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 73. Sebuah Jalan Yang Seharusnya Tidak Mereka Tapaki.


__ADS_3

Saat mereka sudah sampai rumah, Rai langsung memarkirkan motornya di halaman begitu saja. Kemudian menggenggam dan menggeret tangan Esta masuk kedalam rumah.


Citra yang sedang menemani Afni bermain hanya melihat keduanya dengan tatapan heran.


Esta berhasil melepaskan tangannya dan kemudian berjalan menghampiri Salamah yang sedang menonton tv, ia duduk di samping wanita itu dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kenapa, Ta?” Tanya Salamah heran.


Esta malah memeluk Salamah dengan sangat erat. Ia tidak menangis walaupun airmatanya sudah menggenang di ujung. Ia hanya ingin memeluk Salamah saja.


Rai berdiri di belakang mereka dengan berkacak pinggang sambil membasahi mulutnya dengan lidah. Matanya tidak bisa menyembunyikan kemarahan dan kekecewaannya.


Setelah lama Esta memeluk Salamah, ia melepaskan wanita itu. Memegang tangannya kemudian tersenyum pias.


“Nek, aku mau ngucapin makasih banget atas niat Nenek buat nguliahin aku. Tapi maaf banget aku harus nolak niat baik Nenek itu.”


Salamah nampak kecewa dengan pernyataan Esta itu. Keningnya yang berkerut menandakan kalau ia penuh dengan pertanyaan.


“Kenapa?”


“Aku gak ada kefikiran buat kuliah, Nek.”


“Terus kamu mau gimana?”


“Dia malah mau minta pisah dari aku, Nek.” Adu Rai.


Pengakuan itu sontak membuat Salamah terbelalak. Ia menatap Rai dan Esta bergantian.


“Bener itu, Ta? Kamu minta pisah dari Rai? Kenapa begitu?”


Esta terdiam. Ia menundukkan kepala. Tidak punya nyali menatap mata sedih Salamah. Ia tau kalau ia harus segera memberikan penjelasannya. Namun sekali lagi, ia menjadi tidak berdaya di depan Salamah. Ia menyayangi Salamah dan sudah menganggapnya seperti neneknya sendiri.


“Aku cuma gak mau jadi penghalang masa depannya Rai, Nek.” Jawab Esta lirih. Itu hanyalah alasannya.

__ADS_1


Salamah kembali mengerutkan keningnya karna tidak mengerti maksud Esta. Apa maksudnya penghalang masa depan Rai?


“Itu lagi alasanmu.” Hardik Rai. Ia mengambil duduk tepat di depan Esta. Menatap Esta dengan kesedihannya.


“Aku tau Rai harus kuliah ke luar negeri. Demi cita-citanya. Demi masa depannya. Dan aku gak bisa ikut Rai sementara Rai juga gak mungkin ninggalin aku disini sendirian. Jadi jalan tengahnya, supaya Rai tetep bisa wujutin cita-citanya, dan dia gak berat buat ninggalin aku sendirian disini, makanya aku minta pisah.”Jelas Esta.


“Kamu sama sekali gak mikirin perasaanku apa gimana, Ta?”


“Rai, please. Aku udah jelasin ke kamu panjang lebar alasannya.”


“Iya, yang kamu bilang kalau kamu mau balik ke kehidupanmu yang sebelum nikah sama aku. Iya kan? Kamu sadar gak sih kalau itu cuma omong kosong?”


“Itu bukan cuma omong kosong. Udah cukup aku ngerasa sakit dan hancur. Aku mohon lepasin aku, Rai. Aku mau hidupku kembali.” Kali ini Esta memintanya dengan sungguh-sungguh.


Tidak ada yang tau kalau keputusan Esta itu banyak dipengaruhi oleh Fandi. Dan Esta tetap menutup mulut untuk kebenarannya.


Rai menatap dalam kedua netra Esta bergantian. Alisnya berkerut dengan ekspresi wajah penuh kesedihan. Ia tetap tidak terima dengan permintaan Esta bagaimanapun caranya.


“Kalau gitu, aku gak akan pergi.”


“Ta?!”


“Udah.” Salamah menengahi. Ia melihat kepada Esta dengan sungguh-sungguh. “Jadi, apa keputusanmu itu udah bulat?” Tanyanya pada Esta.


“Nek!” Rai tidak terima.


Esta mengangguk mantap tanpa keraguan.


“Nenek memang gak berhak buat nahan kamu. Kalau keputusan kamu udah bulat, Nenek gak bisa ngomong apa-apa. Nenek cuma mau bilang, tolong di fikir lagi. Nenek gak mau kamu nyesel. Karna perceraian itu bukan perkara mudah. Itu adalah hal yang di benci oleh Allah.”


Dan Esta kembali menganggukkan kepalanya.


Melihat kemantapan niat Esta, membuat Rai semakin pias. Ia mengusap wajahnya kasar tanda kecewa. Ia tidak menyangka kalau neneknya justru akan mendukung keputusan Esta.

__ADS_1


“Maafin aku, Nek...” Lirih Esta lagi.


“Gak apa-apa. Nenek ngerti sesakit apa yang kamu alami. Kalau kamu ngerasa, pisah sama Rai bisa buat semangatmu kembali, bisa buat sakitnya hilang, Nenek gak apa-apa. Nenek juga gak tega kalau ngeliat kamu terus-terusan sakit dan hancur.”


“Nek, kok ngomongnya gitu, sih? Terus gimana sama aku?” Rai tidak terima. Ia juga merasa hancur jika berpisah dengan Esta.


Raut wajah Rai berubah terkejut saat tiba-tiba air mata sudah mengaliri pipi Esta. Gadis itu sedang menatapnya dengan penuh permohonan.


“Berhenti nyakitin aku, Rai. Ini demi kebaikan kita berdua.”


“Kebaikan apa? Aku sayang banget sama kamu, Ta. Kenapa kamu bilang kalau pisah itu yang terbaik buat kita? Selama ini kita gak ada masalah. Kenapa tiba-tiba kamu begini?”


“Cuma kamu yang nganggap kalau kita gak ada masalah. Padahal kita penuh masalah, Rai.”


“Ya ampun Ta. Aku harus gimana supaya kamu mau berubah fikiran?”


“Gak ada. Keputusanku udah bulat.”


“Arhg!” Teriak Rai. Ia hampir saja menangis. Dadanya menjadi sesak dan membuat pundaknya naik turun.


Esta masih terus terisak. Ia benar-benar ingin mengakhiri kisah mereka sampai disini saja. Dua orang yang punya luka yang sama tidak bisa bersanding membawa bahtera mereka menuju lautan kehidupan. Karna hal itu bisa membuat bahtera retak di tengah perjalanan.


Ditambah dengan gelombang lautan yang tidak pernah mendukung hubungan mereka. Mereka tidak akan bisa bertahan di tengah-tengah gempuran gelombang itu. Bahtera mereka tidak cukup kuat untuk melawannya. Mereka hanya remaja yang terlanjur melangkah ke dalam sebuah pernikahan. Sebuah jalan yang seharusnya tidak mereka tapaki.


Rai tidak sanggup melihat airmata yang terus meleleh di pipi Esta. Itu lebih membuat hatinya hancur ketimbang memikirkan kalau mereka harus berpisah. Melihat tatapan memohon itu, sungguh membuat Rai melemah. Ia tidak sanggup melawannya. Ia tidak berdaya di hadapan tatapan itu.


“Oke. Kalau itu maumu. Aku bakalan turutin semuanya. Kalau itu bener-bener bisa buat kamu kembali jadi Esta yang dulu. Kalau perpisahan ini bisa buat kamu sembuh dari kehancuran. Oke. Ayo kita lakuin itu. Tapi gak sekarang. Besok.” Ujar Rai dengan marah. Ia menghentakkan kakinya kemudian pergi ke kamarnya.


Esta merasa lega? Tentu saja tidak. Ia fikir ia akan merasa lega mendengar jawaban yang sangat ia inginkan itu keluar dari mulut Rai. Tapi nyatanya tidak. Ia hanya terpaku saja di tempatnya. Hatinya seperti sedang tersayat. Jauh lebih sakit dari saat ia memikirkan dan memutuskan untuk minta berpisah.


Padahal ia yang bersikeras dan meminta, tapi kenapa ia juga yang justru merasakan sakitnya? Bukankah ini yang ia inginkan? Berpisah dari Rai dan kembali ke kehidupannnya semula? Jadi kenapa hatinya sakit sekali rasanya?


Salamah memeluk tubuh Esta dengan erat. Seketika Esta semakin terisak. Airmatanya semakin deras mengalir. Ia tidak tau kalau keinginannya akan terasa semenyakitkan ini. Ia baru menyadari kalau melepaskan cintanya rasanya sungguh sangat menyakitkan. Hatinya semakin terkoyak dan tercabik-cabik.

__ADS_1


Tapi tetap, Esta harus merelakan Rai pergi untuk mewujudkan impian masa depannya. Ia tidak boleh memberati Rai. Pokoknya tidak boleh.


__ADS_2