
Udara di dalam ruangan itu terasa semakin menipis. Namun itu hanya di rasakan oleh Fandi yang hatinya sedang di kerumuni oleh kemarahan dan rasa tidak terima.
“Aku, gak pernah meminta kepada Allah untuk menjemput kedua orangtuaku dengan sangat cepat, Om. Begitu juga dengan Rai. Dia juga gak bisa memilih untuk lahir di keluarga yang seperti apa. Om mau tau apa yang membuat Om sama kayak pamanku?”
“Kamu ini ngomong apa? Gak jelas!” Hardik Fandi.
“Pamanku, hanya menganggap aku sebagai barang untuk memuaskan nafsunya. Dan Om, hanya menganggap Rai sebagai objek yang harus menuruti semua kemauan Om. Kalian gak pernah peduli tentang perasaan kami, tentang rasa sakitnya kami. Di usia yang begitu muda, kalian udah menorehkan luka yang sangat dalam di hati kami.” Lirih Esta. Raut wajahnya berubah sedih. Ada genangan airmata yang perlahan muncul di pelupuk matanya.
“Tamparan di pipi? Itu sama sekali gak seberapa, Om. Tendangan? Itu sama sekali gak terasa sakit. Lebamnya bakalan sembuh setelah dua hari berlalu. Tapi apa Om tau betapa sakitnya hati Rai? Luka di hati Rai sangat dalam. Dan dia bersusah payah buat nyembuhin diri sendiri dengan semua ketidak berdayaannya di hadapan Om. Dia masih menghargai Om sebagai papanya.”
Fandi hanya terdiam saja. Ia ingin menyangkal, tapi hatinya melarangnya untuk melakukannya.
“Rai sangat merindukan sosok papanya yang selalu bermain dengannya. Dia rindu papanya yang membelikannya banyak sekali model mainan pesawat buat dia. Dalam lukanya, Rai merindukan pelukan dari Om. Tolong, Om. Sekali aja. Cuma sekali aja tempatkan diri Om di posisinya dan rasakan kesedihan dan sakitnya. Maka Om akan memahami kenapa Rai bersikap begitu angkuh sama Om.” Jelas Esta lagi. Dan Fandi masih terdiam. Mengunci mulutnya rapat padahal suaranya sudah berada di tenggorokan.
“Udah saatnya Om dan Rai saling memaafkan. Biar gimanapun, ikatan darah antara Om dan Rai, gak akan pernah bisa terputus. Dan tentang aku, Om. Aku memang hidup tanpa kedua orang tua. Itu karna Allah udah memanggil mereka lebih dulu. Tapi aku gak pernah menyalahkan siapapun atas jalan hidup yang udah digariskan buat aku. Aku terima dan aku peluk semua luka itu. Jadi Om, udah saatnya buat Om memeluk Rai dan nyembuhin semua lukanya.”
Fandi masih terdiam. Semua yang terusap dari bibir wanita yang ada dihadapannya itu, sangat menohok dan menampar kesadarannya.
Selama ini memang Fandi tidak pernah memposisikan dirinya di posisi Rai. Ia tidak pernah memikirkan betapa Rai merasa sangat kehilangan ibu dan kakak yang sangat dia sayangi akibat perselingkuhannya. Selama ini Fandi hanya merasa benar sendiri. Ia merasa benar karna harus memperjuangkan cintanya kepada wanita yang menjadi selingkuhannya. Karna memang pernikahan mereka tidak di landasi oleh cinta, melainkan karna perjodohan belaka.
Berkat Esta, kini ia menyadari kalau perbuatannya selama ini sudah menorehkan luka yang begitu dalam kepada putra semata wayangnya itu. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat sakit dan merasa tertampar. Pun ia malu dengan kebijaksanaan Esta yang jauh melampaui dirinya. Padahal dari segi umur, ia jauh lebih tua darinya.
“Aku cuma mau bilang itu aja kok, Om. Aku bukan mau meminta persetujuan sama Om. Maaf kalau aku terkesan menggurui dan membuat Om Fandi tersinggung. Aku cuma gak mau ngelihat Rai terus berkalut luka dari Om. Aku pengen nikahin pria yang udah terbebas dari rasa sakit. Mudah-mudahan Om Fandi bisa memaklumi maksudku ini.” Lirih Esta kemudian.
“Kalau gitu, aku permisi dulu, Om. Semoga Om sehat-sehat sampai masa hukumannya berakhir.” Ujar Esta yang sudah berdiri dan mengangguk sopan kepada Fandi.
“Tunggu!” Panggil Fandi.
Esta menghentikan langkah dan kembali menoleh kepada Fandi.
__ADS_1
“Sekarang aku ngerti kenapa Rai bersikeras buat menjatuhkan pilihannya sama kamu. Rupanya kamu gadis yang luar biasa. Berbeda dengan orang lain, luarmu memang nampak buruk dan gak sempurna. Tapi di dalam, kamu bersinar.” Lirih Fandi mengalahkan semua keegoisan yang selama ini ia tahan.
Di depan Esta, Fandi sedang mengakui kekalahannya. Hatinya terketuk mendengar semua penuturan wanita itu. Padahal selama ini hatinya sudah mengeras dan bangga dengan pembenarannya sendiri. Ia merasa malu dengan kedudukan dan status yang selalu di agung-agungkannya.
“Tolong bilang sama Rai, kalau dia punya waktu, suruh dia nemuin aku. Aku menunggunya.” Lirih Fandi pada akhirnya.
Esta melayangkan sebuah senyuman kelegaan kepada Fandi. Ia mengangguk senang. “Baik, Om. Nanti aku sampain sama dia.”
Esta keluar dari ruangan Fandi dengan senyum kepuasan. Memandang Rai yang menatapnya penuh keresahan.
“Mau masuk lagi? Papamu pengen ngomong lagi sama kamu, Mas?” Esta memberitahu.
Rai nampak berfikir sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Nanti aja, kapan-kapan.”
Esta mengangguk menghormati keputusan Rai. Lantas merekapun pergi dari kantor polisi dengan melewati jalan belakang yang sebelumnya.
“Aaaahhhhhh. Leganya aku... Kayak batu besar yang ada di dadaku udah di angkat.” Seloroh Esta di dalam mobil. Ia merenggangkan kedua tangannya untuk membiarkan kelegaan di dadanya mengalir ke setiap pembuluh dadanya.
“Emangnya kamu gak nguping, Mas?” Tanya Esta sambil tersenyum. Karna tadi Rai sedang menempelkan telinganya di daun pintu saat dia keluar dari ruangan.
“Aku nguping, tapi gak bisa denger dengan jelas.” Keluh Rai.
“Hahahahaha. Uluh, uluh, kasiannya kesayanganku ini.” Ujar Esta membelai pipi Rai lembut.
“Mas, kamu bawa cincinnya, gak?” Tanya Esta kemudian.
“Cincin? Kenapa?”
“Sini, aku minta sekarang. Soalnya semua beban di dadaku udah menghilang. Dan sekarang aku siap buat nerima lamaran kamu.”
__ADS_1
Rai menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menoleh kepada Esta dengan tatapan tidak percaya yang di selimuti oleh kebahagiaan.
“Kamu serius, Sayang?”
Esta mengangguk sambil tersenyum.
Rai juga tersenyum hingga menampakkan deretan gigi-giginya. Dan dengan secepat kilat ia menarik tubuh Esta kedalam pelukannya. Merengkuhnya dengan sangat erat.
“Makasih, Sayang. Makasih banyak.” Lirih Rai yang sedang merasa bersyukur.
“Tapi, ada tapinya nih. Kamu juga harus selesaiin urusanmu dengan papamu.”
Rai mengangguk setelah melepaskan pelukannya. “Janji.” Ujarnya memberikan kepastian. “Ya Allah... Makasih, ya Allah...” Desis Rai sambil kembali memeluk Esta dan memejamkan matanya. Membelai belakang kepala wanita itu dengan seluruh kebahagiaannya.
Rai kembali melanjutkan mobilnya menuju ke kantornya. Ia akan membawa Esta kembali ke kantornya dan meminta Esta untuk menunggunya sebentar.
Awalnya Esta menolak, namun Rai terus meminta dengan tatapan memohonnya dengan alasan kalau cincinnya ada di laci meja kantornya. Jadilah ia menyetujui keinginan Rai saja.
“Kamu suka gak kalau aku lamar di depan umum?” Tanya Rai tiba-tiba.
Esta langsung menggeleng. “Enggak.”
“Kok enggak? Di drama-drama itu kayaknya cewek suka banget di lamar begitu. Katanya romantis.”
“Ya itu kan di drama. Kalau gak romantis, mana ada yang nonton. Padahal aslinya, cewek gak suka di gituin.”
“Jadi kamu sukanya yang gimana?” Sebenarnya Rai sedang menyelidiki sesuatu.
“Kalau aku, ehhmmm. Cukup romantis berdua aja. Gak perlu jadi konsumsi publik. Itu lebih ngena sih menurutku.”
__ADS_1
Rai mengangguk-anggukkan kepala. Di fikirannya sudah tersusun berbagai rencana manis untuk sang calon istri.