
Esta sedang meringsut di pojokan ruang tamu dengan duduk sambil melipat kakinya ke belakang. Ia mencengkeram tangannya di atas kedua lututnya. Menundukkan kepala tidak berani menatap Fandi yang duduk di hadapannya.
Fandi sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruanganyang bisa di jangkau oleh matanya. Berkali-kali ia mendengus marah. Nampak sekali kalau ia sedang marah kepada Esta.
Mereka hanya berdua di dalam rumah. Sedangkan pria yang bersama Fandi tidak ikut masuk dan hanya menunggu di depan rumah.
“Mau saya buatin minum, Om?” Tanya Esta lirih. Kepalanya masih menunduk. Ia benar-benar takut bahkan hanya dengan merasakan aura Fandi saja.
“Gak usah. Gak perlu.” Hardik Fandi. “Dimana Rai?”
“Ehm, Rai,, lagi keluar, Om. Mau saya telfonkan?”
“Gak usah. Aku kesini cuma mau ketemu dan bicara sama kamu.”
“Iya, Om.”
Fandi nampak tersenyum sinis mendengarnya. Kemudian ia kembali diam dengan memperhatikan Esta lekat-lekat.
Esta merasa tatapan Fandi padanya seolah sedang menelanjanginya habis-habisan. Ia bingung mau bagaimana menghadapi Fandi. Mau minta maaf, memangnya dia salah apa?
“Anak kurang ajar itu. Bisa-bisanya nikah gak ngasih tau papanya.” Dengus Fandi.
Esta merespon dengan diam. Sama sekali tidak tau harus bicara apa. Posisinya sedang tidak memungkinkan untuk menjawab. Pria yang duduk di hadapannya itu, benar-benar menakutkan.
“Aku dengar kamu udah hamil?” Tanya Fandi kemudian. Nadanya tegas dan terdengar ketus.
“I-iya, Om.”
__ADS_1
“Hufh! Aib. Ini bener-bener aib. Kenapa gak kamu gugurin aja bayi itu? Kenapa malah minta Rai buat nikahin kamu?”
“Ya? Maksud Om?” Esta terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fandi.
“Oh, kamu pasti sengaja ya pertahanin bayi itu karna tau siapa Rai.”
Semakin di biarkan, perkataan Fandi semakin ngelantur tidak karuan. Pedas bukan main. Merasa sudah emosi, sekarang Esta berani mengangkat kepalanya dan menatap lurus kepada Fandi.
“Jaga mulut Om. Jangan sembarangan bicara kalau gak tau kejadian yang sebenernya.” Sanggah Esta. Rasa sopan santunnya sudah menguap entah kemana. Ketakutannya berubah menjadi emosi yang meluap-luap.
“Apa? Bukannya memang begitu?”
“Asal Om tau. Aku gak pernah minta Rai buat tanggung jawab apalagi nikahin aku. Sama sekali gak pernah. Anak Om sendiri yang memilih buat bertanggung jawab.”
“Ya harusnya kamu gak usah ngasih tau dia lah kalau kamu hamil anaknya. Kalau kamu gak ngasih tau dia mana mungkin dia mau tanggung jawab. Kamu sengaja kan ngasih tau dia supaya dia tanggung jawab. Licik sekali kamu ini.”
Ingin rasanya Esta berteriak dan mencakar wajah Fandi sampai hancur. Baru kali ini ia ingin menangis sejadi-jadinya mendengar hinaan yang di lontarkan orang kepadanya.
“Denger ya Om. Disini, aku yang rugi. Aku yang masa depannya hancur. Sedangkan anak Om, dia masih bisa melanjutkan cita-citanya. Gak ada yang hancurin masa depan anak Om.”
“Berani bantah ya kamu. Kamu fikir apa jadinya kalau sampai kabar pernikahan kalian sampai kesebar? Kamu mau hancurin keluargaku? Hah?! Pokoknya aku gak mau tau. Kalian harus segera pisah. Masalah masa depan anak itu, biar aku yang jamin. 100% hidupnya aku yang nanggung. Jadi tolong lepasin Rai.”
Sungguh, Esta sudah tidak bisa lagi menahan amarah. Semua yang keluar dari mulut Fandi terdengar sangat menyakitkan. Memojokkannya seolah dia yang salah dalam hal ini. Hatinya seperti terbakar emosi. Panas dan meluap-luap.
“Tolong jaga mulutnya, Om. Om bisa bilang langsung sama anak Om. Kenapa Om bilangnya sama aku? Aku sama sekali gak pernah maksa Rai buat nikahin aku. Aku juga gak keberatan kalau memang Rai mau pisah dan aku harus negrawat anak ini sendiri. Aku udah bilang sama Rai tapi Rai tetep bersikukuh buat tanggung jawab. Jadi, jangan sekali-kali Om nyalahin aku.”
“Halahh. Bilang aja kamu butuh uang kan? Gak usah malu. Sebut aja jumlahnya. Asalkan kamu mau tutup mulut dan pisah dengan Rai. Tapi awas aja kalau sampai ada yang tau tentang ini. Aku bakalan ngejer kamu sampai kemanapun.” Ancam Fandi lagi.
__ADS_1
“Kalau Om dateng kesini cuma mau ngoceh gak jelas, mending Om pergi dari sini sekarang. Sebelum aku teriak dan orang-orang dateng kesini. Biar sekalian semua orang tau kalau Rai itu anak Om.”
“Berani sekali kamu, ya! Dasar anak gak tau diri. Seharusnya kamu itu sibuk belajar di sekolah. Bukannya menggoda Rai demi untuk dapat uang. Udah jelek aja belagu. Apa cuma tubuhmu itu yang bisa kamu jadiin penggoda?”
“Cukup Om!!” Teriak Esta. Ia sudah sangat marah kepada Fandi. Nafasnya sampai naik turun demi menahan diri untuk tidak meninju wajah itu.
“Oke. Aku bakalan pergi sekarang. Tapi inget, aku bakalan terus dateng sampai kamu mau pisah sama Rai. Aku gak masalah kalau kamu mau bawa anak itu ke ujung dunia sekalipun. Asalkan jangan libatkan Rai. Jangan libatkan keluargaku. Ngerti?!”
Selesai berkata begitu, Fandi langsung berdiri dan keluar dari rumah Esta. Meninggalkan Esta yang terpaku merasakan sakitnya hati yang seolah terkoyak. Ucapan-ucapan Fandi jauh lebih menyakitkan dari tamparan dan pukulan yang pernah ia terima dari Ringgo. Setelah Fandi keluar, Esta membanting pintu dan langsung menutpnya rapat-rapat.
Fandi bukan siapa-siapanya. Fandi tidak tau betapa kerasnyaia berusaha untuk menerima keadaannya. Betapa sulitnya ia berdamai dengan diri sendiri dan menerima semuanya dengan lapang dada.
Karna itulah yang membuatnya lebih menyakitkan. Fandi yang bukan siapa-siapa dan tidak tau hidupnya, tega berbicara sekasar itu padanya.
Hati Esta sedang terkoyak dan tercabik. Sakitnya luar biasa. Membuat mata yang jarang menangis itu kini mengeluarkan air mata. Mengalir deras membasahi pipinya. Esta terisak dengan rasa sakit hati yang menggunung.
Kenapa? Kenapa semua orang menyalahkannya? kenapa semua orang memojokkannya? Sebesar itukah kesalahannya? Ini adalah sanksi sosial yang harus diterima akibat melakukan dosa besar. Tidak ada yang bisa lari dari penghakiman ini.
Seketika ia jadi membenci Rai. Kalau saja Rai tidak nekat untuk menikahinya. Kalau saja Rai tidak menyatakan cintanya, mungkin ia tidak harus merasakan kesakitan ini.
Tapi Esta kembali berfikir. Semuanya menjadi begini karna keputusannya untuk memberitahu Rai. Andai saja ia diam dan menanggung semuanya sendiri, pasti ia tidak perlu merasakan penghinaan ini.
Andaikan... Andaikan... Andaikan...
Esta membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Ia terduduk dan memeluk lututnya. Terisak dan terus terisak. Menumpahkan semua rasa sakit yang ia harap segera menghilang dari hatinya.
Namun, semakin ia mencoba untuk menahannya, maka rasa sakit di hatinya semakin menjadi. Ia tidak terima di hina oleh orang lain. Padahal orang itu tidak tau sesulit apa pilihan yang harus ia buat.
__ADS_1
“Huhuhuhuhuuhu...” Esta terus terisak tak terkendali. Ia membenamkan mulutnya di lutut agar tidak menarik perhatian orang lain untuk datang.
Gadis rapuh itu, hidupnya tak pernah berjalan mulus.