
Hari ini Esta duduk sendiri karna Rai tidak masuk sekolah. Entah kenapa ia merasa bersalah karna telah memberitahu pria itu perihal kehamilannya. Rai pasti sangat terkejut sekarang sampa-sampai dia tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Padahal Rai tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.
“Trio, kamu tau kenapa Rai gak masuk sekolah?” Tanya Pak Jamil. Ia merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu kepada murid kebanggannya itu.
“Katanya sih kurang enak badan, Pak. Padahal kemarin dia gak kenapa-napa”
“Kalian jenguk lah. Masak temen sekelas sakit di biarin aja.”
Dan seperti saran dari pak jamil tadi, setelah selesai sekolah, Tina segera mengakomodir teman-temannya untuk menjenguk Rai di kosnya. Ia mendesak Trio agar pria itu mau menunjukkan lokasi kos Trio.
“Kamu gak ikut Ta?” Tanya Tina menawari.
“ha? Ehmmm,,, enggak deh.”
“Temen sebangku kamu lo, Ta.” Desi menimpali.
Merasa tidak enak hati jika ia tidak ikut mereka menjenguk Rai. Namun ia akan merasa lebih tidak enak hati saat bertemu dengan Rai nanti. Esta kebingungan. Namun akhirnya ia memutuskan untuk tetap ikut menjenguk Rai. Ia juga ingin tau keadaan Rai sekarang. apa mungkin sakitnya parah?
Tidak banyak yang ikut untuk menjenguk Rai. Hanya gerombolan Tina saja serta teman-teman dekat Rai seperti Akash, Trio, Devan dan Deni. Esta kebagian di bonceng oleh Akash. Dan mereka langsung tancap gas menuju ke kos Rai.
Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di kos Rai dan semua segera turun dari kendaraan masing-masing. Trio mencoba untuk mengetuk pintu kamar Rai. Namun setelah berkali-kali mengetuk pintu, barulah Rai muncul kemudian membuka pintu.
Semua teman-temannya nampak terkejut dengan wajah lesu Rai yang berantakan. Begitu juga dengan Esta. Ia tidak menyangka kalau Rai akan seterpuruk ini padahal ia jelas-jelas mengatakan kalau ia tidak akan menuntut pertanggung jawaban Rai.
Rai tidak peduli dengan kedatangan teman-temannya, orang yang pertama ia lihat adalah Esta yang berada jauh di belakang mereka. Ia menatap Esta pias dengan tatapan dinginnya.
“Ya ampun Rai, kamu sakit apa?” Tanya Tina yang langsung panik saat melihat kondisi Rai yang berantakan. Ia mendekati Rai dan berniat untuk memegang dahi Rai namun pria itu langsung menggeserkan kepalanya.
“Kenapa kalian kesini?” Tanya Rai dengan nada malas.
“Ya mau jenguk kamu, lah.” Jawab Akash.
Rai nampak menyeret kakinya untuk masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di kasur. Hanya Tina dan Trio yang menemani Rai masuk kedalam. Sementara yang lain tetap menunggu di luar, termasuk Esta.
__ADS_1
Esta bahkan tidak berani bahkan untuk sekedar melirik ke dalam kamar Rai. Ia takut jika Rai melihatnya dan tatapan mereka bertemu.
Keadaan ini sungguh tidak nyaman bagi Esta. Ia merasa serba salah dengan situasinya. Tiba-tiba ia menyesal telah memberi tau Rai. Secara tidak langsung ia yang telah membuat Rai sakit. Harusnya ia mempertimbangkan keputusan itu lagi sebelum membicarakannya. Sekarang Rai pasti sangat terkejut dan bingung.
Esta memainkan bibirnya sambil melukis sesuatu di tanah dengan kerikil panjang. Dengan fikiran yang semakin semrawut, Esta sama sekali tidak berani mendongakkan kepalanya.
Sementara dari dalam kamar, Rai terus melirik ke arah Esta saat ada kesempatan. Ia hampir tidak mendengarkan saat Trio dan Tina mengoceh karna mengkhawatirkan keadaannya.
“Kenapa gak pergi ke rumah sakit aja, muka kamu pucet banget lho, Rai. Aku antar ke rumah sakit, ya?” Ujar Tina.
“Aku gak apa-apa kok. Cuma capek belajar, gak usah berlebihan.” Dengus Rai.
“Tapi kamu beneran kacau banget lo. Udah minum obat?” Tina begitu antusias untuk menunjukkan perhatiannya kepada Rai. Ia sedih melihat wajah Rai yang kusam itu.
“Udahlah, kalian pulang aja. Aku mau istirahat.” Usir Rai terang-terangan.
“Beneran kamu gak apa-apa di tinggal sendiri?”
“Oke lah kalau begitu. Kami balik dulu.” Ujar Trio yang langsung memotong saat Tina baru membuka mulut. Tina masih enggan untuk meninggalkan Rai.
Rai hanya mengangguk pelan dan kembali melihat ke arah luar. Ia menatap jengah kepada Esta namun rasa menyesal itu semakin tumbuh membumbung di hatinya. Ia seperti marah saat melihat Esta yang nampak baik-baik saja. Ia bertanya-tanya kenapa Esta sama sekali tidak terganggu dengan kehamilannya padahal mereka masih sekolah. Seharusnya ini menjadi malapetaka bagi mereka berdua.
Seharusnya Esta panik, kan? Dalam kasus ini, dialah yang paling di rugikan. Apa yang ada di fikirannya? kenapa dia nampak santai begitu?
Sepeninggal teman-temannya, Rai kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyadari kalau wajahnya benar-benar berantakan. Setelah mandi dan berganti pakaian, Rai segera memacu sepeda motornya menuju ke kawasan Jatinegara. Ia sedang menuju ke rumah nenek dari pihak ibunya.
Setelah sampai disana, Rai langsung saja di sambut oleh Om Pras yang memang tinggal disana untuk merawat sang ibu yang sudah renta dan sakit-sakitan. Prasetyo adalah adik bungsu dari mendiang ibu Rai dan hubungannya dengan Rai juga cukup akrab. Rai lebih terbuka kepada Pras ketimbang kepada ayahnya sendiri.
“Wiiih, tumben kamu, udah seminggu gak kelihatan batang hidungnya.” Seloroh Pras menyambut kedatangan keponakannya itu.
Rai hanya tersenyum tipis kemudian menyalami omnya. “Nenek mana, Om?”
“Ada, di dalam. Lagi nonton kayaknya.” Jelas Pras.
__ADS_1
Rai segera masuk ke dalam rumah mewah itu dan langsung menuju ke ruang santai biasa neneknya berada.
“Nek,,,” sapa Rai dan langsung menyalami neneknya.
“Uh, baru nongol aja kemana sih?” Protes Salamah, nenek Rai.
“Gak sempat mampir, Nek. Banyak tugas sekolah. Lagian kan udah mau ujian juga.” Jelas Rai kemudian.
“Udah makan?”
Rai menggeleng. “Belum.”
“Buruan makan, Bik Sal masak semur ayam kampung.”
Rai langsung tersenyum dan beranjak ke dapur. Ia langsung mengambil piring dan lauk kemudian menikmatinya di meja makan. Dia bahkan tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan dua porsi makanannya karna memang sejak kemarin sore ia belum makan sama sekali.
Setelah menyelesaikan makanannya, Rai kembali bergabung dengan neneknya dan juga Om Pras yang kini ikut nimbrung menemani sang ibu.
“Udah selesai makannya? Cepet banget.” Ujar Pras.
“Udah gak muat. Tante mana, Om?” Rai menanyakan istri Prasetyo yang merupakan seorang pramugari.
“Lagi jadwal terbang.” Jawab Pras.
Selebihnya, mereka mengobrol ringan seputar kegiatan sekolah Rai. Saat berada di rumah neneknya, Rai seperti bisa melepas semua permasalahannya. Seolah semua kekhawatirannya sedang menghilang ke suatu tempat dan hanya menyisakan ketenangan saja.
Bukan tanpa maksud Rai datang kesana, ia ingin mengakuiperbuatan gilanya kepada nenek dan Om Pras serta meminta pendapat mereka apa yang sebaiknya dia lakukan. Karna ia tidak sanggup jika harus berfikir sendiri,
kepalanya terasa mau meledak karna ia tidak punya jalan keluar.
Biar bagaimanapun, meminta pendapat orang yang lebih dewasa adalah sikap bijaksana yang di ambil Rai. Ia tau kalau ia pasti akan di marahi habis-habisan oleh Salamah dan Om Pras. Namun itu sepadan dengan apa yang sudah dia perbuat sehingga ia pantas menerimanya.
Ia siap.
__ADS_1