Tentang Kesya

Tentang Kesya
Menghindar


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanyađŸ„°.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membacađŸ„°đŸ˜˜.


*****


Devan dengan segera merengkuh tubuh gadis mungil dihadapannya dan untuk pertama kalinya pertahanan Kesya runtuh dimana ia menangis sejadi-jadinya dipelukan Devan. Hati Devan benar-benar sakit mendengar tangisan Kesya terlebih saat ia merasakan tubuh itu bergetar hebat mengeluarkan tangis yang selama ini ia pendam.


“Kesya salah apa, Kak..? Kenapa Kesya nggak pernah bahagia..?”


Devan mengeratkan pelukan tanpa tau harus menjawab apa dari setiap pertanyaan yang keluar dari mulut gadisnya.


“Apa Kesya emang nggak pantes buat bahagia..?”


“Sayang.. Jangan ngomong gitu ah”


“Kesya beban ya, Kak?”


“Hei, siapa yang bilang gitu? Nggak, Sayang. Kesya nggak beban”


“Kak..”


“Ssttt, udah ya.. Istirahat dulu, jangan banyak pikiran”


Kesya diam tanpa tau harus mengatakan apa lagi.


Tak lama pintu ruangan terbuka dan masuklah perawat yang memberikan makan siang serta obat yang harus Kesya minum.


“Terima kasih, Sus”


Dengan segera Devan mengambil alih nampan itu lalu ingin menyuapi gadis kecilnya namun Kesya menolak.


“Nggak laper”


“Makan itu jangan tunggu laper. Ayo makan dulu”


Setelah membujuknya beberapa kali, akhirnya Kesya mau makan dengan disuapi oleh Devan.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh arti.


*****


Hari ini adalah hari terakhir Kesya dirumah sakit dan besok ia akan kembali ke rumahnya membuat Kesya benar-benar takut karena Mami dan Papi nya yang sudah memintanya untuk pergi.


“Kesya besok pulang, ya?” ucapnya ketika Raka baru saja mengatakan bahwa kesehatannya semakin membaik.


Gabriel mendekat dan mengelus pucuk kepala sang Adik. “Kenapa, dek?”


“Kesya takut, Kak. Mami dan Papi kan udah nyuruh Kesya pergi”


“Hei, nggak boleh ngomong gitu. Mungkin Mami nggak sadar karena kan semuanya lagi berduka” ucap Gabriel berusaha menenangkannya.


“Ini serius Kesya balik kerumah?”. Lagi, Kesya bertanya lagi untuk memastikan semuanya yang ia sudah tau jawabannya.

__ADS_1


“Gapapa, ada aku” ucap Devan seraya mengelus pucuk kepala Kesya dengan penuh kasih sayang


Rey yang melihat itu pun langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa membuat Kesya menatapnya heran. “Kak Rey buru-buru banget”


“Mungkin ada perlu. Gue susul bentar ya, Key” ucap Boy yang langsung pamit mengikuti Rey yang bisa dipastikan bahwa ia akan pergi ke atap.


Atap


“Kenapa lagi, Rey?” tanya Boy basa-basi.


Rey terkekeh pelan. “Lo basa-basi banget padahal udah tau alesannya kenapa”


“Kenapa lo nggak coba kasih kesempatan buat Devan? Siapa tau kan dia bener-bener berubah”


Rey berbalik dan menatap sahabatnya dengan tatapan penuh arti. “Gue tau gue egois tapi sorry, gue bener-bener nggak bisa kasih kesempatan buat siapapun yang nyakitin Kesya”


Boy tau bahkan tanpa ia bertanya pun ia tau jawaban yang keluar dari mulut Rey hingga ia menghela nafas berat melihat sosok sahabatnya yang dihadapannya sangat keras kepala. “Kalo emang mereka jodoh, gimana?”


“Mungkin gue bakal ngikutin Mas Raka”


****.-Boy


“Rey, ayolah.. Masa lo egois buat kebahagiaan Kesya?”


Berbagai cara Boy lakukan untuk membantu Devan mendapatkan restu kembali dari saudara-saudara Kesya walaupun ia juga merasakan sakit.


“Stop, Boy. Lo nggak perlu berusaha buat orang lain sampai nyakitin diri lo gini.”


Damn. Boy kalah telak.


*****


Klek


Pintu terbuka dan masuklah Steven membawa kresek ice cream dengan rasa kesukaan Kesya membuat lamunannya buyar seketika diganti dengan mata berbinar ketika melihat ice cream kesukaannya.


“Cuman boleh satu” ucap Steven yang membuat Kesya langsung mengerucutkan bibirnya.


Melihat hal itu, Devan terkekeh seraya mengelus pucuk kepala gadisnya. “Masih sakit loh, harusnya nggak boleh makan ice cream dulu.”


“Yaudah deh lebih baik satu dari pada nggak sama sekali” ucap Kesya dengan wajah yang masih kesal.


Dengan segera, Kesya mengambil ice cream dari dalam kresek dan mulai memakannya seperti anak kecil.


“Pelan-pelan” ucap Steven memperingati.


“Kak Devan mau?”. Kesya menawarkan ice cream nya kepada Devan membuat lelaki itu menggeleng pelan.


“Baguslah, tadi cuman basa-basi”


Semuanya terkekeh mendengar ucapan Kesya.


“Oh ya, Kak Gab kapan balik?”


Tiba-tiba Kesya kembali berbicara membuat Gabriel yang sedang bermain game langsung terhenti dan menatapnya.

__ADS_1


“Tiga hari lagi barengan sama Kak Isa” ucap Gabriel pelan seolah tidak ingin mengatakan kepulangannya kepada sang Adik.


Tentu saja Gabriel sudah bisa menebak bagaimana raut wajah Kesya ketika ia tak lama lagi kembali ke Amerika.


“Brother juga ya? Bang Stev? Kak Rey? Kak Boy?”


Terdengar helaan nafas sebelum salah satu dari mereka yang ada di ruangan Kesya menjawab pertanyaannya.


“Brother besok, sekarang lagi packing. Kalo Abang kan masih lama sama Kak Rey dan Boy juga”


“Agustus ya? Biasanya Agustus-September udah masuk semester baru. Agustus bentar lagi”


Semuanya hanya diam tanpa tau harus menjawab apa.


“Kak Devan gimana? Harvard kapan semester baru?”


Devan tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Kesya. “Seminggu lagi.”


“Kesya bakal sendiri lagi..”


“Nggak lah, kan masih ada Abang, ada yang lain juga”


“Kan semuanya harus kuliah. Kesya ditinggal sendirian.. Kiara juga ud—”


“Ssttt, udah ah ngomong gitu”


“Kesya kangen Kiara..”


*****


Hari ini, Kesya akhirnya kembali kerumah namun dirinya benar-benar cemas karena ia tak tau apa yang akan dilakukan oleh Franklin dan Citra terhadapnya karena mereka sudah mengusirnya.


“Udah siap?” tanya Raka saat ia baru saja memasuki ruangan Kesya dan melihat semuanya sudah bersiap.


Raka memang tidak pernah berbicara lagi kepada Devan terlebih sejak ia tidak akan pernah menyetujui hubungan Kesya dan Devan namun ia akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja dihadapan Kesya karena ia tak ingin adiknya tau bahwa dirinya tidak setuju dengan lelaki pilihannya.


“Mas, Kesya pulang sama Kak Devan ya?”


Sekilas, Raka menatap Devan yang juga ternyata sedang menatapnya.


“Terserah saja mau sama siapa yang penting sampai ke rumah. Ini Kakak dimana?” tanya Raka ketika tidak melihat Rey di ruangan Kesya.


“Nggak tau, Kak Rey aneh banget suka ilang. Kemaren aja langsung pergi tanpa ngomong sama Kesya. Apa ada masalah dengan orang-orang disini? Atau Kak Rey lagi marah ke Kesya ya?” tanya Kesya seraya menatap Raka dengan tatapan penuh tanda tanya seolah merasakan keanehan Kakaknya itu.


“Rey masih emosi mungkin.”


Deg.


Sungguh, Raka dan Gabriel ingin sekali memotong Steven hidup-hidup bersama dengan mulut bocornya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2