
Ke esokan paginya, Esta hampir saja terlambat bangun. Untung saja ia terkejut saat anak tetangganya berteriak dan menangis tidak karuan. Ia melirik kasur yang biasa di tiduri oleh Rai dan pria itu sudah tidak ada di sana.
Nampaknya Rai sudah pergi karna tasnya juga sudah tidak ada.
Menyadari hal itu membuat Esta merengut. Ia kembali teringat dengan Akash semalam. Namun ia segera mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah.
Saat hendak mengambil tasnya dari gantungan, Esta melihat ada sebuah memo yang tertempel di meja belajar. Ia segera mengambil dan membacanya. Ternyata itu adalah sebuah pesan dari Rai.
‘aku pergi dulu.
Udah kubeliin sarapan, ambil di pintu, jangan lupa susunya.
Gak usah naik trans, nanti kamu malah ketiduran lagi.
Udah ku pesenin juga go c*r buat berangkat ke sekolah.’
Pesan singkat, padat dan jelas.
Esta heran kenapa Rai tidak membangunkannya saja dan mengatakannya secara langsung? Atau, Rai bisa menelfon atau mengiriminya pesan singkat. Entahlah, Esta tidak mengerti apa alasan Rai melakukan itu.
Saat sedang asyik sarapan, tiba-tiba ponsel Esta berbunyi, itu adalah sebuah nomor baru.
“Halo...” Sapa Esta.
“Halo, Kak. Saya supir go c*r, udah sampe di depan rusun. Kakak dimana, ya?” Tanya suara seorang pria.
“Oh, iya, sebentar ya Mas. Saya keluar dulu.” Jawab Esta yang langsung mematikan ponselnya.
Esta buru-buru untuk menyelesaikan sarapannya dan kemudian berjalan cepat keluar dari rumah. Tidak lupa ia mengunci pintu sebelum melesat menemui supir taksi.
Sesampainya di depan rusun, Esta mengedarkan pandangannya mencari mobil taksi onlinenya. Namun yang ia lihat hanyalah sebuah mobil suv mewah yang sedang terparkir di sana. Esta berfikir tidak mungkin kalau itu taksinya.
Tapi saat seorang pengemudi berusia sekitar akhir 20an keluar dari dalam mobil itu dan mengenakan jaket khas pengemudi, barulah Esta terperangah dan langsung mendekat.
“Mas, taksi?” Tanya Esta ragu.
“Iya. Ayo.” Si sopir membuka pintu kemudian membiarkan Esta masuk.
Di perjalanan, Esta memilih untuk diam saja. Ia hanya memperhatikan mobil yang bahkan interiornya nampak mewah tersebut dengan seksama. Rasanya tidak mungkin jika mobil seperti ini akan di gunakan untuk mengojek.
“Udah kelas berapa, Neng?” Tanya si sopir memecah keheningan.
“Oh, kelas 3, Mas.”
__ADS_1
“Sekolah di LB, ya?”
“Iya, Mas. Kok Masnya tau?”
“Kan itu tujuan alamatnya.”
“Oh,,,” Esta mengangguk-angguk.
“Adikku juga sekolah disana. Kelas tiga juga. Mungkin kamu kenal sama dia.”
“Siapa, Mas?”
“Akash Purnomo.”
Deg.
Kebetulan macam apa ini?
“Ooo,,, ooo,,, Ak-Akash. Ya kenal lah Mas. Temen sekelas.”
“Oh, iyakah. Wahhh... Salam kenal, ya. Aku Akmal, kakaknya Akash.” Ujar Akmal melirik Esta dari kaca spion.
“Salam kenal juga, Mas Akmal. Tapi ngomong-ngomong, udah berapa lama ngojek, Mas?” Selidik Esta. Ia benar-benar penasaran.
“Udah sekitar setahunan, sih. Cuma buat selingan aja. gabut pas berangkat ke kantor.”
“Oooh.”
Akmal menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. Saat Esta turun dari mobil, semua mata langsung melihat ke arahnya. Mereka heran kenapa Esta bisa keluar dari dalam mobil mewah seperti itu. Mereka tidak tau saja kalau itu adalah sebuah taksi online.
“Makasih banyak, Mas.” Ucap Esta ramah.
“Sama-sama. Yaudah sana masuk.”
Esta mengangguk dan membalikkan badannya. Ia sadar beberapa orang masih melihat penasaran kepadanya. Tapi Esta tidak peduli, ia hanya terus melangkah masuk ke dalam kelas.
*****
Rai bangun pagi-pagi sekali dan langsung mandi dan mengenakan seragamnya. Padahal hari masih gelap namun Rai tetap berangkat saat itu juga. Sebelumnya ia sudah memesan makanan lewat aplikasi untuk sarapan Esta.
Rai mengemudikan sepeda motornya di tengah terpaan angin pagi yang dingin. Terasa menusuki tulang-tulangnya. Tujuannya adalah rumah ayahnya. Ia ingin mengambil sesuatu.
Sesampainya di rumah ayahnya, Rai segera di sambut oleh Mang Danang yang sedang mencuci mobil di luar rumah.
__ADS_1
“Aden!” Pekik Danang kegirangan.
“Pagi, Mang.” Sapa Rai tersenyum.
“Mau ketemu Bapak?”
Rai menggeleng. Ia sama sekali tidak berniat untuk bertemu dengan ayahnya.
“Kunci mobilku dimana, Mang?”
“Ada, di dalam. Mau Mamang ambilin atau ambil sendiri?”
“Tolong ambilin ya, Mang.” Pinta Rai. Karna ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan ayahnya, apalagi istri barunya itu.
“Iya, sebentar kalau gitu. Biar Mamang ambilin.”
Mang Danang lantas masuk ke dalam rumah dan membiarkan Rai tetap berada di luar. Tidak lama kemudian Mang Danang kembali dengan sudah memegang barang yang di minta oleh Rai. Ia langsung menyerahkan kunci itu kepada Rai.
“Tumben bawa mobil, Den.”
“Lagi butuh aja, Mang.” Jawab Rai sambil melenggang santai menuju garasi.
Rai di bantu oleh Mang Danang membuka penutup mobil mi*i coo**r itu. Tidak nampak berdebu karna Mang Danang rutin membersihkannya.
Mobil itu adalah hadiah dari almarhum ibunya Rai saat Rai masuk SMA. Tepat beberapa bulan sebelum sang ibu pergi untuk selamanya. Mobil itu penuh kenangan. Maka dari itu Rai jarang sekali memakainya karna ia akan teringat dengan ibu dan kakaknya.
Tapi, sekarang ada yang menjadi prioritasnya, yaitu Esta. Ia sangat kerepotan semalam saat Esta bahkan bisa-bisanya terlelap di atas motor yang sedang melaju. Ia tidak ingin Esta tertidur seperti itu lagi. Jadi ia berfikir untuk menggunakan mobilnya saja.
“Makasih banyak, Mang.” Ucap Rai yang langsung masuk ke dalam mobil.
“Lho, beneran gak mau masuk dulu, Den? Bapak udah bangun, lho.”
Lagi-lagi Rai menggeleng sambil tersenyum. “Nitip motorku ya, Mang. Nanti kalau sempat aku ambil.”
“Oke.” Jawab Mang Danang dengan membuat tanda dengan jarinya.
Rai segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian melajukannya menuju ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, tentu saja ia menjadi bahan tontonan bagi siswa-siswa yang lain. Karna baru kali ini ia membawa mobil sendiri ke sekolah.
Saat Rai keluar dari dalam mobil, ia bak pangeran yang turun dari kuda putihnya. Rambutnya melambai-lambai di terpa hembusan angin sepoi-sepoi. Ia mengangkat tasnya dengan gaya dan pesona. Tapi tentu saja itu yang terlihat dari gadis-gadis yang mengaguminya. Padahal Rai hanya bersikap biasa saja.
Ia sempat beradu pandang dengan Esta yang juga sedang berjalan ke dalam gedung sekolah. Tapi lagi-lagi, Rai mengacuhkan Esta dan terus berjalan melewati gadis itu. Padahal Esta ingin bertanya kenapa Rai membawa mobil segala.
__ADS_1
Esta lupa kalau sekolah merupakan tempat asing bagi mereka untuk saling berbicara. Sekolah merupakan tempat yang selalu mengingatkan Esta kalau dirinya harus sadar diri dan tau tempat. Apalagi terhadap Rai.
Di sini, membuat Esta sadar kalau ia hanyalah serpihan di antara murid-murid yang lain. Ia sudah terbiasa dengan sikap acuh Rai. Ia tau itu cara Rai untuk melindungi dirinya. Tapi tetap saja, itu sedikit menyebalkan.