Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 46. Kehangatan Keluarga Yang Membuat Hati Pias.


__ADS_3

Rai membiarkan saja Esta sibuk dengan buku pelajaran. Sementara ia berguling di tempat tidur sambil menatapi ponselnya. Apalagi kalau bukan menatapi pemilik senyum hangat yang ada didalamnya.


Namun sepuluh menit kemudian, Rai bisa mendengar hembusan nafas Esta yang sudah teratur. Saat ia menoleh ke arah meja, ia mendapati Esta yang sudah tertidur dengan beralaskan buku di pipinya.


Langsung saja ia bangun dan mendekati Esta. Ia melihat wajah Esta dengan seksama dalam jarak yang sangat dekat. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah terlelap.


Perlahan Rai menelusupkan tangannya di paha dan punggung Esta. Ia membopong Esta dan menidurkannya di tempat tidur.


Dasar Esta. Mendapat gangguan seperti itupun ia tidak terbangun. Padahal tadi katanya mau belajar. Tapi dia malah tertidur pulas begitu.


Perasaan Rai sedang berdesir. Apalagi saat ia menatap lekat wajah terlelap itu dalam jarak dekat. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup kening Esta.


Cup.


Sebuah kecupan pelan namun menimbulkan dampak luar biasa di hati Rai sendiri. Seolah sedang ada aliran listrik yang mengaliri jantungnya.


Malam itu, Rai memberanikan diri untuk tidur di bawah satu selimut bersama dengan Esta. Hal yang tidak pernah mereka lakukan kalau di rumah. Karna di kamar itu, hanya ada satu selimut dan Rai tidak cukup berani untuk meminta selimut tambahan kepada Mang Bardi. Ia takut neneknya bertanya macam-macam.


*****


Esta mengedipkan matanya menatapi wajah tampan yang sedang terpejam di hadapannya. Ia pasti sedang bermimpi saat melihat wajah Rai berada sangat dekat seperti itu. Karna sangat tidak mungkin itu ada di dunia nyatanya.


Namun saat pria itu bergerak, barulah kesadarannya kembali. Ia langsung terduduk dan menatap Rai tidak percaya. Tiba-tiba ia teringat akan malam menggairahkan itu. Langsung saja Esta menelisik setiap tubuhnya.


Ia baru bisa bernafas lega saat melihat bahwa pakaiannya masih lengkap menempel di tubuhnya. Dengan tidak sengaja, ia memukul lengan Rai dengan kuatnya untuk melampiaskan kekesalannya.


“Au! Apa siih?” Tanya Rai yang terkejut mendapat serangan tiba-tiba.


“Kok kamu tidur disini sih, Rai?”


“Ya memangnya kenapa? Gak usah heboh gitu deh.” Ujar Rai sambil beralih membelakangi Esta. Ia melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


Esta tidak peduli. Ia hanya langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah sarapan, Esta menemani nenek dan Citra berjalan-jalan di sekitar kebun teh yang ada di dekat villa. Membiarkan Rai yang masih sibuk dengan mimpi dan gulingnya.


Ketiga wanita itu bahkan membantu pekerja yang sedang memetiki daun teh disana.


Esta baru tau kalau kebun itu merupakan kebun milik keluarga nenek Rai. Sudah di wariskan secara turun menurun di keluargnya. Tadi Salamah yang menceritakannya. Karna itu mereka sesekali datang untuk sekedar melepas penat dari rutinitas ibu kota.


“Esta, kalau kamu ngerasa gak nyaman tinggal di rusun, kalian bisa pindah ke rumah Nenek.” Ujar Salamah saat mereka sedang beristirahat dan duduk di rerumputan.


“Gak apa-apa kok Nek. Aku nyaman di rusun.”


“Tapi, Rai baik kan sama kamu? Dia gak pernah marah kan sama kamu?” Salamah sedang menyelidiki rumah tangga pengantin baru itu.


“Rai baik kok, Nek. Aku gak pernah lihat dia marah. Belum, hehehehe.”


“Kalau dia marah-marah, langsung lapor sama Nenek ya, Ta. Biar Nenek yang nampol itu mulut suka marahnya. Hehehehe.”


“Hehehehe. Iya, Nek. Emangnya dia suka marah-marah, Nek?”


“Aku belum pernah lihat sih Nek. Semoga aja gak pernah.”


“Dia gak akan marah tanpa alasan yang jelas. Tapi untunglah dia baik memperlakukan kamu. Padahal Nenek sempat kahwatir karna dia model orangnya gak pedulian sama orang lain.”


“Dulu memang dia gak peduli sama sekali, Nek. Jangankan sama aku, sama temen-temen yang lain juga begitu kalau di sekolah. Tapi sekarang dia udah gak acuh lagi kok. Malah kalau di rumah cerewetnya minta ampun. Apalagi pas maksa aku buat belajar, beuuh, nyebelin pokoknya.” Adu Esta. Ia merasa nyaman mengadukan semua penindasan yang ia terima dari Rai kepada neneknya.


“Wwaaaaaaaaaaa!!!!!!!!”


Esta dan Salamah langsung melihat ke arah pekikan suara. Begitu juga dengan para pekerja yang sedang memetik daun teh. Mereka semua melihat kepada Citra yang sedang berlari tunggang langgang tak tentu arah.


“Kenapa?” Tanya Pras yang mengejar istrinya dengan wajah panik.

__ADS_1


“Ulattttt!!!!!!” Pekik Citra dengan masih berlari. Ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk menyingkirkan ulat yang menempel di tubuhnya. Ia masih berlari tak tentu arah.


Setelah berusaha keras untuk menyusul istrinya, akhirnya Pras berhasil menghentikan Citra. Ia memegang kedua bahu Citra danmeminta istrinya itu untuk tenang.


“Di mana ulatnya?”


“Di-di-di,, sana.” Citra menunjuk arah dengan wajah yang pucat pasi.”


Dengan gemas Pras melepaskan tangannya. Ia fikir ulat itu menempel di tubuh istrinya. Rupanya Citra hanya melihat ulat itu saja saat ia memetik daun teh tadi. Pras jadi ikutan heboh karna melihat Citra heboh.


“Aku kira nempel di badanmu!” Dengus Pras kesal.


“Geli tau, Mas. Gede banget ulatnya. Mana gak ada bulunya lagi. Hiiiii.” Citra bergidik ngeri.


“Besar mana sama yang ada di iklan?”


Plak!!


Alhasil Citra melayangkan pukulan di pundak suaminya. Sudah geli dan takut, malah di ejek sekalian. Siapa yang tidak kesal?


Pemandangan itu berhasil memantik tawa dari semua yang melihat. Tidak terkecuali Esta dan Salamah yang sampai terkekeh hingga memegangi perut mereka.


“Ya ampun. Udah tua masih kayak anak-anak aja.” Ujar Salamah.


Sungguh pemandangan yang mampu menghilangkan stres akibat lelahnya pekerjaan di tengah teriknya matahari. Para pekerja juga nampak tertawa lepas akibat kelakuan absurd dari Citra. Ternyata di balik keanggunannya salam bersikap, tetap memiliki sisi menggelikan di dalam dirinya.


Esta dan Salamah masih terus terkekeh geli. Namun tiba-tiba ia berhenti tertawa saat tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh ke punggung tangan Esta. Ia menatap dalam benda tidak berbulu dan berwarna hijau yang sedang menggeliat-geliat kemudian berjalan menyusuri punggung tangannya, tanpa ekspresi.


Kemudian Esta mendongak dan melihat ke arah manusia yang dengan sengaja meletakkan ulat besar itu disana. Di sampingnya, Rai sedang berdiri dan tersenyum geli menunggu reaksi apa yang akan terjadi kepada Esta setelah ia meletakkan ulat itu.


Esta tetap menatap Rai tanpa ekspresi. Menatap kosong dan...

__ADS_1


“Esta!!!!” Pekik Rai dengan panik dan segera menangkap tubuh Esta yang lunglai.


Seketika semua orang menjadi panik. Terlebih Rai. Ia menyesal setengah mati telah mengerjai Esta dengan menaruh ulat itu di tangannya. Dia bahkan hampir menangis saat melihat Esta tidak sadarkan diri. Gadis itu pasti sangat terkejut dengan perbuatannya.


__ADS_2