Semesta Rai

Semesta Rai
BAB 40. Lemah Dengan Sedikit Perhatian. Karna Itu Adalah Kemewahan.


__ADS_3

“Beneran udah gak apa-apa?” Rai ingin memastikan lagi kalau esta benar-benar sudah baik-baik saja.


Esta mengangguk. Perlahan ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rai dan kembali duduk di kursinya semula.


“Aku boleh istiahat bentar, ya? Kepalaku rada pusing. Nanti lanjut lagi ngerjainnya.” Rayu Esta. Ini adalah kesempatannya.


“Gak. Udah gak usah di kerjain lagi. Besok lagi aja. Sekarang kamu istirahat aja. Mau ku buatin susu?” Tawar Rai penuh perhatian.


Esta mengangguk. “Tapi aku belum ngantuk. Kalau gitu, boleh aku main game di laptopmu?” Ijin esta dengan hati-hati.


“Ya udah, main aja.” Rai membantu menyalakan laptopnya untuk esta.


Sementara Rai membuatkan susu untuknya, esta mengutak-atik kumpulan game di laptop Rai. Ia membaca satu persatu judulnya tapi sama sekali tidak ada yang membuatnya tertarik.


“Boleh online, gak?”


“Boleh.” Jawab Rai dari dapur. Karna memang Rai memasang wi-fi di rumahnya.


Rai selesai membuatkan susu untuk esta dan meletakkan gelas susu itu di meja di samping laptop. “Tunggu dingin dulu.” Perintahnya kemudian.


“Makasiihhh...”  Ucap esta yang masih fokus pada game online terkenal yang ia mainkan.


Sementara Rai memilih untuk bermain ponsel sambil rebahan di atas ambal ruang tamu.


Lima belas menit berlalu dengan di isi oleh teriakan-teriakan gemas dari esta. Sudah berkali-kali ia kalah dalam permainan dan itu membuatnya sebal. Ia memang kurang menguasai permainan itu.


“Ini ganti senjatanya gimana?” Akhirnya ia bertanya juga kepada ahlinya.


“Itu, klik yang di pojok atas itu.” Rai memberi pengarahan dari tempatnya.


Esta berusaha mencari tanda yang di beritahu oleh Rai. Tapi seberapapun ia melotot ke layar laptop, ia tidak bisa menemukannya.


“Yang mana, sih?” Tanyanya lagi.


Esta kembali memfokuskan matanya untuk mencari tanda yang di maksud. Saat tiba-tiba dia terhenyak ketika Rai datang mendekat dan memberitahu.

__ADS_1


“Ini, lho...”


Bukan karna itu esta terhenyak. Tapi tangan Rai yang kini ada di atas tangannya. Pria itu sedang mengarahkan mouse dengan tidak melepaskan tangan esta. Pria itu sedikit membungkukkan badannya dengan sebelah tangannya memegang sandaran kursi di punggung esta.


Bagaimana esta bisa tidak terhenyak dalam posisi seperti itu? Di tambah wajah Rai yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan hampir menempel.


Saat sentuhan tangan Rai di tangannya, esta langsung menoleh hingga wajahnya tepat menghadap ke leher kekar Rai y ang harum. Disana nampak ladang otot yang semakin menegaskan garis ke seksian seorang Rai.


Esta bahkan sampai menelan salivanya sendiri saat hamparan pemandangan itu terbentang di hadapannya.


“Lihat laptonya, bukan lihat aku.” Lirih Rai yang ternyata menyadari tingkah esta.


Dengan segera esta langsung mengalihkan wajahnya kembali ke laptop. Ia berusaha fokus dengan penjelasan pria itu. Walaupun sesekali ia masih menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya.


Merasa tidak bisa menahan diri, esta langsung menarik tangannya dari tangan Rai. Kemudian ia berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Ia munutup pintu kamar rapat-rapat dan langsung menenggelamkan diri di dalam selimut.


“ta? Mau kemana?” Tanya Rai bingung. Padahal ia sedang tersenyum lucu melihat esta yang jadi salah tingkah karna ulahnya.


Esta bisa merasakan wajahnya yang sudah memanas sejak tadi. Pasti wajahnya sudah memerah karna debaran di hatinya.


Esta berpura-pura sedang tidur. Ia berusaha untuk tidak bergerak di dalam selimut saat mendengar pintu kamar yang terbuka dan langkah kaki yang mendekati kasur.


“ta?”


Tapi esta tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menjawab panggilan merdu itu.


“hmm...”


“ini di minum dulu susunya, baru tidur. Udah dingin nih.” Ujar Rai. Ia tidak menarik selimut esta, tapi menunggu gadis itu membuka selimutnya sendiri.


Pada akhirnya esta membuka selimutnya dengan perlahan. Ia kemudian duduk di ranjang dan menatap Rai.


Rai segera menyodorkan gelas susu kepada esta dan  gadis itu langsung menghabiskannya dalam sekali tenggakan.


“pinternya...” Lagi-lagi Rai mengusap puncak kepala esta.

__ADS_1


Tapi kali ini esta segera menghindar. Ia tidak tahan di perlakukan semanis itu oleh Rai. Benar ia istrinya, tapi bukankah sebenarnya mereka asing?


“yaudah, met tidur.” Ujar Rai sambil tersenyum dengan sangat manis.


“Rai, berhenti godain aku.” Akhirnya esta memberanikan diri untuk protes.


“siapa yang godain? Emangnya kapan aku godain kamu?” Rai berkilah sambil terkekeh kecil kemudian menutup pintu kamar.


Tidak bisa. Esta tidak bisa terus-terusan membiarkan hatinya lengah seperti ini. Ia harus memperkuat bentengnya sendiri. Ia harus lebih mempertegas batasannya.


Ia tidak ingin hatinya lemah dengan sedikit perhatian yang di berikan oleh Rai. Ia tidak ingin jadi lebih berharap dengan perhatian kecil itu. Perhatian yang membuatnya berdebar tidak karuan. Perhatian yang membuatnya menginginkan sosok Rai seutuhnya.


Memang ia tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu sehingga hatinya lemah dan goyah. Tapi, akash juga sering memberi perhatian pada dirinya. Tapi kenapa hatinya merasa biasa saja? Tidak ada yang berdebar di dalam dadanya.


Kalau boleh jujur, sebenarnya esta tidak ingin terikat dengan Rai sehingga membuat hubungan mereka menjadi canggung. Ia tidak ingin terlena dengan perhatian kecil itu. Tapi apa daya, ia tidak bisa menahan gejolak di hatinya.


Karna ia tau kalau semua perhatian yang di berikan oleh Rai tidak lebih hanya untuk bayinya saja. Sudah berkali-kali Rai mengatakannya. Sungguh, ia tidak ingin terjebak dengan rasa suka.


Sebuah perhatian kecil yang merupakan sebuah kemewahan bagi seorang esta. Sehingga membuat hatinya lemah dan rapuh karnanya.


Ia memang senang mendapatkan perhatian semacam itu, tapi ia juga takut kalau ini tidak akan berakhir dengan baik. Tidak, ia tidak berani berharap yang muluk-muluk. Ia sadar diri dengan tempatnya.


Pernikahannya dengan Rai, tidak lebih hanya karna keharusan akan tanggung jawab karna esta sudah terlanjur hamil. Yang jelas, itu bukan sebuah pernikahan yang di landasi atas dasar cinta. Jadi tidak mungkin ada cinta di perikahan mereka. Ia harus segera menyadarkan dirinya.


Sementara di luar kamar, Rai masih berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Semakin hari, ia semakin tidak bisa mengendalikan sikapnya. Ada sesuatu dari esta yang menariknya dari zona nyaman. Zona yang ia tetapkan dalam batasan dirinya sendiri.


Akankah ia melanggar batasannya sendiri?


Satu hal yang tidak bisa Rai pungkiri, esta memberikan sebuah kenyamanan padanya. Ia nyaman melihat gadis itu bicara. Ia nyaman mendengar suara langkah kakinya. Bahkan ia nyaman dengan suara dengkurannya. Ia nyaman dengan segala yang ada pada diri Semesta.


Ia bahkan sudah merasakan debaran itu beberapa hari terakhir ini. Mungkin di karenakan seringnya keduanya bersama bahkan saat mereka di sekolah.


Pada awalnya Rai hanya tersenyum lucu melihat esta yang selalu mengantuk saat ia mengajarinya. Tapi lama-kelamaan, ia menjadi suka melihat cara esta berjuang untuk melampaui dirinya. Walaupun mengantuk, tapi gadis itu tetap berusaha untuk terjaga dan mendengarkan penjelasannya.


Kemudian, ia jadi suka berada di dekat gadis itu karna ia merasa nyaman. Dan ia akan kelabakan mencarinya saat gadis itu tidak terlihat di dekatnya.

__ADS_1


Rai sangat menyadari perasaanya itu. Hanya saja ia tidak berani melangkah lebih jauh karna takut ada yang terluka.


__ADS_2