Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 80. Dua Harapan Namun Bertolak Belakang.


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan oleh Esta, kalau pada malam tahun baru ia akan berangkat ke kota Jogja untuk ikut menghadiri reuni akbar Lentera Bangsa di sana. Jadi sejak pagi ia sudah sibuk menata pakaiannya untuk ia bawa.


“Ri, tolong pesenin tiket travel dong.” Perintahnya kepada Giri yang sedang membantunya.


“Udah saya pesankan, Buk.” Jawab Nisa.


“Ooh, udah? Makasih ya Nisa.” Ujar Esta kepada sekretarisnya itu.


“Mbak, mbok beli mobil gitu. Biar gak susah kemana-mana. Jadi aku bisa nganter mbak kemana-mana.” Giri melayangkan protesnya.


“Iya, Buk. Masak ibuk kemana-mana ngojek.” Nisa menimpali.


“Kan udah ada mobil.”


“Itu mobil laundry. Maksudnya itu mobil pribadi biar mbak gak susah keman-mana.”


“Aku gak susah kok. Ngojek itu gampang dan mudah.” Esta membela diri.


Giri dan Nisa hanya bisa saling pandang saja. Mereka tetap tidak bisa membujuk Esta.


Memang, Esta lebih suka kemana-mana dengan ojek atau taksi atau angkutan umum lainnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk membeli mobil.


Tidak berapa lama kemudian, mobil travel datang untuk menjemput Esta. Ia tidak membawa banyak barang. Karna ia hanya akan menginap selama dua hari disana. Giri membantu membawakan tas Esta dan meletakkannya di bawah kursi Esta.


Giri dan Nisa melepas kepergian Esta sambil melambaikan tangan. Selama Esta pergi, semua kebutuhan laundry akan di handle oleh Nisa.


Di perjalanan, Esta berusaha untuk tidur. Tapi fikriannya terus saja melambung kepada seorang pria yang di rindukan oleh hati kecilnya. Mantan suami singkatnya.


Jujur, hatinya bergetar saat membayangkan kalau ia akan bertemu dengan rai. Sudah beribu kali ia membayangkan seperti apa rai sekarang. Beribu kali juga ia membayangkan pertemuan pertamanya dengan pria itu setelah tidak bertemu selama lebih dari 10 tahun lamanya.


“Mau kemana, Mbak?” Tanya seorang pria yang duduk di sebelahnya.


Pria tampan berkacamata dengan lesung pipi itu tersenyum kepada Esta. Nampaknya ia sedang mencoba mengusir rasa bosan di dalam perjalanan panjang mereka.


“Oh, mau ke Jogja, Mas.” Jawab Esta berusaha bersikap ramah.


“Oh, sama dong. Asli Jogja apa gimana?”


“Enggak. Ke sana cuma mau main aja. Kebetulan ada reuni akbar dari sekolah.”


“Wah. Sama lagi. Saya juga kesana mau ikut reuni akbar. Mbaknya dari sekolah mana?” Tanya pria itu kemudian.


“Dari Lentera Bangsa, Jakarta Mas. Angkatan 31.”

__ADS_1


“Walah. Sama dong kalau bagitu. Saya juga dari LB. Angkatan 26.” Pria itu langsung sumringah.


“Wah. Rupanya Masnya kakak kelas to. Salam kenal, Mas.”


Pria itu tersenyum. Ia mengulurkan tangan yang kemudian di sambut oleh Esta.


“Saya, Oza.” Pria itu memperkenalkan diri.


“Saya Semesta, Mas. Biasa di panggil Esta. Wah. Gak nyangka bisa bareng sama kakak kelas.” Seloroh Esta.


Perkenalan itu membawa Oza dan Esta saling mengobrol di sepanjang perjalanan. Oza banyak menceritakan pengalamannya saat masih sekolah di LB. Ia tipe pria ramah dan suka bercanda. Perjalanan itu jadi tidak membosankan.


“Di Semarang tinggal di mana?” Tanya Oza lagi.


“Daerah Malang**i, Mas. Kalau mas Oza?”


“Saya tinggal di daerah Kalis**i. Deket tempat kerja” jelas Oza kemudian.


“Oooh. Jadi gitu.”


“Hehehe. Iya.” Jawab Oza tersipu malu. “Kalau kamu? Kerja dimana?”


“Saya cuma kerja di laundry mas. Di Semesta Laundry.” Jawab Esta merendah. Ia tidak mengatakan kalau ialah pemilik Semesta Laundry itu.


“Oh ya? Wah. Ternyata banyak kebetulannya ya mas.” Esta semakin senang bisa berkenalan dengan pelanggan setianya itu.


“Semesta Laundry......” Oza nampak berfikir. “Jangan bilang kalau itu punya kamu?!” Pekik Oza curiga.


“Hhehehehe.” Esta malu mengakuinya. Ia tidak ingin terlihat seperti orang sombong.


“Hahahahahaha. Ya ampun. Udah tetangga, satu alumni, dan ternyata aku langganan di laundrymu. Luar biasa. Hahahahahahaha. Rupanya Semarang sesempit ini.” Oza nampak sangat senang.


“Iya ya Mas. Gak nyangka banget lho.”


Sekitar 4 jam berlalu dan travel sudah memasuki Daerah Istimewa Yogjakarta. Dan kini sudah saatnya bagi Esta dan Oza untuk berpisah. Oza turun di sebuah hotel yang akan di adakan reuni malam ini. Ia menginap disana. Sementara Esta turun di rumah Putri yang ada di daerah Tim**o.


Rumah Putri nampak sepi. Gadis itu sepertinya sedang tidak ada dirumah. Membuat Esta mendengus kesal. Padahal ia sudah memberitahu kalau ia akan datang.


Esta mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Putri.


“Dimana? Aku udah nyampe rumah ini.” Ujar Esta.


“Lagi beli makan. Bentar ya.” Jawab Putri dari seberang telfon.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Putri sudah datang dengan mengendarai sepeda motornya. Ia menenteng beberapa makanan untuk dirinya dan Esta. Hari ini ia sedang malas memasak, jadilah ia membelinya saja.


“Udah dari tadi?” Tanya Putri yang langsung membuka pintu gerbangnya.


“Belum lama, kok. Banyak amat beli makanan?” Esta heran melihat banyak bungkusan yang di bawa oleh Putri.


“Kalap aku. Laper mata. Hehehehehe.” Bela Putri.


Esta dan Putri lantas masuk ke dalam rumah. Esta meletakkan tas kecilnya di salah satu kamar yang biasa ia gunakan jika sedang menginap di rumah Putri. Ia merebahkan tubuhnya sebentar di atas kasur sebelum keluar dan bergabung dengan Putri yang sudah bersiap untuk melahap makanannya di meja makan.


“Ayo makan dulu.” Ajak Putri.


“Waaahhh...” Esta terbelalak melihat betapa banyaknya makanan yang di beli oleh Putri.


Di atas meja makan, sudah ada dua bungkus sate kambing. Dua porsi ayam geprek. Lontong sayur. Gorengan bakwan dan tempe, molen, dan beberapa camilan kecil lainnya.


“gila. Ini kalap apa rakus?” Dengus Esta yang malah membuat Putri terkekeh saja. “Siapa yang bakalan ngabisin ini semua?”


“Ya kita lah. Siapa lagi.” Putri asyik menyantap ayam gepreknya.


“Jam berapa acara malam ini?” Tanya Esta.


“Jam 7.”


“Di hotel XX, kan?”


Putri mengangguk. “Kabarnya mereka bakalan ngadain pesta kembang api di rooftop. Pasti seru.”


Esta mengangguk setuju. Ia berfikir pasti acara malam ini akan sangat menyenangkan. Ia juga bercerita tentang pertemuanya dengan Oza. Yang ternyata merupakan alumni yang sama dengan mereka.


“Ganteng?”


“Dasar. Kamu itu mulu yang di tanyain.” Dengus Esta.


“Aku udah kebelet merrid, Ta. Cuman jodoh aja yang belum menampakkan hilalnya.” Putri berseloroh bak pujangga yang sangat merindukan sosok pendamping.


“Makanya jangan pilih tebu. Dapet yang bongkeng baru tau rasa.”


“Justru pilih-pilih biar gak dapet yang bongkeng. Hehehehehe. Daripada kamu. Diem-diem aja. Masih ngarepin mantan?”


Esta langsung menatap tajam kepada Putri. Gadis itu langsung merasa tidak enak. Tapi karna sudah terlanjur, jadi sekalian saja di bahas.


“Ada yang bilang kalau malam ini Rai bakalan dateng ke reuni. Tapi cuma kabar burung sih. Gak tau bener apa enggak.”

__ADS_1


Esta tidak menanggapi. Ia hanya mengunyah daging sate yang baru mendarat di mulutnya. Ia berharap bisa bertemu dengan Rai. Tapi ia juga berharap untuk tidak pernah bertemu dengan pria itu kembali. Entahlah, seolah hati Esta terbagi menjadi dua.


__ADS_2