Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 19. Dipaksa Dewasa Oleh Perbuatan.


__ADS_3

Mungkin karna memang Esta masih bocah, saat malam terus berjalan, yang ada di fikirannya hanyalah, bagaimana dengan pekerjaannya? Ia khawatir jika Pakde Karya akan memarahinya karna tidak masuk bekerja tanpa memberitahu lebih dahulu.


Jadi saat Rai sedang bercengkerama bersama dengan Salamah dan Citra, Esta hanya bisa melamun saja. Sementara Gus Kholiq sudah di antarkan pulang oleh Pras ke Pondok Pesantren Darussa’adah.


“Malam ini nginep disini aja ya, Esta?” Tawar Citra.


Esta yang masih mengkhawatirkan pekerjaannya tidak mendengar pertanyaan itu. Baru setelah di senggol oleh Rai, Esta sadar dan langsung menoleh kepada Citra.


“Besok harus sekolah, Tante. Ada PR juga yang belum di selesain.” Tolak Esta halus.


“Kamu ngekos sendirian?” Tanya Salamah.


“Iya, Nek.”


“Rai, besok boyong istrimu pindah kemari. Kalian tinggal di sini aja sama kami.” Tawar Salamah.


Rai mengangguk pelan. Sementara Esta merasa keberatan dengan ide itu.


Sekitar jam 11 malam, Esta memaksa Rai untuk mengantarkannya pulang ke kos. Walaupun keluarga Rai memintanya untuk menginap, namun ia bersikeras untuk pulang. Jadilah Rai menurutinya saja.


“Tante, bajunya aku pake dulu ya. Nanti kalau udah ku cuci, ku balikin.” Ujar Esta sambil pamit.


“Iya, Ta, gak apa-apa kok. Pakek aja kalau kamu mau. Gak di balikin juga gak apa-apa.”


Esta tersenyum kemudian naik ke sepeda motor Rai dan mengenakan helm. Rasanya aneh dan sulit sekali naik motor dengan gamis seperti ini. Jadi untuk memudahkannya, Esta menyingsingkan gamisnya sampai betisnya terlihat. Membuat nenek dan menantunya hanya bsia geleng-geleng kepala saja.


“Mau beli sesuatu gak?” Tanya Rai di sela-sela berisiknya suara kendaraan.


“Enggak. Gak ada uang.” Jujur Esta.


“Aku beliin. Mau apa?”


“Beneran?”


“Mau beli apa?”


“Nasi goreng kambing.” Ujar Esta tanpa malu lagi.

__ADS_1


Selebihnya, Rai terdiam dengan mata yang jelalatan mencari makanan yang di inginkan oleh Esta. Untungnya mereka menemukan warung pinggir jalan yang masih buka dan menjual nasi goreng kambing.


“Nasi gorengnya dua, Bang.”


“Di bungkus aja ya, Bang.” Pinta Esta pada penjual.


“Kenapa gak makan di sini?”


“Nanti kalau ada temenmu yang liat, gimana? Di bungkus aja, aku makan di kos.”


“Yaudah, terserah.”Esta dan Rai menunggu pesanan mereka sambil duduk di di kursi plastik berwarna hijau yang ada di pinggir tenda.


“Rai, kalo kita, gak usah tinggal di rumah nenekmu, gimana?”


“Kenapa?”


“Kayaknya gak nyaman deh kalau aku tinggal disana. Aku tinggal di kos aja, gak apa-apa.”


“Buat kamu, kata ‘gak apa-apa’ itu pasti gak ada maknanya sama sekali, ya? Kita udah nikah, dan kita bakalan tinggal di satu rumah.” Tegas Rai.


Rai terdiam sambil menghela nafas. “Ya udah kalau gak mau, kita tinggal di kosku aja.”


“Kok gitu?”


“Inget kata-kata pak Kiayi tadi.”


“Aku takut ada yang lihat, Rai. Kamu mau kita di keluarin dari sekolah?”


“Masalah itu belum kejadian. Yang penting kita hati-hati. Kamu pilih, mau tinggal di rumah nenek, atau tinggal di kosku?” Rai semakin menegaskan dirinya.


Esta bingung. Kalau tinggal di rumah nenek, rasanya canggung dan tidak nyaman. Sementara kalau tinggal di kos Rai, bagaimana jika sewaktu-waktu teman-teman Rai datang dan memergokinya berada disana?


“Aku mau tinggal di kosmu aja, tapi  gimana nanti kalau temen-temenmu datang?”


“Yaudah, kita pindah kos. Gampang kan.”


“Tapi kalau nenek marah, gimana?”

__ADS_1


“Banyak banget sih yang kamu fikirin? Biar aku nanti yang ngomong sama nenek.”


Fikiran perempuan memang rumit. Sudah desainnya seperti itu. Ia punya banyak kekhawatiran karna memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.


Esta menghela nafas saja. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Tapi,, Esta juga memikirkan dampak sosialnya jika orang-orang di sekitar mereka melihat bahwa ada sepasang anak SMA tinggal di rumah yang sama. Apa yang harus mereka katakan untuk mengelabui mereka?


Ah. Masa bodoh dengan itu semua. Sejak kapan ia mendengar ocehan orang yang tidak pernah memberinya beras untuk makan?


Pesanan yang mereka tunggu akhirnya selesai juga. Rai segera membayar dengan pesangon yang di beri oleh nenek tadi. Setelah itu, mereka kembali meluncur menuju ke kos Esta.


“Tina bisa kejang kalau tau kamu nikah sama aku.” Seloroh Esta saat masih di atas motor.


Rai diam saja. Ia malas menanggapi.


“Ya ampun. Aku gak bisa bayangin gimana hebohnya orang-orang satu sekolahan kalau tau ini semua.”


Rai masih tidak menanggapi. Ia fokus kepada jalan raya yang masih padat walaupun sudah hampir tengah malam.


“Ta, kamu gak ngerasa terbebani apa gimana sih? Kok bisa kamu bersikap biasa aja gitu?”


“Kalau aku ngerasa begitu, terus anak ini bakalan hilang, gitu? Gak ada gunanya ngerasa gitu, Rai. Sedih sih memang. Aku sempet mau marah dan salahin kamu tapi emangnya semua itu bisa menghapus perbuatan yang udah kita lakuin? Enggak kan? Sekecewa apapun aku, semarah dan semenyesal gimanapun kita, keadaan gak jadi lebih baik dan gak akan akan balik kayak semula. Memang dalam hal ini aku yang paling di rugikan. Tapi, balik lagi. Gak ada gunanya nyesel.”


Rai teringat dengan deru tangis Esta saat memeluk neneknya tadi. Ia tidak tau di balik kesedihan yang nampak begitu mendalam, Esta ternyata memiliki pemikiran yang kuat.


“Terus kenapa tadi kamu nangis?”


“Manusiawi sih. Secara aku masih remaja dan udah hamil, MBA (Married By Accident) lagi. Siapa yang gak sedih dan kecewa? Abis nangis, ya udah lega.”


“Kalau ada waktu luang nanti, nyicil beresin barang-barangmu. Besok pulang sekolah aku nyari kos buat kita dan kalau udah dapet, kita langsung pindah.”


“Iya.”


Esta yang sejak awal sudah membatasi dirinya, meletakkan kedua tangannya antara dadanya dan punggung Rai agar mereka tidak saling berdempetan. Ia sempat berfikir, kenapa mereka bisa sampai pada keadaan seperti ini? Karna apa mereka sampai bisa begini? Alasan yang sebenarnya itu apa? Yang membuat mereka lepas kendali dan tidak bisa menahan diri.


Luka? Apakah luka itu yang membuat mereka jadi seperti ini? Luka yang masih belum jelas obatnya dan semakin membuat lubang di hatinya semakin besar dari hari ke hari. Bukankah itu hanya merupakan sebuah alasan saja untuk melarikan diri? Setiap kejadian, harus ada pelampiasan untuk di salahkan.


Dua anak manusia yang seharusnya sibuk dengan dunia mereka itu, kini dipaksa untuk berfikir jauh ke depan tentang masa depan yang serius. Meninggalkan semua dunia kesenangan yang sebelumnya mereka tinggali. Dipaksa berfikir lebih dewasa dari anak-anak seumuran pada umumnya. Mimpi yang sudah di gantungkan setinggi langit, kini akan semakin sulit untuk di gapai meskipun mereka sudah terlelap.

__ADS_1


__ADS_2