Tentang Kesya

Tentang Kesya
Menunda


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul 23:35 WIB namun gadis itu masih enggan beranjak dari tempat duduknya.


Ia menatap tubuh yang sedang tertidur nyenyak di dalam peti jenazah. Tatapan rapuh yang membuat semua orang ikut merasakan sakitnya.


Semenjak kejadian itu, Kesya tidak pernah lagi menangis dan hal itu yang membuat semua orang ikut sedih melihatnya. Ia tidak bisa mengeluarkan air matanya, tidak bisa mengeluarkan perasaan dan rasa sakit yang ia alami. Hanya tatapan kosong yang bisa ia perlihatkan.


"Key.. yuk tidur dulu" ucap Gabriel mendekati sang adik.


Kesya menggeleng pelan. "Mami udah tidur, Kak?"


Pertanyaan Kesya membuat Gabriel mengangguk. "Udah larut malem, kan besok harus nganter Papi."


"Kesya nggak ngantuk. Lagian kalau Kesya tidur nanti siapa yang jaga Papi?"


"Ada Kak Gab dan yang lainnya. Kamu pasti capek, Key."


Berbagai cara Gabriel lakukan agar Kesya bisa beristirahat namun gadis itu benar-benar keras kepala. Ia tidak mau mendengarkan Gabriel hingga membuat lelaki itu hanya bisa pasrah.


"Kak, gue boleh coba?"


Tiba-tiba Boy berjalan mendekati Gabriel yang duduk sedikit jauh dari Kesya.


Mendengar ucapan Boy, Gabriel mengangguk pelan seolah menyetujuinya. "Tolong ya, Boy."


Dengan tekad yang kuat, Boy harap-harap cemas semoga Kesya bisa mendengarkan nya malam ini saja. Ia tau bahwa gadis itu sangat kelelahan sekarang hingga ia akan berusaha sekuat mungkin untuk bisa menemani Kesya.


Boy berjalan mendekati Kesya. "Key.."


"Nggak, Kak." Seolah tau bahwa Boy akan memintanya untuk beristirahat, Kesya menjawab sebelum lelaki itu membuka suara lagi.


Boy menghela nafas berat. "Lo nggak mau kan besok habis tenaga? Kita besok harus nganter Om ke rumah terakhirnya. Masa anak perempuan Om nggak bisa ikut besok?"


Kesya hanya diam mendengar ucapan Boy namun tatapannya masih terpaku pada Franklin yang tertidur damai.


"Coba bayangin kalau besok lo kehabisan tenaga dan nggak bisa ikut nganter Om, apa lo nggak bakal nyesel? Kalau lo nggak mau tidur dengan alesan nggak ada yang nemenin Om disini, Kak Gab ada, Key. Bang Dio, Stev, Rey, Om Aldino, bokap gue, dan gue juga ada disini. Kalau lo gini terus malah bikin Om sedih."


"Kak, gi—"


"Om pergi karena memang tugasnya udah selesai, Key. Om pergi karena dia nggak akan ngerasain sakit lagi. Om pasti sedih disaat dia udah bahagia diatas sana tapi lo disini malah kacau dan nggak bisa jaga diri lo sendiri. Lo nggak bisa gini terus, lo nggak bisa terlalu larut dalam kesedihan lo, yang ada bukan cuman Om, Tante juga makin sedih."


Lidah Kesya benar-benar kaku hingga ia tidak bisa membuka suara hanya untuk sekedar menjawab ucapan Boy.

__ADS_1


"Tidur ya, gue temenin.."


Akhirnya, Kesya si keras kepala bisa luluh dengan Boy si cowok dingin.


*****


Boy menuntun Kesya menuju kamar milik gadis itu yang berada di lantai dua. Lelaki itu terpukau melihat kamar Kesya yang benar-benar indah. Kamar Kesya tidak berbeda jauh dari kamar di rumah pribadinya. Kamar yang didesain sedemikian rupa dengan dipajang beberapa lukisan tangan miliknya sendiri.


"Mau susu yang mana?" tanya Boy yang sedang berjalan mendekati lemari es mini yang ada di kamar Kesya.


"Full cream" jawab Kesya pelan.


Boy terkekeh melihat mata Kesya yang berbinar saat Boy menawarkan susu kepadanya. Ia tak heran lagi melihat gadis yang sudah berusia 19 tahun tersebut masih ketergantungan susu.


Tak lama kemudian, Boy pun memberikan susu kepada Kesya yang sudah menunggu di tempat tidur.


"Makasih, Kak."


*****


Kamar Kesya


Tangan Rey bergerak membuka kenop pintu kamar Kesya dan terlihatlah Kesya yang sedang tertidur dengan tangan yang memeluk lengan Boy yang sedang duduk menemaninya.


"Sstt anaknya baru tidur" ucap Boy pelan.


Rey tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala Kesya dengan lembut lalu tatapannya tertuju pada tangan Kesya yang memeluk lengan Boy.


Jangankan tiduran, dipeluk lengan aja udah mau jantungan gue.-Boy.


"Yakali, yang ada digorok gue sama lo pada" ucap Boy terkekeh pelan.


Ting.


Ponsel yang ada di meja rias pun berdering menandakan sebuah notifikasi pesan.


Rey yang mendengarnya pun segera mengambil ponsel Kesya.


Manusia Bunglon


Besok pemakaman ya, Sayang? Maaf ya aku nggak bisa hadir temenin kamu, aku tau cantiknya aku pasti kuat. Jaga kesehatannya, babe.-Devan.


Rey sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat ada begitu banyak notifikasi pesan dari Devan yang sudah bisa dipastikan bahwa Kesya sudah beberapa hari ini tidak membuka ponselnya.


"Katanya pacar tapi nggak dateng pas ceweknya butuh."


Boy yang mendengar ucapan Rey pun menoleh. "Siapa tau sibuk, Rey. Namanya juga beda kampus, kan?"


"Terus lo gimana? Sampai harus nunda wisuda demi balik kesini."

__ADS_1


Boy menatap Rey dengan kesal. Ia benar-benar sangat malas untuk membahas hal seperti ini. Bukan tanpa sebab, ia hanya tidak mau jika Kesya mendengarnya lalu merasa tidak enak dan merasa dirinya beban lagi.


"Lo kalau nggak bisa diem mending keluar aja."


Rey tertawa. Tawa yang sangat tidak bisa ditahan hingga membuat Boy melemparkan bantal kearahnya.


"Salah nih gue ganggu Mommy dan Daddy nya Ello. Kabur ah."


Boy hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan Rey.


Tak lama kemudian, Boy merasakan tangan Kesya bergerak hingga membuatnya menoleh dan menatap gadis yang terbangun itu.


Mampus gue.-Boy.


"Kak..? Yang di ucapin Kak Rey bener..? Kak Boy nunda wisuda cuman demi Kesya..?"


Boy tidak suka melihat tatapan itu, tatapan rapuh Kesya yang selalu mengira bahwa dirinya akan menjadi beban semua orang.


"Nggak. Lo kek nggak kenal Rey aja, mulutnya kan ngasal mulu" ucap Boy yang berusaha untuk terlibat biasa saja.


Kesya menatap Boy, benar-benar menatap lelaki itu dengan dalam seolah meminta Boy agar menatapnya juga.


"Bohong. Bukannya kemaren harusnya Kak Boy bimbingan? Kak Boy kan udah wish list kalau mau lulus cuman 3 tahun setengah, tapi ini gimana sekarang?"


Boy terkekeh pelan, ia sendiri tidak menyangka bahwa otak pikun Kesya masih bisa mengingat beberapa wish list nya.


"Kalau bisa lebih ya gapapa. Kan cuman belum bimbingan doang" ucap Boy tertawa.


Plak


"Maaf.."


Air mata Kesya jatuh seketika membuat lelaki itu benar-benar panik karenanya.


"Hei, kenapa nangis sih? Gimana-gimana? Sini ngomong dulu jangan bikin gue panik."


"Maaf karena Kesya masih jadi beban Kak Boy.. Kak Boy harusnya lulus tahun ini, kan? Kalau bimbingan ditunda pasti lulusnya lama lagi dan harus nunggu beberapa bulan.."


"Sstt udah, jangan ngomong gitu ah. Kalau gue lulus agak lama kan masih bisa menikmati beasiswa" ucap Boy tertawa.


Plak


"Kesya serius tau!"


"Loh? Gue juga serius. Kan beasiswa gue 4 tahun, kalau gue lulus duluan sayang banget duitnya."


Boy memang selalu bisa membuat Kesya kesal dan sayang sekaligus. Eh..


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2