
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Hari-hari Kesya kembali seperti biasa. Tidak ada yang spesial terlebih hubungannya dengan Steven semakin berjarak. Bahkan hingga kepulangan Rey ke Italia pun, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di apartemen mereka.
Perihal Boy, ia masih bersikap seperti biasa, membantu memasak jika Kesya kelelahan, membantu menjaga baby Ello, dan sebagainya. Hanya saja, Kesya menangkap perubahan itu.
Seperti sekarang, seolah tidak ingin terlalu lama bersamaan dengan Kesya, Boy memilih kembali ke kamar saat melihat Kesya pergi ke dapur.
Kesya hanya bisa menghela nafas berat melihat semuanya. Hubungannya dengan Devan sudah mulai membaik tapi hubungannya dengan kakak-kakaknya malah semakin berjarak.
Ting.
Ponsel Kesya berdering menandakan sebuah notifikasi yang muncul di ponselnya.
dvnn_ "so pretty @cloresya ❤️"
Ternyata Devan memposting foto mereka saat berjalan-jalan di Namsan Tower hari itu. Kesya tersenyum tipis seraya membuka komentar yang sudah cukup banyak memenuhi kolom komentar.
@tasyaa.a "Loh? Masih jadian?"
@fans.devan_ "Benteng begitu tinggi sulit untukku gapai~"
@jonathh "Nyempetin diri nyamperin ayang. Jadi pengen ketemu ayang juga @dherea_gaman."
@kiranaaa "CURANG BGTT NGGAK NGAJAK-NGAJAK!!"
@ferowld "Lah? Masih sama kakak cantik? Buset udah berapa tahun?"
Dan masih banyak lagi komentar orang-orang.
Ponsel Kesya kembali berdering. Ternyata panggilan masuk dari Gabriel.
"Halo, Kak.."
"Balik sama Devan?" tanya Gabriel to the point.
Kesya terdiam. Ia tau bahwa seluruh keluarganya pasti akan menentang keputusannya.
"Kamu nggak mabuk, kan? Kenapa masih mau?"
"Kak.. Kesya cuman mau denger penjelasan Devan" ucap Kesya pelan.
Gabriel menghela nafas panjang. "Berapa kali dia udah nyakitin kamu? Jangan lupa kalau kamu berkali-kali juga masuk rumah sakit gara-gara dia."
"Dia pasti berubah, Kak.."
"Kamu tau kan konsekuensi dari keputusan yang kamu ambil? Terima resiko itu sendiri. Kak Gab tau kalau Steven dan Rey pasti marah besar."
__ADS_1
Kesya mengangguk pelan. "Kesya janji nggak jadi beban lagi."
*****
Lima bulan kemudian
Suasana di apartemen masih sama seperti bulan-bulan sebelumnya dimana Steven masih mendiami Kesya. Ia bahkan tidak pernah lagi mengobrol dengan adiknya setelah kejadian itu. Hubungan mereka benar-benar sangat berjarak.
"Hei, morning anak Papa" ucap Steven saat melihat Ello yang sudah bangun.
Ello yang sudah bisa duduk sendiri pun didudukkan Boy di keretanya karena ia ingin menyiapkan sarapan pagi untuk Ello.
"Dia dimana, Boy?" tanya Steven menatap Boy yang sibuk menyiapkan bubur untuk Ello.
Boy menggeleng pelan seolah tanda bahwa ia juga tidak tau Kesya dimana. Karena beberapa hari terakhir ini Ello memang tidur bersamanya.
Kesya sudah mempekerjakan dua orang Ahjumma yang akan membantunya mengurus rumah dan mengurus Ello. Terlebih sekarang ia sudah cukup aktif di kampus, apalagi Steven dan Boy yang sudah memasuki tahun ketiga berkuliah.
Dua Ahjumma tersebut akan datang pada pukul 08:00 dan akan pulang pada pukul 17:00 waktu setempat. Mereka akan menemani Ello di rumah dan mempersiapkan segala kebutuhan selama ditinggalkan oleh Kesya. Pun dengan Boy dan Steven yang tidak bisa selalu ada untuk bayi itu.
"Dad-dad-daddy.."
Tiba-tiba Ello berceloteh hingga membuat Boy dan Steven terkejut.
"Anjir! Anak gue kok manggil lo?!" ucap Steven tidak percaya.
Memang, akhir-akhir ini Steven selalu mengajarkan Ello untuk memanggil Boy dengan panggilan Daddy walaupun bayi itu bahkan belum mengerti apa-apa di usia delapan bulan lebih.
"Hei?! Kok udah bisa manggil Daddy?! Coba panggil Papa." Lagi-lagi Steven mengajarkan Ello untuk memanggilnya Papa sedangkan Boy masih terdiam.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ada getaran hebat dalam hati Boy saat mendengar celotehan bayi yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu. Boy menatap Ello berkali-kali seolah tidak percaya bahwa anaknya sudah besar bahkan sudah bisa menyebut kata "Daddy".
"Ihh Papa marah ya? Ello nggak mau nyebut nama Papa" ucap Steven yang berpura-pura untuk kesal.
Hal itu malah membuat Ello tertawa seketika.
Cup.
"Anak pintar, sehat selalu, Son."
Tak lama kemudian, kedua Ahjumma yang dipekerjakan pun datang membuat Steven segera berlari untuk membukakan pintu untuk mereka.
"Joh-eun achim-ibnida seonsaengnim. Neo ajig daehag an gassni?" (Selamat pagi, Pak. Apakah belum berangkat kuliah?) ucap salah seorang Ahjumma dengan sopan.
"Ajig ttaega aniya, Ahjumma." (Belum waktunya, Bi).
Kedua Ahjumma tersebut pun mohon pamit untuk membersihkan rumah karena melihat Ello yang sedang sarapan bersama Boy.
"Lo berangkat jam berapa?" tanya Steven saat ia sudah kembali ke meja makan.
"Gue cuman ada kelas siang hari ini."
"Yah, gue duluan deh kalau gitu. Soalnya pagi ini ada seminar jurusan. Minta Ahjumma buat bangunin dia suruh sarapan."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Steven pun segera beranjak tak lupa untuk mengambil tas dan berpamitan kepada anaknya yang masih makan.
Walaupun sudah berbulan-bulan mereka tidak saling bertegur sapa, Steven masih memegang peran kakak yang akan selalu memperhatikan Kesya dari jauh. Ia akan selalu mendapat laporan harian dari Ahjumma tentang semua kegiatan Kesya setiap harinya.
"Kenapa nggak baikan aja?" gumam Boy seraya kembali memakan sarapannya.
*****
Ting.
Devan mengirimkan foto.
Laporan : nggak bisa tidur lagi kangen ayang.-Devan.
Kesya yang saat itu baru saja terbangun dari tidurnya pun hanya bisa terkekeh pelan melihat Devan yang mengirimkannya pesan saat tengah malam.
Perbedaan waktu antara Seoul dan Cambridge terkadang membuat keduanya sedikit kesusahan untuk sekedar berkomunikasi seperti misalnya sekarang dimana Kesya sudah bangun dan Devan yang masih tidur.
Ayang nya udah berpindah hati.-Kesya.
Setelah mengirimkan balasan pesan, Kesya pun beranjak dari tidurnya untuk mandi dan bersiap pergi ke kampus.
"Loh? Nggak ke kampus, Kak?" tanya Kesya saat melihat Boy yang sedang bermain bersama Ello.
Boy menggeleng pelan. "Makan sana, gue udah masak makanan kesukaan lo" ucap Boy seadanya.
Kesya pun pergi ke dapur lalu menyapa kedua Ahjumma yang sedang bekerja.
Tak lama kemudian, ia pun berpamitan pergi ke kampus meninggalkan Boy yang masih sibuk bermain dengan sang anak.
Seoul National University
"Key!" teriak Widya saat melihat sahabatnya itu.
Saat ini, memang Kesya mempunyai beberapa teman dari luar negeri seperti Widya yang ternyata dari Jakarta, Edward dari Inggris, Lee Jang Jun dari Busan, dan Azka dari Prancis.
"Hei, semangat banget bun" ucap Kesya yang membuat Widya tertawa.
"Gue semakin yakin kalau Jang Jun naksir lo."
Topik pembicaraan Widya setiap hari : Lee Jang Jun.
"Gue malah makin yakin kalau lo yang naksir dia. Nggak ada hari tanpa nama Jang Jun" ucap Kesya sedikit kesal.
Bagaimana tidak? Baik Widya, Edward, maupun Azka selalu menjodohkan keduanya.
"Tuh kan dugaan gue bener."
Lee Jang Jun bersama dengan Edward dan Azka berjalan mendekati Kesya dan Widya. Di tangan Lee Jang Jun ada sebotol susu cokelat yang bisa dipastikan akan diberikannya kepada Kesya.
Benar kan? Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung menyodorkan minuman itu untuk Kesya membuat ketiga sahabat mereka yang lain semakin berharap keduanya memiliki hubungan.
*
__ADS_1
*
*