Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 96. Titik Rindu Yang Mampu Menggugurkan Rasa Marah.


__ADS_3

Pagi ini, Esta terus menguap saat rapat bersama dengan Nisa dan Giri, juga Leka, pemilik pengembang aplikasi yang sedang mengerjakan proyek bersama dengan Semesta Laundry. Ia merasa sangat mengantuk karna semalam tidak bisa nyenyak tidurnya.


“Mbak, mau tak beliin kopi?” Tawar Giri.


Esta mnegangguk. Sepertinya dia memang sangat butuh kafein untuk membuka kelopak matanya.


Giri mengangguk mengerti kemudian keluar dari ruangan Esta.


“Ehm, kalau boleh saya sarankan sih, Mbak. Lebih baik pake BA (Brand Ambassador) aja. Mbak Esta bisa menyewa jasa artis atau model. Itu akan lebih mudah menarik pelanggan nantinya.” Jelas Leka kemudian.


“Tapi dana kita mungkin gak akan mencukupi untuk menyewa model.” Ujar Esta. Ia sedang mempertimbangkan segala kemungkinannya. Mungkin ia akan untung, tapi modal yang harus di keluarkan akan cukup besar.


“Mbak bisa cari model dengan bayaran yang tidak terlalu mahal.”


Esta mengangguk-angguk. Ide itu juga lumayan.


“Silahkan Mbak Esta fikir dulu. Nanti kalau sudah fix, tolong hubungi saya.” Ujar Leka.


“Oke.”


“Kalau begitu saya permisi dulu, Mbak.” Pamit Leka sambil bangkit dari duduknya.


“Kok buru-buru?”


“Iya, soalnya masih banyak pekerjaan yang menunggu.”


Esta mengantarkan Leka sampai di depan laundry. Sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.


Saat Esta hendak masuk ke dalam, Giri tiba dengan menenteng cup berisi minuman kopi dan langsung memberikannya kepada Esta.


Esta dan Nisa kembali ke ruangan Esta. Nisa sepertinya punya sesuatu untuk di sampaikan kepada Esta. Namun gadis itu nampak ragu untuk membuka mulutnya.


“Mau ngomong apa?” Tanya Esta yang membaca gerak-gerik Nisa.


Nisa tersenyum kemudian semakin mendekat ke meja Esta.


“Buk, aku punya ide. Gimana kalau kita minta Mas Akash aja buat jadi model? Dia kan juga terkenal tuh.”


“Gak mau. Gak boleh.” Tegas Esta.


“Kenapa sih, Buk?”


“Dia itu temenku. Aku gak mau ngerepotin dia.”


“Justru itu, Buk. Punya temen terkenal itu di manfaatin. Saya rasa gak ada salahnya walaupun biayanya sedikit mehal selama itu akan menarik keuntungan ke depannya.” Rayu Nisa.


Entahlah, rasanya sangat canggung untuk meminta bantuan Akash. Ia tahu sifat pria itu. Akash pasti menolak bayaran jika ia yang meminta kerjasama.


“Okelah. Nanti coba ku tanyakan.” Ujar Esta pada akhirnya. Nisa langsung tersenyum sumringah kemudian pamit meniggalkan ruangan.


Esta masih berfikir. Apa dia harus meminta Akash? Tapi sudah bisa di pastikan kalau pria itu akan menolak bayarannya. Dan hal itu akan membuat Esta merasa canggung kepadanya.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk menelfon Akash dan bertanya.


“Ya, Ta?” Sapa Akash dari seberang.


“Dimana?”


“Lagi di rumah. Kenapa?”


“Di Jakarta?”


“He em. Kenapa? Mau kesini?” Suara Akash berubah senang.


“Ya enggak lah. Cuma mau  tanya, mau gak jadi model iklanku?”


“Serius? Beneran? Ya mau banget lah. Dengan senang hati. Gak usah bayar juga gak apa-apa.”


“Kalau gak bayar aku gak mau. Aku kerja profesional. Aku nyewa kamu sebagai model, bukan sebagai temenku.” Tegas Esta.


Akash diam. Bahkan hembusan nafasnyapun tidak terdengar.


“Kash?”


“Oke. Aku akan kasih diskon 99% khusus buat kamu.”


“Yaudah deh. Kayaknya aku gak jadi.”


“Eh, eh, eh. Kok gitu? Mainnya gak enak ih.” Akash menggerutu di seberang. “Yaudah deh, 50%. Gimana?”


“Tapi mungkin lusa aku baru bisa kesana. Soalnya besok ada pertandingan.”


“Oke.”


Dan Esta menutup sambungan telfonnya. Ia menyeruput kopinya yang sudah hampir dingin.


Esta kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mengambil pena dari kotak pensil namun kemudian tertegun memandangi pena itu.


Pena pemberian Rai. Hatinya mencelos menatapinya.


“Hhhh.” Esta menghela nafas kemudian mengembalikan pena itu ke tempatnya.


Tok, tok, tok. Pintu ruanngan Esta di ketuk dari luar.


“Masuk.” Perintah Esta.


Kali ini, Giri yang muncul dari balik pintu. Pria itu tersenyum kepada Esta kemudian berjalan ke mejanya.


“Kenapa?”


“Ehm, ada telfon dari Solo. Mereka tanya, kapan mbak Esta jadi mau kesana?” Ujar Giri.


Seketika Esta teringat dengan janjinya untuk menjenguk cabang Solo.

__ADS_1


“Ya ampun. Lupa aku.”


“Tadi juga ada telfon dari kampus R. Mereka tanya, apa mbakbisa jadi narasumber di seminar interpreneur?”


“Seminar?”


Giri mengangguk.


“Tapi aku gak biasa ngomong di depan orang banyak. Grogi aku.”


“Sesekali di coba Mbak. Itung-itung promosi gratisan. Kan lumayan.”


Ucapan Giri benar. Ia tidak bisa menyerah sebelum mencobanya kan?


“Kapan itu?”


“Hari minggu depannya.”


“Akelah. Aku mau coba.”


Giri tersenyum senang mendengar jawaban Esta. “jadi mbak kapan mau ke solo?”


“Emmm,, kayaknya belum sempat kalau dalam waktu dekat. Kita atur lagi jadwalnya nanti.”


Giri hanya mengangguk kemudian kembali keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Esta yang tetap fokus pada pekerjaanya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah kotak pensil di pojok meja.


Pena perekam itu terus menarik perhatiannya. Ada rasa penasaran yang menggelayuti dadanya. Ia teringat dengan ekspresi Rai kemarin.


Esta kembali mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya di samping laptop. Sejak kemarin, Rai tidak pernah menghubunginya. Ada setitik rindu yang muncul di sudut hati Esta. Titik yang perlahan mampu menggugurkan rasa marahnya.


Perasaan ingin memahami, kini mulai mengambil alih sebagian hatinya. Ia ingin memahami perbuatan Rai itu padanya. Namun masih ada sisa rasa marah dan malu yang ia rasakan.


Rasa malunya pada Rai tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Karna itu ia hanya bisa mengekspresikannya lewat kemarahan kepada pria itu.


Jika melihat orang lain, mengapa terlihat begitu mudah untuk berpaling dan mencari orang baru lagi? Mereka begitu mudah untuk berpindah ke lain hati.


Kenapa tidak bagi Esta? Kenapa dia selalu terjebak dengan perasaannya kepada Rai? Ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk berpaling dari pria itu. Namun ada saja yang membuatnya berbalik dan tidak bisa beralih.


Seolah hatinya sudah dipenuhi oleh perasaan untuk Rai. Bahkan perasaannya untuk Rai tidak pernah berubah sedikitpun. Ia setia dalam penantiannya kepada pria itu.


Hatinya sudah terkunci. Dan ia sudah tidak tahu cara membukanya lagi saat ada orang lain yang ingin masuk ke dalamnya. Ia sudah lupa dimana ia meletakkan kunci itu.


“Ta? Sebenernya aku gak mau kita berakhir begini. Aku udah terlanjur nyaman sama kamu. Aku udah terlanjur sayang sama kamu. Hatiku udah penuh sama kamu. Rasanya aku pengen teriak dan marah waktu kamu bilang pengen pisah. Aku bertekad buat gak akan nurutin permintaan konyolmu itu apapun yang terjadi. Tapi pas lihat kamu nangis tadi, aku jadi gak kuat. Hatiku langsung hancur pas lihat airmata yang keluar dari matamu. Aku gak kuat lihat kamu nangis.”


“Aku sayang banget sama kamu, Ta. Dan aku jamin kalau rasa ini akan bertahan selamanya buat kamu. Cintaku cuma buat kamu. Tapi kalau menurutmu ini yang terbaik buat kita, gak apa-apa. Aku ikhlas kalau kita harus pisah walaupun hatiku hancur lebur luluh lantah. Aku ikhlas melepasmu dengan satu harapan, semoga kamu bener-bener bisa bahagia setelah pisah sama aku.”


“Aku harap, kamu gak akan nangis lagi. Aku harap, kedepannya, hanya akan ada bahagia buat kamu. Tapi asal kamu tau. Aku akan kembali buat kamu, Ta. Aku janji aku akan kembali buat kamu. Aku akan membuktikan kalau perasaanku ini tulus sama kamu. Aku akan buat kamu kembali sama aku. Di belahan bumi manapun kamu nanti, aku janji aku bakalan menemukanmu.”


“Seperti yang kamu bilang kalau aku harus jadi lebih kuat. Dan setelah aku menjadi kuat, aku benar-benar akan menjemputmu. Tunggu aku, Esta. Aku sayang kamu.”


Suara dari pena perekam yang kini sudah ada di genggamannya itu kembali menggetarkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2