
Esta masih menatap Rai dengan tanpa ekspresi. Hanya aura kemarahan yang terasa di sekitarnya. Wanita itu juga tidak pernah menanggapi Rai sama sekali. Ia menutup mulutnya rapat-rapat.
Namun Rai terkejut saat tiba-tiba Esta berdiri dan menyambar tasnya dari atas meja. Tanpa berkata sepatah katapun wanita itu langsung pergi begitu saja menuju ke meja kasir.
Esta membayar minumannya kemudian langsung keluar dari cafe. Membiarkan Rai yang mengejar dengan memanggil namanya.
“Ta?!” Pekik Rai menarik perhatian pengunjung cafe.
Esta tidak peduli. Ia hanya terus berjalan sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Melangkahkan kaki menjauhi cafe.
Sampai di seberang jalan, akhirnya Rai berhasil menghentikan Esta dengan menarik lengan wanita itu dan membuatnya berbalik ke arahnya.
“Kamu mau kemana?”
Esta tidak menjawab. Ia hanya menatap marah kepada Rai sambil menghentakkan lengannya agar terlepas dari genggaman Rai.
Setelah berhasil melepaskan diri, Esta kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
“Esta aku minta maf!!” Pekik Rai kemudian. Perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka membuat Esta jengah dan memutuskan untuk berbalik dan berhenti tepat di depan Rai.
“Pasti sangat menyenangkan buat kamu. Makasih banyak ya, Sena, udah mau dengerin aku selama ini. Tapi hubungan kita gak akan pernah berlanjut. Aku akan berhenti sampai disini. Kuharap kita gak akan ketemu lagi.” Ucapan yang menyiratkan luka mendalam itu langsung di sampaikan oleh Esta di hadapan Rai.
Pias hati Rai mendengarnya. Ia menyesal karna telah memberitahu Esta tentang Sena. Niatnya ingin jujur kepada wanita itu karna ia tidak ingin punya rahasia dan menyembunyikan apapun dari Esta.
Ia memang sudah menduga kalau Esta pasti akan marah padanya. Namun ia tidak menyangka ternyata Esta sangat marah hingga netranya berkaca-kaca. Esta pasti sangat terluka akibat perbuatannya.
Kalau saja ia tidak memberitahu Esta, pasti hubungan mereka tidak akan sekacau ini.
“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi.” Tekan Esta sebelum berbalik.
Namun lagi-lagi Rai menarik lengannya dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. Pria itu mencegahnya untuk pergi.
“Lepasin.” Geram Esta mencoba melepaskan diri. Ia meringis karna memaksa diri untuk lepas dari cengkeraman Rai.
Pertengkaran kecil itu membuat beberapa orang melihat ke arah mereka. Tapi keduanya tidak peduli. Esta sedang dilanda rasa marah. Sedangkan Rai sedang dipenuhi oleh rasa bersalah dan penyesalan.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pergelangan tangan Rai dengan kuat hingga membuat pria itu melepaskan Esta.
“Maaf, Mas. Tolong jangan kasar sama wanita. Gak malu apa di lihatin banyak orang?”
“Mas Oza?” Lirih Esta.
__ADS_1
“Kamu gak apa-apa, Ta?” Tanya Oza khawatir. Esta mengangguk.
“Tolong lepasin, Mas. Masnya gak perlu ikut campur. Ini urusan kami.” Ujar Rai.
“Kalian saling kenal?” Tanya Oza memastikan.
“Apa Masnya gak lihat? Baju kami aja couple-an.” Jawab Rai.
Tapi Oza tidak lantas percaya. Ia menatap Esta meminta jawaban. Baru setelah Esta menganggukkan kepalanya Oza berani melepaskan tangannya.
“Ta, kita bicara dulu...” Pinta Rai kepada Esta.
Dan Esta tetap mengabaikan Rai. Ia malah beralih bicara dengan Oza.
“Mas Oza, aku boleh minta tolong anterin aku pulang?”
“Boleh. Ayok.” Jawab Oza langsung. Ia tidak tega melihat air mata Esta yang sudah menggantung di kelopaknya.
Tatapan Rai semakin pias. Keningnya berkerut saat melihat Esta berjalan mengikuti pria berseragam polisi itu masuk ke dalam sebuah mobil sedan yang terparkir di tepi jalan.
Apalagi saat mobil itu sudah melaju membawa Esta serta di dalamnya, perasaan Rai semakin kacau saja. Ia tidak suka melihat ada orang lain yang memperhatikan Esta sedemikian rupa. Apalagi tatapan pria itu saat menatap Esta, nampak berbeda baginya.
“Kita ke laundry.” Perintah Rai kepada pengemudi.
“Iya, Pak.” Jawab seorang wanita muda yang sedang mengemudikan mobilnya.
Esta terus terdiam di perjalanan menuju ke rumahnya. Dan Oza juga tidak bertanya apapun kepada Esta mengenai hal yang baru saja terjadi. Ia merasa tidak punya ranah untuk menanyakannya. Ia hanya sesekali menoleh kepada Esta yang duduk disampingnya.
Sungguh, Esta merasa malunya bertambah dua kali lipat hari ini. Ia terus membuang wajahnya ke luar jendela. Tidak tau harus bicara apa untuk memecahkan keheningan.
“Ehm, Ta. Kita mampir ke sekolah dulu ya? Bisa? Soalnya aku harus jemput anakku pulang sekolah.” Ujar Oza pada akhirnya.
“Iya boleh, Mas.” Jawab Esta. Memangnya siapa dia berani menolaknya. Dia cuma numpang.
Tidak berapa lama kemudian, Oza menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah dasar.
“Tunggu disini sebentar ya, Ta?” Pinta Oza sebelum turun dari mobil.
Di depan gerbang sekolah, nampak seorang siswi SD sedang berdiri. Siswi itu langsung menghambur ke pelukan Oza saat melihat kedatangan Oza.
Oza menggendong putrinya itu dan menentengkan tasnya. Kemudian membuka pintu mobil dan mendudukkan putri kecilnya itu di kursi belakang.
__ADS_1
Awalnya anak itu tidak melihat keberadaan Esta di depannya. Baru setelah Oza juga duduk di balik kemudi, putrinya itu bertanya siapa Esta.
“Tante ini siapa, Pa?” Tanyanya memperhatikan wajah Esta dengan seksama dengan berdiri di tenga-tengah kursi kemudi.
“Hai. Salam kenal. Tante temennya Papamu. Nama tante, Esta. Namamu siapa anak manis?” Tanya Esta dengan mempersembahkan senyuman ramahnya.
“Namaku Starla, Tante.”
“Waahhh. Namamu cantik banget. Kayak bintang. Starla udah kelas berapa?”
Sepertinya Starla mulai merasa nyaman kepada Esta. Itu dibuktikan dengan tatapan curiga Starla yang mulai menghilang.
“Kelas dua, Tante.”
“Ooh. Udah bsia baca?”
“Udah, dong. Udah lancar.”
Oza nampak tersenyum saja melihat putrinya yang ternyata langsung akrab dengan Esta itu. Lalu ia kembali fokus mengemudi menuju ke rumah Esta. Sesekali Esta memberitahu arah jalan ke rumahnya dengan di selingi candaan dengan Starla. Gadis kecil yang baru berusia tujuh tahun itu nampak sangat nyaman berbicara dengan Esta. Padahal biasanya Starla selalu malu saat bertemu dengan orang baru.
“Yang itu, Mas. Gedung depan itu.” Ujar Esta kepada Oza saat mereka berada tak jauh dari laundry.
Dari dalam mobil Esta mengernyit saat melihat Rai yang sedang gelisah berdiri di samping sebuah mobil didepan laundrynya. Bahkan saat mobil Oza sudah berhenti, Esta serasa enggan untuk keluar.
“Kalau kamu gak mau turun, kita bisa kok pergi lagi.” Ujar Oza.
Esta menoleh kepada Oza dan kemudian kepada Starla yang sibuk bermain ponsel di kursi belakang.
“Gak usah, Mas. Aku turun aja. Aku banyak kerjaan. Lagian kasihan Starla, pasti capek pulang sekolah.” Ujar Esta.
“Makasih banyak ya, Mas. Udah mau nganterin aku pulang. Maaf udah ngerepotin.” Imbuh Esta. Kemudian ia menoleh ke belakang. “Starla, Tante turun dulu, ya?” Ujarnya kepada Starla.
“Oke, Tante. Kapan-kapan kita main bareng ya?” Ujar Starla penuh harap.
“Boleh. Yaudah, Mas. Aku turun dulu.” Pamitnya pada Oza.
“Iya. Kalau ada apa-apa, cepet telfon aku. Biar kubawa dia ke kantor.” Tawar Oza.
Esta hanya tersenyum saja kemudian turun dan menutup pintu mobil.
Esta tetap melihat kepada mobil Oza yang sudah mulai melaju dan meninggalkannya. Merasa berterimakasih kepada pria itu karna sudah muncul di waktu yang tepat.
__ADS_1