
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Sudah seminggu berlalu, namun tak ada perkembangan yang terjadi pada Kesya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Meski begitu, Boy masih tetap menjadi sosok yang akan memikul rasa khawatir dan takut semua orang dan menggantikannya dengan dukungan penuh dan semangat bersama untuk menunggu Kesya sadar.
Boy akan selalu mengutamakan perasaan orang-orang disekitarnya hingga ia lupa bahwa dirinya pun perlu dihibur. “Gue nggak akan lelah sampai saat dimana gue bisa menatap mata indah lo, Key”
Perlahan, Boy memberanikan diri untuk menggenggam erat tangan Kesya, menatapnya dengan lembut, hingga beberapa kali mulai menyemangati diri sendiri karena ia sungguh merindukan sosok gadis dihadapannya.
“Gue nggak tau harus gimana hidup gue kedepannya kalau lo nggak ada..”. Terdengar helaan nafas berat yang keluar setelah Boy mengucapkan kalimat tersebut.
Klek
Pintu ruangan terbuka dan masuklah Rey yang baru saja tiba di rumah sakit setelah bergantian menjaga Kesya selama beberapa hari terakhir.
Perlu diketahui jika mereka semua masih berada di Indonesia, Steven, Rey, Dio, Gabriel, dan Boy karena mereka masih ingin menemani Kesya hingga sembuh. Awalnya, Papa Aldino menolak namun karena jadwal kuliah Dio dan Gabriel masih bisa dilakukan kuliah susulan beberapa minggu kedepan dan juga Steven, Rey, dan Boy yang masih belum masuk kuliah, akhirnya mau tak mau Papa Aldino menyetujui hal itu dengan catatan satu minggu kedepan Dio dan Gabriel akan kembali ke negara dimana mereka menempuh pendidikan.
“Lo belum balik dari kemaren kan, Boy?” tebak Rey saat melihat Boy masih berada diruangan Kesya
Boy yang melihat Rey langsung melepaskan genggaman tangannya lalu tersenyum tipis. “Gue udah ganti pakaian, tenang”
“Gue rasa kurang tepat waktunya gue kesini, ada yang mulai confess nih keknya” ucap Rey terkekeh pelan saat melihat Boy yang berusaha menutupi rasa malunya karena ketahuan sedang menggenggam tangan Kesya
“Engga, tangannya dingin tadi gue cuma ngerasain suhu tangannya” kilah Boy yang membuat Rey tak bisa menahan tawa sehingga gelak tawanya memenuhi ruangan Kesya.
Setelah selesai sesi lelucon dan tawa, akhirnya Boy kembali mengajak Rey ke pembahasan yang serius yang sejak beberapa hari yang lalu ingin ia tanya tapi belum sempat hingga sekarang
__ADS_1
“Rey.. gue boleh nanya tentang Devan?” tanya Boy pelan
Raut wajah Rey langsung terlihat berubah saat Boy menyebut nama Devan. “Mau tanya tentang apa, Boy?”
“Sorry kalo gue lancang dan nggak seharusnya gue kepo tentang masalah keluarga kalian tapi jujur gue merasa sangat amat nggak enak ada disini karena gue nggak lebih cuman temen lo, karena yang harusnya ada disini itu Devan, bukan gue”.
Boy perlahan memberikan sedikit pengertian kepada Rey agar sahabatnya itu bisa sedikit lembut terhadap Devan karena mau bagaimana pun yang sebenarnya berhak ada disana itu Devan, bukan dirinya
Rey menghela nafas berat sebelum mengatakan sesuatu. “Gue tau ini salah, tapi karena keegoisan gue lah gue nggak mau adek gue sakit lagi, Boy”
“Rey, gimana pun itu bukan sepenuhnya salah Devan. Siapa sih yang mau atau punya pemikiran Kesya bakal kena kasus tabrak lari gini? Nggak ada, kan?”. Rey menggeleng pelan
“Gue ngomong disini didepan lo tanpa ada yang gue tutup-tutupin dan gue ngomong disini sebagai temen lo. Gue ngerti perasaan semuanya pasti kacau banget, tapi coba lo pikir dari sisi Devan, apa dia nggak kacau liat Kesya yang udah seminggu nggak sadar ditambah dia sendiri nggak bisa jenguk Kesya? Gimana rasanya ngeliat orang yang lo sayang menderita tapi lo sendiri nggak punya kekuatan buat sekedar ada disamping dia?”
“Lo nggak sakit ngomong gini, Boy?”
Skakmat. Boy seketika terdiam
“Gue ngomong gini sebagai temen lo. Apa lo nggak sakit ngomong gini? Apa lo nggak sakit selalu memikirkan perasaan orang lain dan nggak peduli dengan perasaan lo sendiri? Ibarat lo dengan semangatnya jadi plester buat orang tapi lo nggak sadar kalo luka lo semakin dalam. Harusnya yang perlu plester itu lo sendiri, bukan orang lain”
Boy benar-benar terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun setelah mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Rey semuanya benar-benar fakta yang ia rasakan.
“Gue udah bertahun-tahun kenal lo, Boy. Sosok yang nggak akan pernah mendahulukan kebahagiaannya daripada kebahagiaan orang lain, siapa lagi kalau bukan lo? Sosok yang selalu ngerasa kalo kebahagiaan orang itu tanggung jawabnya, siapa lagi kalau bukan lo? Apa selama ini lo nggak sadar dengan itu semua, Boy?”
“Sadar..” Terdengar jawaban singkat dan pelan dari Boy
Rey berjalan mendekat dan menepuk pelan bahu sahabatnya itu. “Nggak semuanya bisa lo tanggung sendiri, Boy.”
“Gue nggak bisa, Rey. Daripada gue bahagia diatas penderitaan orang, lebih baik gue yang menderita biar orang-orang bahagia”
“Dan lo mau sakit mulu?”
__ADS_1
“Bukannya gue bakal seneng juga ketika orang yang gue sayang seneng?”
“Bullshit. Hati kecil lo nggak akan pernah terima.”
“Perasaan gue, biar gue aja yang urus.”
*****
Setelah berbicara cukup mendalam dengan Rey tadi, Boy kembali merenungi semua yang diucapkan oleh sahabatnya itu dimana semua kalimat yang keluar dari mulut Rey adalah faktanya, perasaannya yang sesungguhnya, dan hal yang selama ini Boy sembunyikan.
Gue nggak mau kalo seandainya kebahagiaan gue jadi penderitaan buat orang lain.-Boy
Berkali-kali pun ia memikirkannya, jawabannya tetap sama yaitu masih akan tetap mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri. Boy tidak ingin keegoisan hatinya membuatnya kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Dengan mengutamakan orang lain, Boy hanya akan menyembuhkan sedikit demi sedikit luka hati yang selama ini ia sembunyikan tanpa menyeret orang lain untuk masuk ke dalamnya.
“Apa lo masih tetap bersikap seperti itu?”. Lagi, Rey bertanya untuk yang terakhir kalinya
Boy menghela nafas berat sebelum menjawab ucapan sahabatnya. “Kentara banget ya kalau gue terlalu takut dengan lost somebody?”
“I know u did that bcs ur feelings r so deep”. Rey tersenyum tipis
“But..-“ Suara Rey menggantung
Boy yang tidak sabar mendengar ucapan selanjutnya langsung bertanya. “Why?”
“Don’t forget ur self”
“Ah, I see”
*
*
__ADS_1
*