Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 30. Cangkang Kosong Yang Tidak Berisi.


__ADS_3

Esta siap dengan memakai celana jeans berwarna biru dan kaus abu-abu berlengan pendek. Ia hanya menerima saja helm yang di sodorkan oleh Rai padanya kemudian keluar lebih dulu. Sementara Rai mengikutinya di belakang sambil mengunci pintu.


Ia merasa kalau Rai sedang memperhatikannya lekat di belakangnya. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia terus berjalan menyusuri koridor dan turun kemudian menunggu di depan rusun.


Rai mengambil sepeda motornya kemudian berhenti di depan Esta. Ia membiarkan Esta naik kemudian kembali melajukan motornya menembus kemacetan jalan raya.


Satu penyesalan Esta adalah, kenapa ia tidak membawa blazer untuk menghindarinya dari sengatan matahari yang sangat panas itu.


Sebal sekali rasanya harus terjebak kemacetan saat sinar matahari sedang terik. Padahal hari sudah sore tapi matahari masih menyinari kota itu dengan panasnya.


Berkali-kali Esta mengusap keringatnya yang mengalir di kening. Belakangan ini ia lebih mudah merasa panas dan gerah. Satu yang membuatnya tidak nyaman adalah, kalau ketiaknya pasti sudah banjir keringat saat ini. Di situ ia semakin menyesal karna tidak membawa blazernya.


“Masih jauh?” Tanya Esta yang sudah tidak nyaman.


“Sebenernya gak jauh lagi, sih. Tapi karna macet, gak tau deh sampe kapan nyampenya. Mau magrib baru kita nyampe.”


Mendengar penjelasan Rai membuat Esta semakin prustasi. Ia ingin turun dan berjalan kaki saja. Sepertinya itu akan lebih cepat sampai daripada menunggu kemacetan yang entah kapan akan terurai itu.


Setelah berjuang untuk bersabar di tengah kemacetan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah klinik dan Rai segera memarkirkan sepeda motornya. Benar kata Rai, begitu mereka turun dari kendaraan, adzan maghribpun berkumandang. Namun Rai dan Esta tetap memutuskan untuk langsung masuk ke dalam klinik.


Esta berhenti saat mereka sampai di depan klinik. Ia merasa tidak nyaman dengan ketiaknya yang terasa lengket dan basah. Pun ia malu kalau sampai orang-orang melihatnya.


“Kenapa?” Tanya Rai yang juga ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


“Hah? Enggak, gak apa-apa.” Jawab Esta terbata. Ia nampak ragu saat hendak melanjutkan langkahnya.


Namun hal yang tidak terduga terjadi. Rai melepas jaket jeansnya dan menangkupkannya di punggung Esta. Pria itu memegang bahu Esta dan membimbingnya untuk masuk ke dalam klinik.


Esta yang masih tersentak hanya bisa menatapi wajah pria itu. Namun ia segera menyingkirkan tangan Rai saat mereka sudah masuk ke dalam klinik.

__ADS_1


“Kamu tunggu disini.” Ujar Rai dengan nada memerintah. Namun Esta tetap menurut dan duduk di salah satu kursi yang kosong sementara Rai berjalan menuju meja pendaftaran.


Di sana sudah banyak ibu hamil yang hendak memeriksakan kandungannya. Kebanyakan dari mereka di temani oleh suaminya. Esta merasa sedang berkecil hati saat membandingkan kira-kira umur mereka dan dirinya. Terlihat hanya dirinya saja yang berusia muda di antara para pasien yang lain.


“Maaf, Mbak. Mau daftar.” Ujar Rai kepada salah satu petugas.


“Oh, iya. Sebentar, Mas.” Ujar petugas itu sambil mengambil buku pemeriksaan dari dalam laci mejanya. “Nama istrinya siapa, Mas?”


“Semesta.” Jawab Rai.


“Nama suami?”


“Rai Kenandra.”


Tapi, seketika petugas wanita itu langsung mendongakkan wajahnya melihat kepada Rai. Sejurus kemudian ia tersenyum ramah kepada Rai.


“Maksudnya?”


“Pak dokter bilang kalau mas Rai dapet giliran terakhir. Masnya duduk aja dulu, nanti di panggil.”


“Yaudah, Mbak.” Ujar Rai yang kemudian tidak jadi mendaftar karna sudah ada kartunya. Ia berjalan kembali ke arah Esta sambil menghela nafas dalam. Tau begini ia akan berangkat malam dan membiarkan Esta untuk tidur lebih dulu di rumah.


“Permisi, Buk...” Ujar Rai saat melewati pasien yang duduk di bangku sebelum Esta. Sedangkan Esta sudah menyandarkan kepalanya di tembok dan bersiap untuk terpejam.


Rai langsung duduk di sebelah Esta dan melirik gadis itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan perasaan hampa. Ini adalah pengalaman pertamanya mengantarkan ibu hamil periksa.


Ada rasa aneh yang menjalari relung hatinya. Ia merasa seperti menjadi suami normal yang sesungguhnya.


“Masih lama gak gilirannya?” Tanya Esta lirih kemudian menguap. Ia menutup mulutnya saat menguap.

__ADS_1


“Lumayan. Sini, kalau mau tidur.” Tawar Rai dengan menepuk bahunya.


Esta menatap mata Rai dan bahu Rai bergantian. Ia tidak yakin dengan tawaran itu. Benarkah ia boleh menyadarkan kepalanya disana?


“Aku gak ngantuk, kok.” Esta beralasan. Ia terlalu malu melakukannya.


“Minggu depan udah mulai tray out. Jadi siapkan mentalmu karna aku bakalan ngajarin kamu pelajaran yang belum kamu ngerti.” Bisik Rai lagi.


“Tapi aku gak ngerti semua pelajaran.”


“Maka dari itu ku bilang kalau kamu harus mempersiapkan diri. Aku gak mau kena marah lagi sama Pak Jamil.”


“Kan yang di marah aku. Kenapa kamu yang sewot? Gak perlu repot-repot buang-buang waktu buat ngajarin aku. Kapasitas otakku udah penuh, Rai. Gak bakalan ada gunanya.”


“Nilaimu harus naik, Ta. Kamu mau gak lulus?”


“Ya enggak dong. Tapi aku yakin aku bakalan lulus walaupun gak belajar.” Esta tetap menolak mentah-mentah.


Rai geram kemudian mendekatkan wajahnya kepada Esta. Membuat gadis itu tercekat karna jarak mereka yang begitu dekat.


“Aku gak mau ibu dari anakku gak lulus SMA. Pokonya kamu harus lulus. Mau gak mau aku bakalan ngajarin kamu. Jadi kamu siapin mental, ya.” Nada bicara Rai seperti sedang mengancam.


Ada sebuah rasa sakit dari ucapan Rai yang menusuk hati Esta. Ia tidak terima jika semua perlakuan baik yang Rai berikan adalah untuk bayi mareka semata. Apa Rai hanya menganggapnya sebagai cangkang kosong belaka? Yang tidak berarti apa-apa tanpa isi. Ia tidak berarti bagi Rai kalau ia tidak sedang mengandung anak Rai, begitu?


Ah, sebenarnya Esta tidak peduli. Tapi perhatian yang di berikan Rai padanya membuatnya lupa diri. Ia terlanjur nyaman dengan semua perhatian itu. Ia memang tidak mengharapkan lebih dari Rai. Ia hanya ingin menikmati kenyamanan itu saat ini.


Perlahan Esta mengusap perutnya. Tidak ada rasa sedih maupun rasa bahagia saat ia memikirkan bayinya, perasaannya biasa saja. Tidak ada naluri suka cita atas kehamilannya seperti ibu hamil pada umumnya. Ia hanya merasa biasa saja seperti sebelum-sebelumnya. Sudah hamil, ya sudah.


Rai sedang memperhatikan tayangan televisi yang terpajang di dinding. Ia langsung menoleh saat kepala Esta jatuh di bahunya dan hampir terjerembab ke depan. Untung dengan cekatan ia segera menahan tubuh Esta dan membenahi posisinya menjadi lebih nyaman. Ia terus memegangi kepala Esta dengan tanganya untuk menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Sementara matanya kembali fokus ke acara tv yang sedang menayangkan sebuah berita.

__ADS_1


__ADS_2