Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 132. Satu-Satunya Semesta Milik Rai. Sampai Maut Memisahkannya Dari Semestanya.


__ADS_3

Selesai makan malam dan menjahili istrinya, Rai mengajak Esta untuk menonton tv bersama. Menghabiskan waktu dengan bersantai begitu adalah kenikmatan dan kebahagiaannya.


Esta menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Sedangkan Rai mengelus-elus dan memainkan rambut Esta sambil fokus menonton berita di tv. Hampir seluruh stasiun tv masih memberitakan tentang kecelakaan pesawat Sky Air. Bahkan beberapa ahli melakukan wawancara dengan pendapatnya masing-masing


“Mereka itu asal jeplak aja. Bilang begini, begitu. Padahal kotak hitamnya aja belum ketemu. Gak ada yang tau kejadian sebenarnya.” Gerutu Rai kesal.


Esta mengeratkan pelukannya di perut suaminya untuk meredakan amarah pira itu.


“Ya mereka kan cuma mengira-ngira aja, mas. Biarin aja lah.”


“Tapi, si Tina udah pindah ya? Kok gak pernah kelihatan.” Pembahasan itu membuat mood Esta langsung berubah tidak suka. Ia melepaskan pelukannya dan menegakkan punggungnya di sandaran sofa.


Bibir Esta langsung manyun dengan tatapan lurus ke arah tv.


“Kenapa? Kok malah marah?” Tanya Rai yang tidak peka.


“Iya, lah. Yang kangen sama tetangga.” Dengus Esta.


“Hahahahahahaha. Kan aku cuma nanyak, sayang.”


“Sopan kah begitu? Bahas cewek lain sama istrimu? Kamu gak mikir perasaanku apa gimana sih, Mas? Tega banget.” Kini Esta sudah sepenuhnya ngambek kepada suaminya. Perasaannya kesal setengah mati.


“Hehehehehe. Maaf, sayang. Aku gak bermaksud....”


Ucapan Rai terputus karna Esta langsung meninggalkannya masuk ke dalam kamar.


Rai menggigit bibir karna merasa bersalah dengan ucapannya. Ia segera mematikan tv kemudian menyusul istrinya ke dalam kamar.


Di kamar, Esta sudah membungkus tubuhnya di dalam selimut. Ia hanya melengos begitu melihat suaminya masuk dan menghapirinya.


“Sayang, jangan ngambek. Maaf, aku salah. Gak lagi deh bahas cewek lain di depanmu. Selain Hera.” Lirih Rai.


Esta tidak mempedulikan sesal dari Rai. Ia sudah terlanjur kesal pada pria itu.


“Sayang....” Rai menarik-narik pelan selimut yang menutupi wajah istrinya sampai selimut itu tersingkap.


“Maafin aku....” Ucap Rai bersungguh-sungguh.


“Gimana perasaanmu kalau aku bahas cowok lain di depanmu?”

__ADS_1


“Perasaanku? Biasa aja sih.” Jawaban Rai terlalu sembrono. Sehingga menambah maju bibir Esta yang sudah kesal.


“Eh, maksudku, aku biasa aja karna aku percaya kalau perasaan kamu cuma buat aku seorang. Bukan aku gak cemburu lho, ya...” Rai meralat ucapannya karna ia bisa melihat bibit pertengkaran mulai muncul di antara mereka.


Kalimat itu mampu meluluhkan kemarahan Esta. Perlahan iapun tersenyum manis kepada suaminya itu.


Rai sedang menumpu tubuhnya dengan kedua lengan. Menatap dalam wajah Esta yang berada di bawah tubuhnya. Sesekali menyingkirkan helaian rambut yang tergerai menutupi wajah istrinya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat mesra di kening Esta. Mengalirkan kehangatan dikening wanita itu hingga membuatnya memejamkan mata sesaat.


Dua pasang mata yang saling menatap dalam itu, sedang terbakar hasrat yang sudah memuncak.


Esta mengalungkan kedua tangannya di leher Rai ketika pria itu melabuhkan bibirnya. Ia masih memejamkan mata untuk menikmati setiap luma tan dari suaminya. Sesekali membalasnya dengan kelembutan juga.


Kali ini, Rai tidak memaksa Esta untuk memegang minion. Ia sudah kapok. Dan tidak mau mengambil resiko mematikan itu lagi.


“Mau di pegang lagi?” Tanya Esta sambil menahan tawa.


Rai langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak. Punyamu aja yang ku pegang.”


“Hahahahahaha. Kenapa?”


“Hhahahahahahaha.” Esta hanya bisa tertawa lebar.


Rai gemas dengan tingkah istrinya itu. Ia kembali mendaratkan bibirnya di bibir istrinya untuk menghentikannya tertawa. ********** kasar namun tetap menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi Esta.


Tangan Rai sudah bergerilya menelusupi perut dan segala yang ada di sana. Meremas serta memilin puncak bukit indah milik Esta.


Tidak ada paksaan dalam aksi mereka itu. Esta justru memberikan celah bagi suaminya agar pria itu bisa melepaskan kaus yang ia kenakan dengan mudah.


Dibawah temaramnya cahaya kamar, membuat dua insan yang sedang memadu kasih itu semakin terhanyut dalam gelora kenikmatan. Luma tan demi luma tan terus diberikan oleh Rai. Memancing gairah menuju puncak.


Esta mele nguh saat Rai mencakup salah satu bukitnya dengan mulut dan mengenyutnya seperti bayi. Tubuhnya merinding namun ia merasa senang.


Kini, sudah tidak ada sehelai benangpun yang membalut tubuh keduanya. Keringat mulai bermunculan di seluruh pori-pori mereka.


Mendesah, mele nguh, mere mas, melu mat. Itu adalah sebagian hal kecil yang mereka lakukan.

__ADS_1


Rai mulai memposisikan dirinya untuk membawa Esta menuju puncak kenikmatan dunia......


(Hop! Stop! Stop! Stop!


Don trai dis et hom tanpa pasangan halal. Adegan ini hanya boleh di lakukan oleh profesional halal. Yang gak punya pasangan halal, hati-hati ya. Putuskan langsung halu kalian.


Gak boleh ngintip. Biarkan profesional beraksi.. Hahahaha.


Jadi jangan ganggu mereka yaaaa...... Biar mereka memproduksi salah satu penduduk bumi. Haaaaaaaahaaaaaaa...)


*****


Rai tidak melepaskan pelukannya dari perut Esta. Memainkan punggung Esta yang terbuka dengan jari telunjuknya. Nafas mereka masih terdengar memburu. Namun raut kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


Terlebih Rai. Ia merasa sangat puas sekali karna sudah bisa melampiaskan kerinduan minion pada labuhannya.


“Mau mandi, tapi masih capek.” Lirih Esta.


“Gak usah mandi. Berkeringat begini kamu tuh kelihatan lebih seksi.” Goda Rai.


“Hahahahaha. Dasar tukang gombal. Udah keturutan kemauannya. Jadi begitu.”


“Hehehehe. Iya dong. Bukan cuma minion yang kangen. Aku lebih kangen. Lagi yuk, sayang... Ronde kedua...” Ajak Rai dengan mengecupi tengkuk istrinya.


“Enak aja. Capeknya aja belum hilang. Gak kasihan sama aku? Udah gak punya tenaga nih, Mas.” Adu Esta.


“Hahahaha. Iya, iya. Nanti aja kalau udah hilang capeknya.”


Esta jadi mendengus dan membalikkan tubuhnya. Menatap kesal namun lucu kepada Rai yang hanya terkekeh padanya.


Rai kembali menyelipkan rambut Esta ke belakang telinga. Tatapannya berubah dalam dan serius. Esta bisa melihat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar dari sana.


“Semesta, gak ada kata yang bisa ngungkapin sebesar apa cintaku sama kamu. Aku cuma bisa nunjukin melalui perbuatan supaya kamu ngerti. Aku bener-bener sayang banget sama kamu. Cuma kamu satu-satunya Semestaku. Aku pengen kita menghabiskan waktu sampai maut memisahkan Semestaku dariku. Makasih banyak, Esta. Aku mencintaimu...” Lirih Rai.


Sesungging senyuman muncul di kedua sudut bibir Esta. Ia mengalihkan kepalanya ke dada suaminya dengan melingkarkan tangan memeluk pria itu. Aroma keringat Rai membuatnya tenang dan bahagia.


Mereka, tidak ada yang menyangka kalau akan berakhir seperti ini. Walaupun mereka terus memelihara perasaan satu sama lain, tapi Esta sama sekali tidak menduga kalau pada akhirnya, mereka kembali berlayar dalam bahtera rumah tangga.


Kali ini, Rai akan memastikan kalau bahtera mereka tidak akan terbelah dan tenggelam. Melainkan ia akan membawa bahtera itu menuju lautan lepas untuk melihat dan mengarungi keindahan yang belum pernah mereka rasakan. Kali ini Rai merasa percaya diri karna ia sudah membangun mahligai itu dengan sangat kokoh. Ia memastikan, tidak akan ada yang bisa menggoyahkannya lagi.

__ADS_1


“Aku juga mencintaimu, Rai.......”


^TAMAT^


__ADS_2