
Hari senin, hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh Rai. Ia sangat ingin tau tentang keadaan Esta. Hari ini ia sengaja datang lebih cepat dari biasanya karna semalaman ia tidak tidur memikirkannya. Ia tidak ingin kesalahan besar itu menghancurkan kehidupan seorang gadis.
Rai berpura-pura sedang mengobrol dengan teman-temannya, tapi arah pandangannya selalu tertuju ke pintu maupun kursi tempat Esta duduk.
Sangking tidak sabarnya, akhirnya Rai memutuskan untuk keluar dari kelas, ia berharap akan bertemu Esta di suatu tempat. Dan benar saja, Rai bertemu dengan Esta saat berada di tangga lantai tiga.
Rai sontak menghentikan langkahnya dan menatap Esta dalam. Ia tetap berdiam diri di tempatnya berdiri tanpa bisa menyapa atau bertanya kepada Esta.
Esta, gadis itu hanya melihat Rai sekilas tanpa berhenti. Seperti biasanya, seperti mereka tidak pernah saling menyapa apalagi mengobrol. Ia terus melewati Rai dengan tatapan sekilasnya itu.
Rai menoleh mengikuti bayangan Esta. Namun gadis itu tetap tidak berhenti. Ia terus saja melangkahkan kaki menapaki anak tangga untuk naik ke lantai 4 dimana ruangan kelas mereka berada. Tidak ada perubahan yang berarti dari diri Esta selain benjolan di kepalanya yang sudah mengempis walaupun masih ada sisa warna kebiruan disana. Juga rona merah di pipinya yang sudah hampir menghilang. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu antara mereka.
Entah malu dengan siapa, yang jelas Rai sudah kepalang malu dan malah melanjutkan langkahnya turun ke lantai bawah. Setelah sampai dilantai dua, Rai kembali naik lagi dan langsung masuk ke dalam kelasnya.
Ia sempat menoleh sekilas kepada Esta yang memang nampak biasa saja. Mungkin gadis itu memang baik-baik saja seperti harapannya.
Hari-hari berlalu seperti itu. Tidak ada yang istimewa dari sikap Esta maupun Rai. Rai kembali kepada kesibukannya dan Esta kembali kepada kegiatannya mengikuti teman-temannya walaupun tetap tidak di anggap.
Bahkan setelah satu bulan berlalu, Esta masih tidak menunjukkan perubahan sikap yang berarti. Padahal sebenarnya Rai masih ingin tau. Sesuatu tentang gadis itu berhasil mengulik hatinya.
Hari ini, Esta sedang kena bagian piket untuk membersihkan ruangan kelas setelah teman-temannya pulang. Tidak hanya dia sendiri, namun ada tiga orang teman lainnya yang seharusnya ada di kelas bersamanya.
Tapi mungkin mereka lupa sehingga sekarang hanya ada Esta seorang yang sedang menyapu dan membereskan bangku-bangku. Padahal hari ini ia sedang merasa kurang enak badan. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugasnya.
Saat sedang membereskan bangku Tina, tidak sengaja ia menemukan buku catatan milik Tina yang terjatuh di bawah meja. Esta tidak bisa menahan diri untuk tidak membukanya. Ia ingin tau seperti apa isi buku gadis terpintar di kelasnya itu.
Esta hanya mengernyit saat membaca salah satu lembar buku itu. Semua tentang Rai. Tina menulis betapa ia sangat mengagumi sosok Rai. Rai adalah suami idaman bagi Tina.
Esta tidak sempat membuka lembar selanjutnya karna tiba-tiba Tina muncul di pintu kelas. Gadis itu langsung menghampiri Esta,
“Ya ampun. Aku fikir ini udah hilang.” Seloroh Tina yang langsung meminta bukunya dari Esta.
__ADS_1
Esta segera menyerahkan buku itu kepada pemiliknya.
“Kamu baca, ya?” Tanya Tina kemudian.
“Sedikit.” Jawab Esta.
“Jangan bilang siapa-siapa ya, Ta. Hehehe.”
Dalam hati Esta membatin, padahal hampir semua orang tau kalau Tina sudah pernah menyatakan perasaan kepada Rai. Namun Esta tetap mengangguk agar Tina merasa tenang.
“Kamu udah selesai belum?” Tanya Tina lagi.
“Udah.” Jawab Esta. Ini adalah kali pertamanya Tina bicara lebih dari dua kalimat padanya.
“Belum makan, kan? Ayo aku traktir makan bakso.”
“Traktir apa sogokan?”
“Hayuk lah.” Ujar Esta mengiyakan ajakan Tina.
Ternyata rasanya menyenangkan saat ada seseorang yang menawari sesuatu. Dalam hati Esta senang bukan main.
Tina dan Esta pergi ke warung bakso yang tak jauh dari sekolah. Tina memesan bakso paling mahal untuk Esta, yaitu bakso sumsum tulang sapi. Makanan yang memang selalu di idam-idamkan oleh Esta. Sebuah kesempatan besar sedang menghampirinya.
“Mukamu kok pucet gitu sih, Ta? Kamu sakit?” Selidik Tina.
“Mungkin cuma kurang darah aja. Tapi gak apa-apa kok.”
“Yaudah, buruan di habisin tuh baksonya. Gak enak lagi kalau udah dingin.” Tutur Tina. Iapun segera menyuapkan potongan bakso ke mulutnya.
“Makasih ya atas sogokannya. Hehe.” Seloroh Esta. Ia langsung melahap makanan itu tanpa ampun.
__ADS_1
Rasa itu, adalah rasa paling enak yang pernah ia makan seumur hidupnya. Selama ini ia hanya bisa membeli bakso lima ribuan yang rasanya hanya seperti tepung yang di beri bumbu kaldu.
“Mungkin di sekolah kita, cuma kamu aja ya Ta yang gak naksir sama Rai.”
“Udah berapa lama kamu naksir dia?” Tanya Esta sambil tersenyum.
“Udah dari SMP, gilak. Kami satu sekolahan dulu. Sulit banget naklukin Rai.”
“Tapi memangnya dia gak pernah punya pacar, gitu?”
“Setauku sih belum pernah. Liat jalan sama cewek berdua aja gak pernah. Kalau rame-rame sama temen-temennya sih udah sering. Gimana gak makin klepek-klepek coba sama dia. Dia tuh jaga diri banget.”
Esta hanya kembali menikmati baksonya. Ia menggerigiti daging yang menempel di tulangnya. Rasanya semakin nikmat saat ia menyeruput sumsum tulang sapi yang langsung meleleh di mulutnya itu.
Saking menikmatinya, Esta sampai tidak peduli lagi kalau Tina terus mengoceh mengutarakan betapa ia sangat mengagumi Rai. Melihatnya menikmati bakso, Esta seperti orang yang sudah dua hari tidak makan.
“Kalau mau nambah, pesen aja lagi.” Tawar Tina lagi.
Sungguh tawaran yang tidak bisa Esta tolak. Ia mengesampingkan rasa malunya dan malah memesan satu porsi bakso sumsum lagi. Dan ia langsung menghabiskannya bahkan sebelum Tina menghabiskan porsi miliknya.
Tina tidak bisa menyembunyikan ekspresi heran bercampur jijik dari wajahnya. Namun gadis itu berusaha untuk menutupinya dengan sesekali tertawa kecil.
“Aku baru kali ini makan begini. Ternyata rasanya jauh melebihi ekspektasiku. Enak banget. Makasih banyak ya Tin.”Esta tidak lupa mengucapkan terimakasih untuk sogokan yang ia terima. Berkat Tina, ia bisa makan enak dan membuat perutnya kenyang. Dan lagi, ia tidak perlu mengeluarkan uang hari ini untuk makan malam.
“Sama-sama. Tapi inget, jangan kasih tau siapapun ya, soal buku itu.”
Esta mengangguk sebagai bentuk dari janjinya kepada Tina. Kemudian mereka berdua tertawa senang.
Esta merasa hubungan mereka semakin dekat. Walaupun Esta selalu bersama dengan Tina dan teman-temannya yang lain, namun baru kali ini mereka bisa mengobrol bebas seperti ini. Biasanya Esta selalu menjadi orang yang terabaikan, tidak ada yang merasakan kehadirannya.
Rasanya luar biasa saat ada seseorang untuk di ajak bicara. Esta terus tersenyum sumringah dalam perjalan pulang ke kosnya. Begini rupanya rasanya punya seorang teman, teman yang benar-benar teman. Semoga kali ini bukan hanya Esta yang beranggapan begitu.
__ADS_1