Tentang Kesya

Tentang Kesya
Di Usir


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Kesya segera bangun dari tidurnya lalu merapikan tempat tidur Boy seraya pikirannya kembali pada malam kemarin dimana ia benar-benar tidak ingat bagaimana bisa berakhir di kamar Boy.


"Gue nggak macam-macam kan kemaren?" gumamnya pelan seraya memukul kepalanya karena melupakan kejadian malam kemarin.


Seketika, pikiran mesum hinggap sebentar di otaknya membuatnya segera berlari menuju kaca dan menatap tubuhnya dengan teliti, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.


"Gue masih suci, kan?" ucapnya pada diri sendiri.


"Kak Boy nggak macam-macam, kan?"


"Lo kira gue mesum?"


Deg.


Tentu saja ucapan Boy membuat Kesya segera mematung lalu berbalik terkekeh pelan seraya memeluk tubuhnya erat membuat Boy tertawa seketika.


"Gue nggak macam-macam, lo aja kemaren yang nyosor gue" ucap Boy iseng yang membuat Kesya segera memegang bibirnya.


"FIRST KISS GUE?!" teriak Kesya heboh yang tentu saja membuat Boy tergelak hingga kamar tersebut dipenuhi gelak tawa Boy.


"Gue becanda. Nih, mandi dulu cepet sarapan" ucap Boy seraya memberikan paper bag yang berisi pakaian wanita yang ia minta kepada salah satu pelayan rumahnya untuk membelinya tadi pagi.


Kesya segera mengambil paper bag tersebut lalu mengusir Boy agar keluar dari kamar.


"Kak Boy ngapain? Gue mau mandi"


"Kan gue mau nungguin lo" ucap Boy yang lagi-lagi iseng.


"KAK BOY!"


Seketika, Boy berlari meninggalkan Kesya yang menggerutu kesal.


"Iseng banget, heran."


*****


Beberapa saat kemudian, Kesya sudah turun ke lantai bawah dan berjalan menuju meja makan yang dimana Boy sudah menunggunya.


"Kak, kok bisa gue berakhir disini?" tanya Kesya menatap Boy sedangkan yang ditatap pura-pura tidak melihat.


"Makan dulu" jawab Boy singkat.


Akhirnya, Kesya mengalah dan menyantap sarapan pagi bersama Boy.


"Enak. Kak Boy bisa masak, ya?" tanya Kesya ditengah-tengah acara sarapan pagi yang hanya dibalas dengan anggukan Boy.


"Nggak mau buka restoran aja dari pada bisnis?"

__ADS_1


"Yang ada cuman lo sendiri jadi pelanggannya."


Kesya tertawa. "Biar gue aja yang cuci piringnya, Kak."


"Lo mau ada scene pelukan dari belakang?" tanya Boy enteng yang membuat Kesya seketika batuk-batuk karena memang saat Boy bertanya, ia sedang minum.


"KAK BOY EMANG GILA!"


Dengan segera, Kesya berlari menuju dapur untuk mencuci piring meninggalkan Boy yang tertawa keras karena lagi-lagi berhasil menjahili Kesya.


*****


Disinilah mereka berada di ruang keluarga dengan televisi yang menyala karena setelah selesai drama sarapan pagi tadi, Boy langsung mengajak Kesya menonton dan memakan ice cream bersama.


Kesya tau bahwa Boy pasti sangat ingin bertanya ada apa dengannya namun mungkin Boy merasa tidak enak jika harus membahasnya dahulu sehingga Kesya mulai membuka suara.


"Kak, gue kemaren nggak ngomong aneh-aneh?" tanya Kesya menatap Boy.


Boy diam sebentar, pikirannya kembali pada saat Kesya menyatakan perasaannya membuatnya tersadar seketika. "Nggak, aman kok."


"Gimana Kak Boy bisa tau gue ada di bar Kak Bobby?" tanya Kesya penasaran.


"Bobby yang kasih tau gue karena sore sebelumnya kita main basket bareng, jadi dia tau gue ada di Indo."


Kesya hanya membulatkan mulutnya ketika Boy menjelaskan padanya.


Keduanya lagi-lagi terdiam membuat Kesya merasa tidak nyaman sehingga ia kembali membuka suara.


"Kak?"


"Hm?"


Boy tersenyum tipis. "Gue tau lo pasti punya alasan kenapa sampai berani masuk bar untuk pertama kalinya. Dari kemaren malam gue sangat amat penasaran tapi gue nggak mau bahas duluan karena takut lo makin tersakiti."


Tolong.-Kesya


"Gue dijodohin, Kak.."


****. Boy tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Gue nggak laku banget ya sampai dijodohin gitu?". Kesya terkekeh pelan namun air mata sudah mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Siapa?"


"Dexter. Anak rekan Papi dan ternyata temen baru gue."


Ada jeda sebentar sebelum Kesya kembali melanjutkan ucapannya.


"Birthday kemaren gue nggak sengaja nabrak Dexter dan berujung kita jadi akrab. Sebelum pertemuan, kita saling cerita kalau sama-sama dijodohin eh taunya malah dia calon gue."


"Perjodohannya jadi?" tanya Boy hati-hati


Kesya tersenyum seraya menggeleng pelan. "Gue dan dia sama-sama nolak. Tapi, gue takut Dexter diomelin sama bokap nya. Anyway, bokap nya mirip Papi, sedikit galak."


Belum sempat Boy membuka suara, tiba-tiba ponsel Kesya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Asyera.

__ADS_1


"Halo?"


"Kak, pulang.."


"Papi marah, ya?"


"Iya.. Kak Kesya pulang ya?"


"Bentar, Kakak otw."


Panggilan pun terputus.


Kesya tersenyum tipis seraya menatap Boy. "Kak, gue balik dulu ya?" ucapnya berpamitan.


"Lo tau kan kalau lo selalu bisa kesini apapun keadaan lo?"


Ada air mata yang mengalir seolah menjadi jawaban atas ucapan Boy barusan.


Gue kangen lo.-Kesya.


*****


Halaman Rumah Franklin


Mobil Kesya berhenti tepat di halaman rumah Franklin membuatnya segera masuk ke rumah yang ternyata sudah ditunggu oleh Franklin dan Citra.


"Kemana saja kamu?!" tanya Franklin ketika Kesya berjalan melewati mereka.


Kesya pun menjawab singkat. "Rumah temen."


"Mau tidak mau kamu harus menerima perjodohan ini."


Tentu saja hal itu membuat langkah kaki Kesya yang hendak menuju kamar terhenti. "Kesya nggak mau Pi, Dexter aja nolak."


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kesya membantah ucapan kedua orang tuanya.


"Apa kamu tau karena keputusan konyol mu itu perusahaan kita hampir bangkrut? James menanam banyak saham di perusahaan kita dan dia kembali menariknya ketika mendengar kalian tidak menerima perjodohan ini."


Deg.


Kesya tertawa miris. "Oh, jadi gitu? Ternyata Kesya nggak lebih penting dari perusahaan sampai-sampai Papi mau menjual Kesya ke Om James."


Plak


Tamparan keras mendarat mulus di wajah cantik Kesya.


"Papi!" teriak Citra terkejut sedangkan Kesya hanya tersenyum miris.


"Pergi kamu dari rumah, saya tidak pernah mau punya anak pembangkang seperti kamu" teriak Franklin sejadi-jadinya.


"Oke kalau itu yang bisa bikin Mami dan Papi bahagia."


Kesya segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian dan barang pribadinya. Tak lama kemudian, ia turun dengan membawa dua koper besar dan menyerahkan atm, tabungan, dan ponsel yang diberikan Franklin kepadanya. Sungguh, Kesya tak membawa apapun selain kepunyaannya sendiri.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2