Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 20. Memaksa Diri Untuk Nyaman Dengan Kesendirian.


__ADS_3

Pagi hari yang seperti pagi sebelum-sebelumnya, Rai tetap sibuk menyiapkan buku-buku sekolahnya dan memasukkannya kedalam tas. Mengecek semua tugas rumah apa masih ada yang belum di kerjakan atau apa. Ia juga tidak lupa untuk mencuci sepeda motornya dan menata rambutnya. Penampilan sempurna seperti biasa dan Rai siap berangkat ke sekolah.


Tapi ada hal yang berbeda dari Rai hari ini. Pagi ini, ia tidak lantas menuju ke sekolah LB melainkan menuju ke arah kos Esta terlebih dahulu. Sesampainya di depan kos Esta, ia menunggu lumayan lama sampai ia khawatir kalau ia akan terlambat.


Namun setelah beberapa menit menunggu, Esta tak kunjung muncul juga. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu kos yang mengatakan kalau Esta sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi.


Dengan kesal akhirnya Rai mengirimkan pesan pada Esta.


Rai: “Dimana?”


Esta: “Udah di sekolah. Kenapa?”


Rai: “Kok gak nunggu aku? Kita berangkat bareng.”


Esta: “Gak mau ih. Kamu mau ngumumin sama semua orang?”


Rai: “Ya masak kamu jalan ke sekolah?”


Esta: “Udah biasa, kali.”


Sampai di kelas, Rai tetap memasang wajah dinginnya, bahkan kepada Esta yang kini sudah sah menjadi istrinya. Ia hanya melirik saja saat duduk di kursi dan memasukkan tas kedalam laci.


Esta yang awalnya hendak menyapa Rai, akhirnya mengurungkan niatnya saat merasakan aura berbeda dari Rai. Sebenarnya bukan berbeda, itu adalah sikap asli Rai sepanjang yang ia tau.


Sepanjang pelajaran pertama, Esta terus berfikir kenapa sikap Rai berubah dingin padanya. Ia fikir mungkin Rai marah karna ia lebih dulu pergi ke sekolah. Jadi, Esta membiarkannya saja dan tidak peduli.


Saat jam istirahat tiba, Tina mendadak menghampiri meja Rai dan menyodorkan sebuah kotak hadiah kepada Rai. Kotak itu berbalut pita berwarna merah muda yang cantik.


“Met ultah, Rai.” Ucap Tina dengan wajah yang tersipu malu.


Esta hanya melihat Tina dan Rai bergantian. Ia sama sekali tidak tau kalau hari ini adalah hari ulang tahun Rai. Pantas saja, tadi juga ada yang menaruh hadiah di laci Rai. Ia tidak memperhatikannya.


Bahkan saat Rai sibuk mengobrol dengan teman-temannya di lapangan volly sambil bercanda, ada saja gadis yang menghampiri dan memberikan kado kepadanya. Mungkin bisa di bilang, kalau Esta satu-satunya orang yang tidak tau ulang tahun Rai.

__ADS_1


Pada jam istirahat kali ini, Esta senang karna ia bisa membeli makanan di kantin. Itu karna dua porsi nasi goreng yang Rai beli semalam, semuanya di berikan kepada Esta. Jadi uang jatah sarapan paginya tidak keluar dan ia bisa jajan di kantin.


Hidup Esta penuh dengan perhitungan hanya untuk melanjutkan hidup. Serba menahan diri bahkan untuk membeli semangkuk bakso saat jam istirahat pelajaran.


Kali ini, Esta ingin sedikit memanjakan perutnya. Ia memesan semangkuk bakso di kantin dan sedang bersiap untuk menyantapnya walaupun ia duduk sendiri dan tidak ada yang menemani. Teman-temannya sedang sibuk memberi selamat kepada Rai.


Namun ia sedikit terkejut saat ada Akash yang tiba-tiba duduk di depannya. Pria itu meletakkan mangkuk baksonya di meja dan tersenyum kepada Esta lalu duduk manis. Esta mengernyit heran menatap Akash.


“Makan kok sendirian.” Seloroh Akash yang mulai membubuhkan saus dan kecap pada baksonya.


“Kenapa memangnya?”


“Ka`yak orang hilang tau gak.”


“Yang penting kenyang.”


“Padahal aku jarang banget liat kamu di kantin begini.”


Esta hanya tersenyum pias. Ia ingin menjawab kalau ia tidak punya uang, tapi ia malu mengakuinya.


“Aneh apanya?”


“Cuma kamu cowok yang mau makan sama orang kayak aku.” Ujar Esta mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang memandang mereka dengan aneh.


“Memangnya kamu orang kayak apa?”


“Ah. Kamu banyak pertanyaan. Aku bingung jawabnya.” Esta memilih untuk mulai menyuapkan bakso ke mulutnya.


“Ngapain peduli sama apa yang orang lain lihat? Gak perlu ngerasa terganggu selama kita nyaman sama diri kita sendiri. Sebagian orang nyaman dengan banyak temen. Sebagian orang lagi nyaman pas sendirian. Gak usah di ambil pusing.”


Tapi, bukan begitu apa yang di rasakan Esta. Ia nyaman berada di antara banyak teman. Namun sayangnya ia tidak punya tempat di antara mereka. Dan pada akhirnya ia memaksa diri untuk nyaman dalam kesendirian dan terbiasa dengan hal itu.


“Kamu gak malu makan sama orang gendut dan jelek kayak aku?”

__ADS_1


“Astaga, Ta. Itu body shamming ama diri sendiri namanya. Hargai apa yang ada pada dirimu sendiri maka orang lain akan ikut menghargainya. Kalau kamu sepele ya orangpun sepele.”


Esta tersenyum. Ia berkata begitu bukan karna ia benar-benar ingin berkata seperti itu atau ia tidak menghargai dirinya sendiri. Ia hanya ingin menambah bahan obrolan di antara mereka agar tidak canggung.


“Apa selama ini kamu memang orang yang bijak begini?”


“Bijak begimane? Semua orang tau itu kali Ta. Udah ah, jangan bahas body shamming.”


“Hahahaha. Ngomong-ngomong, kenapa gak gabung ama temen-temenmu? Katanya Rai ulang tahun hari ini.”


“Tanggalnya memang hari ini. Tapi kami biasanya ngerayainnya besok atau lusa atau bahkan seminggu kemudian. Ya tau sendiri lah, dia kan cowok paling populer di sini. Hari ini dia sibuk nerima kado dari fans-fansnya. Rai gak begitu peduli sama ultahnya, cuman kami sebagai temen ya masak biarin aja gitu.” Jelas Akash.


“Ooooh, gitu.”


Mereka asyik mengobrol sampai-sampai terkejut dengan suara bel sedangkan makanan mereka belum habis. Baik Esta dan Akash segera menghabiskan makanan mereka. Akash selesai lebih dulu dan segera membayar di kantin.


“Udah di bayar.” Ujar ibu kasir saat Esta hendak membayar makanannya.


“Udah aku bayar. Ayok, buruan.” Pekik Akash dari tangga kantin.


Tidak ada waktu untuk bertanya atau protes kepada Akash. Esta hanya berlari kecil untuk menyusul Akash. Lagi-lagi dia lupa kalau ada janin di perutnya.


“Makasih udah di bayarin.”


“Sama-sama. Kelamaan kalau mau nunggu kamu bayar sendiri. Belum lagi naik ke lantai 4.” Akash beralasan. Namun ia diam-diam tersenyum penuh arti.


“Kapan-kapan gantian aku yang traktir kamu.”


“Oke.”


Saat Esta dan Akash masuk kedalam kelas secara bersamaan sambil tertawa. Mereka tidak luput dari tatapan heran teman-temannya. Mereka heran kenapa Akash tiba-tiba menjadi akrab dengan Esta padahal selama ini mereka seperti berjarak. Sama halnya seperti yang lain.


Bahkan sampai setelah duduk di kursinya, Esta tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia terus tersenyum sambil mengeluarkan buku pelajaran dari dalam laci. Untuk sesaat, ia menoleh kepada Rai yang memang tidak peduli padanya. Pria itu hanya melengos saja sambil membaca buku.

__ADS_1


Esta masih bingung mengartikan sikap Rai padanya. Kenapa hari ini pria itu sama sekali tidak berbicara padanya? Sangat berbeda dengan semalam, saat Rai mengoceh dan memberitahunya banyak hal.


__ADS_2