
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
"Dia ngehamilin cewek."
Deg.
Kesya benar-benar terkejut mendengar ucapan Dexter yang tiba-tiba hingga membuat kakinya lemas seketika. Untung saja saat itu Boy baru saja keluar dari kamar sehingga dengan segera berlari dan menahan Kesya agar tidak jatuh ke lantai.
"Kenapa? Ada berita buruk apa?" tanya Boy dengan raut wajah khawatir.
Kesya yang pikirannya masih kacau pun hanya bisa diam tanpa bersuara.
Dengan segera, Boy mengambil ponsel yang masih berada di genggaman Kesya.
"Ada berita buruk apa, Dex?" tanya Boy to the point.
Dexter diam namun helaan nafasnya membuat Boy semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan pastinya menyangkut Devan.
Boy mengenal Dexter cukup akrab sejak hari pertama mereka bertemu.
Flashback on
Sore itu, Kesya mengajak seluruh kakak-kakaknya termasuk Boy untuk bertemu dengan Dexter yang sudah akrab dengannya.
Tentu saja dalam pertemuan itu, Dexter diberikan banyak pertanyaan nyeleneh karena baik Gabriel, Dio, Steven, dan Rey akan selalu menjadi tameng jika ada lelaki yang mendekati adik kesayangan mereka.
Dexter yang mempunyai sifat menyenangkan pun sangat cepat akrab dengan keluarga Kesya bahkan ia dimasukkan dalam grup chat bodyguard Kesya.
Sejak pertemuan itulah semua orang mengenal Dexter dengan baik termasuk Boy.
Flashback off.
"Si anjing berulah lagi."
Tanpa dijelaskan lebih lanjut, Boy pun sudah paham maksud dari ucapan Dexter.
"Parah?"
"Ngehamilin cewek."
"****!"
Boy sadar bahwa masih ada Kesya di sebelahnya, Boy langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Maaf ya" ucap Boy pelan seraya mengelus pucuk kepala Kesya.
Inilah yang menjadi kebiasaan Boy ketika ia tanpa sadar mengucapkan kata kasar di hadapan Kesya, dengan segera ia langsung meminta maaf.
"Lo jangan ngelakuin apa-apa disana. Kita cuman perlu keputusan apa yang diambil Kesya."
__ADS_1
"Lo gila? Ada cowok nyakitin adek gue dan gue diem doang? Nggak akan gue biarin dia hidup tenang" ucap Dexter yang dipastikan sudah dipenuhi dengan emosi.
"Dex, emangnya kalau pake otot bisa kembaliin semuanya?" tanya Boy yang membuat Dexter terdiam.
Boy memang selalu bisa diandalkan dari semua orang. Ia akan menjadi orang yang bisa berpikir dengan kepala dingin tanpa amarah dan emosi membuat kehadirannya begitu penting dalam menjaga Kesya.
"Jangan ngelakuin hal bodoh. Gue tutup dulu."
Setelah memutuskan panggilan secara sepihak, Boy langsung meletakkan ponsel Kesya di atas meja lalu menatap gadis dihadapannya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan rapuh.
Kesya hanya diam namun tatapannya sangat dalam membuat Boy segera merengkuh tubuh gadis mungil tersebut.
"Jodoh itu nggak akan bisa ketuker. Kalau takdir Tuhan buat nyatuin, mau pake cara apapun pasti bakal bersama."
Kesya diam namun pelukannya semakin mengerat.
"Eyang Habibie kan pernah bilang kalau emang dia ditakdirkan buat kita, mau orang lain jungkir balik, ngitung bintang, ngukur aspal, makan batu pun dia bakal tetap jadi milik kita. Nggak perlu khawatir tentang jodoh, semuanya udah diatur sama Tuhan. Lo nggak belajar dari gue? Gue yang lebih tua aja nggak pernah kepikiran kesana" ucap Boy dengan ciri khasnya yang berusaha untuk menenangkan Kesya.
"Ambil keputusan disaat kepala lo udah dingin dan nggak dipenuhi dengan rasa kecewa dan emosi. Keputusan yang diambil saat emosi itu nggak baik dan lo tau itu, kan?"
Kesya mengangguk.
"Jadi? Tenangin diri lo dulu, baru setelah itu kita mikir lagi ya?" ucap Boy seraya mengelus pucuk kepala Kesya dengan lembut.
"Gue selalu bilang kalau setiap air mata lo jauh, gue selalu sakit. Jadi tolong, jangan buang air mata yang berharga itu dengan sia-sia.."
Uhuk uhuk
Aduh, si jomblo tua mengganggu suasana romantis saja.
"Bisa nggak sih pagi-pagi jangan kasih gue tontonan gratis gini? Gue nikahin juga lo berdua lama-lama" gerutu Steven dengan kesal seraya membuka kulkas mencari minuman dingin.
Boy kembali mengelus pucuk kepala Kesya dengan lembut membuat gadis itu menoleh kearahnya. "Itung-itung lo belajar kasian sama diri lo selama beberapa tahun kedepan" ucap Boy tertawa.
"Makin kesini gue makin sadar kalau lo pernah keracunan makanan. Atau karena lo terlalu sering bergaul dengan Kesya makanya jadi ceplas-ceplos juga?"
"Yang ada karena pengaruh circle Bang Stev, makanya Kak Boy yang pendiem aja jadi bobrok gini" ucap Kesya menanggapi.
Ucapan Kesya membuat senyum di wajah Boy terlihat. Bukan tanpa alasan, Boy senang jika Kesya kembali menjadi dirinya sendiri dan seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan Steven.
"Sumpah, gue bakal nikahin lo berdua."
"Sabar ah, baru juga tahun kedua gue kuliah. Anak orang mau gue kasih makan apa? Dia kan makannya paling banyak."
Plak
"Kak Boy ih!"
"Hahahaha."
*****
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Pukulan keras mendarat dengan mulus di wajah tampan Devan yang saat itu baru saja terbangun dari tidurnya.
Darah segar sudah mengucur deras dari bibir dan hidungnya. Pukulan tiba-tiba tersebut tidak sempat ia hindari terlebih ketika kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
Devan menatap wajah orang yang ada di hadapannya.
Vino, kakak pertamanya dan.
Gabriel.
****. Apa yang gue lakuin?-Devan.
Devan menatap sekelilingnya. Ia tau bahwa dirinya sedang berada di sebuah kamar dengan Vino, Gabriel, dan Ziko yang sudah berdiri di hadapannya.
Tatapan Devan terpaku ketika ia melihat seorang gadis disebelahnya yang juga sedang menatapnya.
"****! What are u doing?!" teriak Devan terkejut.
Terlebih ketika melihat gadis itu hanya menutupi tubuhnya dengan selimut membuat Devan seketika sadar bahwa ia juga setengah telanjang dada.
"Zik, bawa cewek ini keluar."
Hanya dengan ucapan itu, Ziko segera menurutinya.
Devan diam menatap Vino dan Gabriel segara bergantian sedangkan Gabriel memang seolah menghindar dari tatapannya.
Bugh
Lagi. Vino memukul Devan membabi-buta.
"Vin!" teriak Gabriel yang berusaha untuk melerai keduanya.
Jika tidak ada Gabriel, Devan akan mati di tangan kakak kandungnya sendiri.
"Gue nggak pernah ngajarin lo jadi cowok brengsek! Lo kenapa, Dev..? Lo kenapa berubah gini..? Gue nggak pernah habis pikir dengan semua yang lo lakuin.."
Vino kecewa, benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga sang adik dengan baik sehingga Devan terjerumus dalam pergaulan bebas seperti sekarang.
"Setiap gue denger kabar lo mabuk, lo balap liar, lo ngebar, gue selalu salahin diri gue sendiri karena gue nggak becus jadi kakak lo. Awalnya gue kira kenakalan lo cuman sampai disitu aja. Tapi sekarang, lo anjing banget. Lo cowok brengsek yang pernah gue temuin. Lo main cewek, Dev! Main cewek disaat cewek lo disana selalu percaya sama lo! Gue nggak tau mau ditaruh dimana muka gue dihadapan Gab.."
Ucapan itu membuat Devan seketika menatap kearah Gabriel yang juga ternyata sedang menatapnya.
Tatapan Gabriel benar-benar dingin dan menusuk membuat Devan sangat yakin bahwa kedua orang yang berdiri dihadapannya sangat kecewa terhadapnya.
Bego banget gue..-Devan.
"Anjing lo, Dev!"
Deg.
*
*
__ADS_1
*