
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Mobil Boy kembali menyusuri jalanan menuju ke apartemen setelah sempat berhenti sebentar. Bukan tanpa alasan, Boy hanya ingin memberikan waktu untuk Kesya bisa memikirkan hubungannya dengan Devan, terlebih saat ini lelaki itu sudah mencarinya yang bisa dipastikan bahwa Devan pasti sudah berada di Seoul sekarang.
Kesya tetap pada keputusannya dengan tidak ingin mengangkat ponsel dari Devan membuat Boy akhirnya menyerah lalu tidak memaksanya lagi.
"Kak?" panggil Kesya saat Boy sedang fokus menyetir.
Boy hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap jalanan.
"Gue cantik ya di story lo."
"Mau foto lo yang mana?" tanya Boy seraya memberikan ponselnya membuat Kesya menatapnya kagum.
Anjir, jantung gue tolong.-Kesya.
"Wow, akhirnya ada yang peka."
Tentu saja ucapan Kesya membuat Boy mengerutkan keningnya heran.
"Gue tiap ngomong gitu nggak ada yang peka."
Flashback on
Saat itu Kesya sedang uring-uringan hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka aplikasi tiktok untuk menghilangkan rasa bosannya.
Saat sedang menonton beberapa video, tatapan Kesya terfokus pada salah satu video gombalan seorang perempuan yang ingin fotonya di-posting oleh sang pacar. Karena tidak memiliki pacar, Kesya pun ingin mencobanya dengan para kakak-kakaknya.
Target 1 : Gabriel Nicholas Ayin.
"Halo, Kak Gab."
"Kenapa, Key?"
Kesya tersenyum tipis. "Kak, Kesya cantik deh di story Kak Gab."
"Hah? Kan story gue video babi joget?"
Oke, gagal.
Target 2 : Raka Anthony Yohanes.
"Mas, lucu ya foto Kesya di story Mas Raka."
"Kesya mengigau? Mas tidak ada memposting story apa-apa."
Dan ini, gagal juga.
Begitu pun seterusnya sampai target terakhir adalah Kenzo.
Mau tau jawaban dari yang lain?
Dio Renaldi Yohanes : "Lo salah reply, Key?"
__ADS_1
Steven Geraldy Yohanes : "Sejak kapan gue posting foto lo?"
Rey Hosea Yohanes : "Stress kali lo."
Ravindra Dexter Julio : "Aku tidak akan tertipu dengan rayuan mu, Bambank."
Yang terakhir, Kenzo Michael Victor : "Story gue udah estetik tanpa foto lo."
Flashback off.
"Emang ya, cuman Kak Boy yang waras dikit diantara semuanya. Eh nggak deng, waras dikit + peka" ucap Kesya yang membuat Boy terkekeh pelan.
"Kenapa lo nggak cobain sama Devan?"
"Tolong jangan memulai peperangan ya, Tuan Grandly" ketus Kesya yang membuat Boy tertawa seketika.
"Anyway, kenapa lo baru nyoba ke gue?" tanya Boy sedikit penasaran.
Kesya terkekeh pelan. "Gue lupa, karena barusan liat video yang sama jadi gue baru inget deh kalau gue belum coba ke lo."
"Dasar pikun, masih muda juga."
"Heh, walaupun gue pikun dan suka lupa naruh iket rambut dimana sampai dibeliin bejibun sama lo, gue masih inget dua tahun yang lalu tepatnya di tanggal 13 Desember, ada cowok nelpon gue malem-malem cuman mau mastiin gue masih di Indo karena barusan mimpiin gue pindah negara" ucap Kesya sewot.
Mendengar hal itu, Boy hanya bisa tertawa canggung karena sangat tau maksud dari omongan Kesya.
Flashback on
Malam itu sekitar pukul 02:27 WIB, Boy terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Ia terbangun dengan wajah pucat membuat semua orang sadar bahwa dirinya baru saja bermimpi buruk.
Dengan segera, ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang di seberang sana. Sampai di panggilan kelima lah baru terdengar suara orang mengangkat panggilannya.
"Hah? Kenapa, Kak?" tanya Kesya yang masih setengah sadar.
"Lo masih disini, kan? Masih di Indo, kan?"
Pertanyaan Boy akhirnya membuat Kesya sepenuhnya sadar.
"Kak Boy kenapa? Gue masih disini kok."
"Gue takut lo pergi.."
"Mimpi buruk ya, Kak?" tanya Kesya yang membuat Boy mengangguk walaupun Kesya tidak bisa melihatnya.
"Udah gapapa, nggak ada yang pergi ninggalin Kak Boy. Gue masih disini kok, kalau pun gue pergi nantinya kan juga satu apart kita."
Akhirnya setelah beberapa kali memastikan Boy baik-baik saja, keduanya pun tertidur dengan panggilan yang masih menyala.
Flashback off.
Ah, ternyata sampai sekarang Kesya tidak tau bahwa bukan itu mimpi buruk yang dialami Boy. Mimpi yang sebenarnya adalah ketika dalam mimpi, Boy tiba-tiba bertemu seorang wanita paruh baya yang mengaku bahwa dirinya adalah ibu kandung dari Boy. Wanita itu mengatakan hal yang membuat Boy benar-benar masih teringat sampai sekarang, ia mengatakan bahwa semua orang akan pergi meninggalkan Boy dan Boy akan hidup sendiri.
Karena itulah Boy segera menelepon Kesya hanya untuk memastikan bahwa gadis pemilik hatinya masih ada dan tidak meninggalkannya.
Kepergian dan kehilangan akan selalu menjadi trauma berat yang sekuat mungkin dihindari olehnya. Dua kata itu akan selalu menjadi kata yang sangat menakutkan untuk Boy kecil yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
*****
Devan beberapa kali menelepon seseorang yang ternyata ponselnya tidak aktif. Ia bingung, tidak tau harus mencari kemana lagi keberadaan Kesya. Ia sadar bahwa kesalahannya sudah tidak bisa dimaafkan sekarang. Ia juga tau jika Steven pasti menyembunyikan Kesya darinya.
__ADS_1
Satu-satunya harapan Devan adalah kedua sahabat Kesya yang mungkin saja tau dimana alamat apartemen Kesya.
"Dhe, lo tau nggak dimana alamat apartemen Kesya?" tanya Devan to the point saat panggilan sedang berlangsung.
Dhea terdiam sejenak seolah sedang berpikir. "Nggak, Kak. Kita nggak pernah bahas soal apartemen sih. Kenapa?"
"Gue boleh minta tolong nggak sama lo?"
"Apa tuh?"
"Tolong minta alamat apartemen Kesya dong. Gue lagi di Seoul pengen kasih kejutan ke dia" ucap Devan berbohong.
"Itu mah gampang. Good luck, Kak!"
Akhirnya, semesta berpihak kepada Devan sekarang.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, terdengar notifikasi pesan dari ponsel Devan yang bisa dipastikan bahwa Dhea sudah menemukan alamat apartemen Kesya.
"Untung aja nggak jauh dari sini" ucap Devan pelan seraya menatap layar ponselnya.
*****
"Mau makan dulu?" tawar Boy saat mereka sedang melewati beberapa restoran kesukaan Kesya.
"Bang Stev sama kembarannya gimana?"
"Mereka mah gampang, tinggal telpon aja bakal kesini. Mau makan dimana?"
"Lo aja deh yang tentuin menunya hari ini, Kak."
"Gue mah makan makanan sisa aja gapapa yang penting bareng lo."
Sialan.-Kesya.
"Gimana kalau makanan Indo? Lo suka nggak?" tanya Kesya mengalihkan pembicaraan membuat Boy terkekeh pelan.
"Gue mah suka masakan lo."
"Yaudah kita makan di rumah aja tar gue masak."
"Sekali-kali ngabisin duit" ucap Boy seraya menghentikan mobilnya di sebuah restoran Indonesia yang tidak terlalu ramai.
Dengan segera, ia keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang lalu mengambil alih baby Ello agar Kesya bisa keluar dengan nyaman.
"Bisa, Kak?" tanya Kesya khawatir karena Boy dengan posisi menggendong baby Ello juga sedang mengambil kereta bayi yang ada di jok belakang.
"Aman-aman. Telpon aja mereka suruh kesini sekarang."
"Oke bentar deh gue coba telpon."
Saat Kesya sedang fokus menelepon Steven agar membawa Dexter ke restoran dimana dirinya dan Boy berada, tatapan Kesya tertuju pada seorang lelaki yang berada di seberang jalan yang sedang fokus melihat ponselnya.
"Devan?!"
*
*
*
__ADS_1