
Esta segera berlari meninggalkan Akash setelah melepaskan pelukannya. Tidak lupa ia menyambar tas kecilnya dari dalam kamar kemudian segera berlari ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi yang lewat.
Ia segera memberitahu alamat hotel kepada supir taksi. Tidak butuh waktu lama di perjalanan. Sekitar 20 menit kemudian, Esta sudah berdiri mematung di depan gedung hotel yang menjulang tinggi tersebut.
Gedung hotel di hiasai dengan lampu warna warni yang memperindah suasana hotel.
Esta masih berdiri di depan hotel. Entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah. Tiba-tiba hatinya di serang rasa ragu. Ia sedang berusaha untuk emnekan ego dan kemarahannya.
Sebenarnya ia tidak benar-benar marah kepada Rai. Ia hanya merasa malu karna Rai mengetahui semuanya atas nama Sena. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana tentang pengakuan Rai. Maka dari itu ia melampiaskannya dengan marah kepada pria itu.
“Huffhh..” Esta menghela nafas untuk membuang keraguannya. Kemudian mulai melangkahkan kakinya memasuki hotel.
Esta masuk ke dalam lift dan memencet angka 18. Menurut informasi dari Akash, disanalah kamar Rai berada.
Esta kembali terpaku di depan kamar dengan pintu bertuliskan angka 1801. Ia segera mengetuk pintu itu beberapa kali.
Ia sempat khawatir kalau Rai tidak ada di sana mengingat sama sekali tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam kamar. Namun ia terus mengetuknya hingga perlahan pintu itu terbuka.
“Buk Esta?” Lirih Hera. “Mari silahkan masuk, Buk.” Ajak Hera dengan sumringah.
Esta mengikuti langkah kaki Hera memasuki kamar mewah dan super besar itu. Kamar itu bahkan bersekat di beberapa titik untuk memisahkan ruang tamu dan kamar tidur. Sudah seperti rumah saja.
Di atas ranjang berukuran king size, sedang terbaring sosok Rai yang sedang tertidur dengan di balut selimut. Sepertinya Hera hanya merawatnya seadanya saja dengan mengompres pria itu. Esta bisa melihat kain kompres yang masih bertengger di kening Rai.
Nafas Esta seolah tercekat. Lebam di wajah Rai membuat hatinya teriris. Benar kata Akash, lukanya lebih parah dari luka milik Akash.
Dengan perlahan Esta duduk di samping Rai yang nampaknya belum menyadari kedatangannya. Ia memegang pipi Rai yang terasa membara bagaikan api.
“Rai?” Lirih Esta.
Di panggilan pertama itu, Rai masih belum bangun.
“Rai? Ini aku. Esta.” Imbuh Esta.
Kelopak mata Rai yang membiru itu nampak bergerak-gerak. Kali ini ia merespon panggilan Esta padanya.
__ADS_1
Dengan perlahan Rai membuka matanya walau hanya bisa setengah terbuka. Ia langsung tersenyum manis kepada Esta dengan bibir bonyoknya.
“A-ku gak la-gi mim-pi, kan?” Lirih Rai terbata.
Esta langsung menggeleng. Ia kembali mengusap wajah Rai dengan tangannya.
“Ini bukan mimpi. Aku beneran ada disini sekarang.” Esta sedang menahan laju airmatanya.
“Syukurlah. Aku fikir tadi mimpi.” Suara Rai nampak sangat lemah.
“Ayo kita ke rumah sakit.” Ajak Esta.
Namun Rai kembali menggelengkan kepalanya walaupun samar. “Aku gak apa-apa, kok. Aku baik-baik aja.”
“Badan kamu panas banget lho. Lihat keadaan kamu ini. Kita ke rumah sakit, ya?” Rayu Esta lagi.
Namun Rai hanya tersenyum. Seolah ia sudah merasa cukup dengan keberadaan Esta di sampingnya.
“Karna kamu udah disini, bentar lagi juga udah sembuh. Kamu gak usah khawatir.”
“gimana aku gak khawatir?! Kamu tau separah apa keadaanmu sekarang? Kalau kamu anak kecil aja udah ku gendong, Rai. Gak usah ngeyel. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.” Esta berubah menjadi tegas karna Rai keras kepala dan tetap tidak mau pergi.
“Maafin aku ya, Ta. Aku sama sekali gak bermaksud buat ngelukai kamu apa lagi mempermainkan kamu. Aku cuma mau tetap jadi sandaran ternyamanmu walaupun sebagai Sena.”
Sudah, airmata Esta sudah tidak bisa terbendung lagi. Malah sudah mengalir deras tanpa permisi.
“Apa itu penting sekarang? Ayo kita kerumah sakit. Ya? Kita bisa bahas itu nanti setelah kamu sembuh. Aku juga minta maaf. Aku akan maafin kamu. Aku gak akan marah lagi sama kamu.” Esta masih berusaha untuk membujuk Rai.
“Aku beneran gak apa-apa, Ta.”
“Kok kamu jadi keras kepala gini sih, Rai? Kenapa kamu begini sama aku?! Kamu tau gimana khawatirnya aku saat ini? Tolong dengerin aku. Kamu mau aku gimana supaya kamu dengerin aku?! Huhuhuhuhu. Please,, Rai....”
Rai tidak tega melihat Esta yang semakin tergugu di sampingnya. Perlahan ia mengangkat tangan dan mengusap airmata di pipi Esta walaupun tangannya gemetar menahan sakit.
“Please... Huhuhuhu.”
__ADS_1
“Jangan nangis. Iya. Aku mau ke rumah sakit. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.” Lirih Rai pada akhirnya.
Mendengar itu, tangis Esta bukan malah berhenti, tapi malah bertambah keras. Membuat Rai jadi bingung.
Sementara Hera yang memang ada di sana bersama dengan mereka sejak tadi, langsung menelfon ambulance untuk menjemput Rai di hotel. Nampak raut wajah lega dari wajah gadis itu.
Tidak lama kemudian, ambulance sudah datang dan langsung membawa Rai ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Rai sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Esta. Walaupun ia nampak memejamkan mata, tapi genggamannya sangat kuat hingga tak bisa lepas.
Esta hanya membiarkan saja Rai melakukan apapun sesukanya. Ia terus mendampingi pria itu bahkan sampai ambulance berhenti dan Rai di bawa ke UGD untuk di periksa.
Setengah jam kemudian, Rai sudah di pindahkan di kamar VIP dengan Esta yang tetap menungguinya.
Sudah lebih dari satu jam Rai tertidur pulas di ranjangnya. Sementara kantuk Esta tak kunjung muncul juga. Hanya ia yang menunggui Rai di kamar itu. Sementara Hera sibuk mengurusi urusan yang lainya.
Untuk mengusir rasa bosannya, Esta keluar dari kamar untuk menelfon Akash untuk menanyakan kabarnya. Namun pria itu tak kunjung mengangkat ponselnya. Jadi Esta memutuskna untuk menelfon Giri.
“Ya, Mbak?” Jawab Giri dengan suara berat seperti baru terbangun dari tidur.
“Udah tidur, Ri? Sorry ganggu.”
“Gak apa-apa, Mbak. Kenapa?”
“Apa Akash masih disana? Aku telfonin tapi gak diangkat.” Tanya Esta.
“Mas Akash lagi tidur. Ini aku tidur di kamar Mbak Esta nemenin dia.” Jelas Giri.
Esta menarik nafas lega mendengar penjelasan Giri. “Yaudah kalau gitu. Tolong titip dia ya, Ri. Kalau ada apa-apa, cepet telfon aku.” Pesan Esta.
“Iya, Mbak. Mbak juga hati-hati. Udah malam cepetan tidur.”
“Hehehehe. Iya. Makasih ya.”
Esta segera mematikan ponsel dan kembali masuk ke dalam kamar kemudian duduk di samping ranjang Rai. Pria itu nampak sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Ia memperhatikan wajah pria yang masih setia bersemayam di hatinya itu dengan seksama. Wajah penuh lebam itu, adalah wajah yang masih menempati seisi hatinya dan menutup lubang yang pernah menganga.
Esta mengelusi tangan Rai yang di cucuk infus dengan perlahan. Hatinya geli jika ia berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Tapi tetap, ia tidak ingin membangunkan Rai.