
Akash dan Rai sedang duduk berhadapan di ruang tamu. Mereka duduk di atas sebuah ambal dengan saling menatap tajam. Hanya Rai saja yang nampak santai menghadapi Akash sementara suasana mencekam menyelimuti seluruh ruangan.
Esta duduk di meja belajar dengan melihat kepada ke duanya secara bergantian. Ia bisa merasakan atmosfer di antara dua pria itu yang seperti kilatan petir.
Rupanya Akash melihat Rai dan Esta sejak dari minimarket. Rumah Akash yang berada tak jauh dari minimarket dan ia berencana untuk membeli sesuatu. Saat itu Akash melihat Rai dan Esta yang baru keluar dari minimarket.
Akash berniat menyapa Rai kalau saja ia tidak segera melihat Esta di belakang pria itu.
Akash terus memperhatikan sampai Esta naik ke atas motor Rai dan mereka pergi begitu saja. Ia heran kenapa mereka memarkirkan motor di depan sebuah klinik kandungan.
Ia merasa curiga dan tanpa berfikir panjang, Akash langsung mengikuti Rai dari belakang. Akash sempat kehilangan Rai sesaat setelah ia sampai di rusun. Namun ia kembali menemukan Rai saat pria itu turun untuk mengambil helm di parkiran motor.
Esta berusaha menampik kekhawatirannya dengan menggigiti kuku jarinya. Ia tidak tau bagaimana menjelaskan situasinya kepada Akash. Terlebih ia tahu bagiaman perasaan Akash terhadap dirinya.
Sebongkah rasa takut tiba-tiba menelusupi hati Esta. Ia seperti bisa melihat kehancurannya yang sudah di depan mata. Kehancuran itu sedang bersiap untuk menyambutnya.
“Siapa yang mau jelasin?” Tanya Akash dengan nada suara dingin. Ia tidak melepaskan tatapannya dari Rai barang sedikitpun. Pria itu bahkan tidak terlihat berkedip. Menyeramkan sekali.
“Kash, aku...” Esta berusaha untuk menjelaskan sedikit situasinya. Dia bisa berbohong dengan mengatakan kalau ia sedang meminta Rai untuk mengajarinya seperti yang di sarankan oleh Pak Jamil. Tapi ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Rai segera memutusnya.
“Kami udah nikah.” Jawab Rai mantap.
__ADS_1
Esta langsung terbelalak kepada Rai. Ia tidak menyangka kalau Rai akan sejujur itu kepada Akash. Ia manatap protes kepada Rai yang sempat menoleh padanya.
Pengakuan Rai membuat posisi Esta semakin sulit. Ia tahu ada sekelebat kekecewaan dari raut wajah Akash. Pria itu terkejut setengah mati. Baru seminggu yang lalu Akash menyatakan perasaan padanya dan ia harus memberitahu kenyataan pahit ini pada pria itu, sungguh malang. Esta tidak tega terhadap tatapan Akash yang bergetar menatap ke arahnya.
“Beneran?” Kali ini Akash menuntut jawaban dari Esta. Netranya masih bergetar menatap gadis yang ia sukai itu. Ia tidak akan serta merta untuk percaya begitu saja kepada ucapan Rai yang terdengar seperti sedang bercanda baginya.
Esta hanya bisa menjawabnya dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Ia sungguh tidak tega harus menyakiti perasaan Akash. Esta tidak sedang menangis. Airmata miliknya tidak bisa keluar semudah itu. Ia hanya tidak bisa manatap netra Akash yang nampak sangat kecewa juga tidak percaya padanya.
Lutut Esta sedang gemetar hebat. Apalagi saat Akash berdiri dan berjalan ke arahnya. Pria itu terdiam lama di hadapan Esta yang masih tetap menundukkan kepala.
“Lihat aku, Ta.” Lirih Akash. Suaranya jadi semakin sendu. Ia memegang kedua bahu Esta dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.
Esta memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke netra Akash. Ah, rasanya ia tidak kuat berlama-lama menatap pria itu. Jelas sekali tersirat sebuah kekecewaan disana.
“Aku bener-bener minta maaf, Kash. Aku bener-bener minta maaf.” Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari mulut Esta. Ia tidak tau cara untuk menjelaskan situasinya. Ia benar-benar tidak tega.
Mendengar jawaban Esta yang mengambang seperti itu, membuat Akash langsung ambruk di lantai. Ia berjongkok dengan tangan yang masih memegangi sandaran kursi.
“Akash!” Pekik Esta yang langsung berdiri.
Rai tidak melakukan apapun. Ia hanya bediri saja bersandar di tembok. Ia membiarkan Akash sibuk dengan kesedihan dan rasa terkejutnya. Ia tahu tentang perasaan temannya itu saat Akash secara terbuka mengakui perasaannya kepada Esta seminggu yang lalu. Dan ia tidak peduli dengan hal itu karna ia juga tidak punya perasaan istimewa kepada Esta. Hubungan mereka hanya berbatas pada bayi yang ada di perut Esta.
__ADS_1
Hal yang tidak ia harapkan hanya keberadaan Akash saat ini yang membuat semuanya menjadi semakin rumit. Ia sedang memikirkan cara untuk membujuk Akash supaya mau tutup mulut dan berada di pihaknya dan Esta. Ia tidak ingin keadaan ini kacau begitu saja karna Akash.
Lama sekali Akash berjongkok di samping kursi yang di duduki Esta. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu berdiri. Kali ini dia menatap lurus dan memaksa Esta untuk menatapnya juga. Ia mencengkeram kedua lengan Esta sampai gadis itu meringis kesakitan.
“Kenapa kamu bisa nikah sama Rai, Ta? Jelasin!” Pekik Akash dengan suara tertahan. Ia tetap tidak ingin menimbulkan keributan di tengah malam seperti ini. Mungkin karna ia menahan emosi yang bergejolak, membuat cengkeraman Akash semakin kuat di lengan Esta.
“Kamu ini apa-apaan!” Hardik Rai yang langsung menarik tubuh Akash dan menghempaskan tangan pria itu.
Akash langsung menatap Rai dengan marah. Tatapan itu merupakan sebuah tatapan kebencian yang selama ini tidak pernah tertuju kepada seorang Rai. Teman yang sangat dia percaya.
Hubungan Rai dan Akash memang bisa di katakan sangat dekat. Tidak hanya mereka berdua, melainkan ada Trio dan Danu juga. Hanya saja Danu berbeda sekolah dengan mereka. Itulah kenapa Akash merasa sangat kecewa dan marah kepada Rai saat ini. Ia ingin mendengar alasannya tapi seolah ia juga ingin menutup telinganya sekarang. Ia tidak ingin mendengar penjelasan apapun yang akan membuatnya sakit.
“Mending sekarang kamu balik aja dulu, Kash. Besok aku jelasin semuanya. Gak enak ribut malem-malem. Nanti orang-orang pada dateng. Cuma aku mohon banget sama kamu, sebelum aku jelasin se jelas-jelasnya, tolong kamu diam dulu dan jangan cerita kemana-mana. please.” Mohon Rai.
Mendengar ucapan Rai membuat Akash kembali menoleh kepada Esta. Tatapan Esta yang juga nampak sangat memohon padanya membuatnya tidak sampai hati.
“Sebaiknya kalian punya alasan yang bagus untuk ini.” Ancam Akash dengan suara yang tetap bergetar. Berat sekali hati Esta mendengarnya.
Apalagi saat pria itu berbalik dan keluar dari rumah meraka, seolah ada sesuatu yang sangat tajam sedang menusuk-nusuk hati Esta.
Akash adalah pria pertama yang tidak pernah memandang fisik buruknya. Akash adalah pria pertama yang memperlakukannya dengan baik. Bahkan sebelum Rai baik padanya. Akash adalah pria pertama yang mau berteman dengan tulus kepadanya, menatapnya dan menganggapnya ada. Dan kini ia harus menjelaskan situasinya kepada pria itu. Situasi yang pasti akan terasa sangat menyakitkan bagi Akash.
__ADS_1
“Huuffhhhh...”