
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
"Kak, lo punya waktu nggak malem ini?" tanya Kesya kepada sang kekasih yang duduk dihadapannya.
Boy menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan ponselnya karena baru saja menanyakan jadwalnya dengan Endru. "Ini baru banget gue nanya Endru, belum dijawab sih tapi keknya nggak ada. Mau ngedate?" tanya Boy yang membuat Kesya mengangguk pelan.
"Kita perlu diskusi tentang beberapa hal sebelum acara."
"Tentang resepsi dan lainnya?" tebak Boy yang membuat Kesya menggeleng pelan.
"Bukan cuman itu aja, ada diskusi yang paling penting dari itu tentang kehidupan kita setelah menikah."
"Mau gue atau lo yang nentuin tempatnya?"
"Kali ini lo aja deh."
"Oke kita ke Roof Love."
Kesya mengangguk setuju.
*****
Jika ada yang bertanya bagaimana dengan yang lainnya, ya semuanya masih terlihat sama saja. Rumah tangga Devan dan Dhea yang sebisa mungkin mereka jalani dengan sepenuh hati terlebih saat ini Dhea sedang hamil besar dan akan segera melahirkan. Bagaimana dengan perasaan keduanya? Jujur saja, Dhea sepertinya sudah jatuh hati dengan sosok suaminya. Walaupun brengsek, tapi Devan adalah sosok lelaki yang perhatian.
"Lo tuh udah dibilang jangan makan seafood tapi masih aja ngeyel. Mau muka lo bentol-bentol?"
Dhea hanya terkekeh mendengar omelan Devan malam ini karena dirinya ketahuan memakan seafood yang ia beli lewat aplikasi.
"Tuh kan aneh banget, gue lagi marah malah diketawain!"
Ah, beberapa kali Dhea sudah membayangkan bagaimana jika ia cium saja mulut yang tidak bisa diam itu? Menggemaskan sekali menurutnya.
"Kak, lo harusnya diem dan pura-pura nggak tau aja sesekali lah bikin gue seneng."
Mendengar hal itu Devan langsung naik pitam. "Gue harus diem aja gitu ngeliat istri gue kenapa-kenapa karena bandel?!"
__ADS_1
Lihat kan? Dhea kembali tersenyum senang hanya karena kata "istri" keluar dari mulut Devan.
*****
Bagaimana dengan Jojo? Lelaki itu sudah mulai mengikhlaskan semuanya bahkan sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang. Tidak ada lagi kepura-puraan dalam usahanya untuk sembuh dari luka yang begitu dalam. Jojo benar-benar sudah berdamai dengan dirinya dan masa lalunya.
"Ada cewek bule minta dikenalin sama lo, orangnya oke, can—"
"Mending lo diem sebelum gue yang cariin cewek buat lo."
Seperti inilah perdebatan-perdebatan antara Jojo dan Dexter setiap harinya karena lelaki itu selalu mengenalkan kepada Jojo tentang beberapa wanita muda yang mungkin bisa saja dilirik oleh sahabatnya itu. Namun, Jojo yang merasa sedang malas menjalin hubungan pun tidak pernah menanggapi ucapan Dexter sehingga mereka selalu berdebat setiap harinya.
"Halo everyone!"
"Kapan nikah, Rey?"
Plak
"Anjing banget lo! Gue baru nyampe udah ditanya pertanyaan menyeramkan gitu" gerutu Rey setelah memukul pundak Dexter.
"Ya apa salahnya gue nanya? Kan itu pertanyaan normal." Dexter yang merasa tidak bersalah pun ikut menaikkan suaranya.
"Coba kalau pertanyaannya gue balikin ke lo, kapan nikah? Oh iya gue lupa, lo kan nggak punya cewek!"
Jojo hanya bisa menghela nafas berat dan mencoba untuk membiasakan diri menghadapi dua lelaki yang entah kapan akan tumbuh dewasa dengan usia yang sudah sangat matang untuk menikah.
*****
Roof Love
Kesya dan Boy memilih tempat pertama kali mereka datang ke cafe ini yaitu atap yang dimana memang keduanya sangat menyukai atap.
"Jadi, Tuan Putri mau bahas apa?" tanya Boy yang membuat Kesya tertawa karena tak biasanya lelaki itu memanggilnya Tuan Putri.
"Menurut gue, pembahasan malem ini penting banget sih Kak, selain masalah wedding organizer, resepsi, dan lain-lain tuh, hal ini yang lebih penting."
Boy menatap Kesya seolah-olah ia siap untuk mendengar apa yang akan dibahas oleh gadis itu.
"First of all, setelah kita nikah nanti rencana Kak Boy mau tinggal dimana? Seperti yang kita tau, baik lo maupun gue sama-sama udah punya tempat pribadi."
Ada senyum tipis yang terlihat di wajah tampan Boy karena ia sendiri tidak menyangka bahwa Kesya akan mengajaknya membahas beberapa hal penting setelah mereka menikah nanti.
__ADS_1
"Kalau misalkan rumah itu kita satuin aja gimana?" tanya Boy yang membuat Kesya menatapnya bingung.
"Kak?! Lo serius?! Pasti perlu renovasi banyak hal lagi dong?"
"Makanya gue tanya pendapat lo, kalau emang lo setuju rumah itu disatuin, secepatnya gue cari pekerjanya. Tapi kalau emang lo nggak setuju, kita bisa cari rumah baru."
"Dari pada beli banyak rumah tapi nggak ditinggalin, menurut gue lebih baik di rumah itu aja. Sebelum rumah itu selesai renovasi, kita bisa tinggal sama Mama atau sama Om Heru, kan?"
Boy mengangguk setuju. "Papa juga pasti seneng banget kalau kita bisa tinggal disana walaupun cuman bentaran."
"Oke untuk masalah rumah itu deal ya? Biaya renovasi nya nanti kita bagi dua aja, Kak. Lanjut, masalah pekerjaan gue yang lo tau banget kalau gue punya bisnis, apa setelah nikah nanti gue masih bisa kerja atau gue harus resign dan jadi ibu rumah tangga aja?"
"Gue mau jadi suami yang supportif, kalau emang lo nyaman dengan pekerjaan lo ya kenapa gue nggak dukung lo aja? Gue tau gimana perjuangan lo bangun karir itu dari nol dan nggak ada alasan logis buat gue ngelarang lo cuman karena kita udah nikah."
"Jadi, gue masih bisa kerja?" tanya Kesya dengan mata berbinar.
Boy terkekeh pelan seraya mengelus pucuk kepala gadisnya. "Tapi jangan terlalu full ya? Jangan sampai lo kecapekan."
"Pertanyaan selanjutnya, untuk masalah keuangan gimana, Kak? Kita sama-sama punya gaji walaupun gaji gue nggak segede gaji nya Presdir" ucap Kesya tertawa.
"Walaupun calon istri gue punya gaji sendiri, gue tetap harus nafkahin dan kasih uang bulanan."
"Gimana kalau uang bulanan Kak Boy buat keperluan kita nantinya, terus gaji gue ditabung buat keperluan mendadak dan persiapan pendidikannya Ello?"
"Selain uang bulanan, gue juga bakal kirim uang pendidikan Ello, itu tanggung jawab gue."
"Loh? Gapapa pakai gaji gue aja, Kak" ucap Kesya yang membuat Boy menggeleng tegas.
"Next question." (Pertanyaan selanjutnya.)
Kesya menghela nafas berat karena ia tau bahwa lelaki itu tidak mau mengalah. "Last question, how do we take care of children? You know what I mean." (Pertanyaan terakhir, bagaimana cara kita mengurus anak-anak? Kau tau maksudku.)
Boy mengerti maksud dari pertanyaan Kesya adalah bagaimana Boy akan menerima Ello yang jelas-jelas bukan darah dagingnya. Lelaki itu segera menangkup wajah Kesya sehingga mata keduanya bertatapan.
"Look at me, if u're worried about Ello, trust me. I will not differentiate between children in the future, Ello will still be my son, and our son." (Lihat aku, kalau kamu khawatir tentang Ello, percaya aku. Aku nggak akan membedakan anak-anak nantinya, Ello akan tetap menjadi anakku, dan anak kita.)
Perlahan, tangan Boy mengelus pucuk kepala Kesya dengan sangat lembut. "Ello anak kita, jagoan Daddy Boy."
*
*
__ADS_1
*