Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kenyamanan


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Malam ini, adalah malam kedua menunggu jenazah. Semua orang sudah berkumpul di kediaman Franklin termasuk Rey dan Dio yang baru saja tiba karena harus menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke Indonesia.


Bagaimana dengan keadaan Kesya? Gadis itu tidak mau beranjak dari tempatnya, ia hanya pamit untuk mandi dan tidak mengisi perut. Selama duduk di hadapan jenazah Franklin, Kesya selalu diam, mengelus wajah yang tertidur damai tersebut seraya sesekali menggenggam tangan Papi nya.


Di pikirannya hanya memikirkan bahwa Franklin tertidur sebentar dan akan bangun lagi setelahnya atau ia hanya memikirkan ini semua mimpi buruk sebagai bunga tidurnya. Entah sampai kapan ia menunggu jenazah tersebut bangun kembali dan memeluknya.


"Pi.. padahal kan Kesya mau ajak Ello pulang sebulan lagi tunggu libur.. katanya Papi kangen ketemu Ello.."


Kesya masih ingat sekali bagaimana momen terakhir yang mereka habiskan bersama.


Flashback on


Saat itu Kesya sedang melakukan panggilan video bersama Asyera yang diketahui sedang berada di Indonesia. Kebiasaan mereka setiap video call adalah tentu saja dengan harus berbicara kepada Ello.


"Ello mulu, gue nya dicuekin" ucap Kesya yang membuat Asyera tertawa.


"Lo kan udah sama Kak Devan. Udah cepetan mana Ello, ini Papi mau ketemu cucunya."


Kesya pun segera mendekatkan ponselnya kepada Ello yang sedang merangkak kesana kemari, berusaha untuk berdiri dengan berpegangan pada sesuatu dihadapannya, dan berlari memeluk Boy ketika melihat Boy melewatinya.


"Cucu Papi udah gede aja, kapan nih pulang? Papi kan kangen pengen peluk" ucap Franklin tertawa melihat kelakuan cucunya.


Kesya tersenyum tipis. Ia akhirnya bisa merasakan momen ini setelah bertahun-tahun menyembunyikan rasa sakitnya. Kehangatan keluarga yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, butuh beberapa tahun untuknya bisa kembali merasakan hal itu. Hubungannya dengan kedua orang tuanya pun sudah semakin membaik sekarang.


"Keknya sebulan lagi deh, Pi. Soalnya Kesya belum libur juga" ucap Kesya memberitahukan.


"Dia udah bisa manggil kamu?"


Kesya menggeleng pelan. "Boro-boro manggil Mommy, yang dipanggil malah Kak Boy. Dasar" ucap Kesya sedikit meninggikan suaranya agar Boy yang sedang makan di meja makan mendengarnya.


Boy hanya tersenyum tipis. Ia juga terkejut mendengar Ello yang menyebutnya Daddy karena ajaran Steven.


"Manggil gimana?"

__ADS_1


"Daddy.."


Franklin hanya tersenyum tipis. Entah apa yang ia pikirkan saat itu.


Flashback off.


"Katanya Papi mau coba pakaian desain Kesya lagi buat kelulusan Yera dan wisuda Kesya.. katanya Papi mau bantu Kesya beres-beres butik nanti kalau Kesya balik ke Indo.. katanya Papi mau beliin satu truk permen kapas kalau Kesya bawa Ello pulang cepet.. nanti siapa yang bakal jadi tempat Kesya ngadu kalau dosennya nyebelin..? nanti siapa yang bakal ada di pihak Kesya kalau ketahuan Mami makan ice cream terus..? nanti siapa yang bakal bela Kesya kalau di bully sama Kak Rey di grup fams..? nanti siapa yang bakal peluk Kesya lama kalau Kesya pulang..?"


Kesya merasakan sentuhan di bahunya ketika ia tak henti-hentinya berbicara dengan cinta pertamanya.


"Makan yuk, nanti Kak Rey suapin" ucap Rey seraya mengelus pucuk kepala adiknya.


Kesya menggeleng pelan. "Kasian Papi sendirian" ucap Kesya pelan.


Rey menghela nafas melihat Kesya yang sangat terpuruk seperti ini. Siapa yang tega melihat kesayangan semua orang sangat berantakan? Siapa yang tega melihat gadis kecil semua orang dengan tatapan kosong? Rey bahkan tidak bisa membuat Kesya terbuka padanya lagi.


"Ada Kak Gab, Yera juga disini" ucap Rey memberikan pengertian.


Namun Kesya masih menggeleng pelan membuat Rey hanya bisa menghela nafas berat. Lagi, ia tidak bisa membuat Kesya melepaskan topengnya.


Rey akhirnya mau tidak mau harus merepotkan seseorang lagi. Seseorang yang selalu bisa diandalkan dalam segala hal dan seseorang yang akan selalu dibutuhkan Kesya.


*****


"Maaf ya Mbak harus ngerepotin Mbak Clau" ucap Boy merasa tidak enak.


Ia terpaksa menitipkan Ello kepada istri Raka karena Om Heru sudah ada di kediaman Franklin membuatnya tidak bisa meninggalkan Ello sendirian di rumah.


"Gapapa, Mbak juga seneng kalau ada Ello. Dititip aja disini biar kamu besok bisa ikut pemakaman karena Mbak dilarang Raka ikut. Besok juga ada Isa disini" ucap Claudia yang membuat Boy mengangguk pelan.


"Boy jalan dulu ya, Mbak."


Tak butuh waktu lama untuk Boy sampai di kediaman Franklin yang ternyata masih didatangi oleh banyak orang walaupun ibadah menunggu jenazah telah selesai.


Boy masuk ke dalam rumah dan menatap gadis kecil yang terlihat sangat menyedihkan walaupun hanya punggung rapuh yang terlihat.


"Hei, Om pasti sedih liat anaknya nggak mau makan."


Kesya sedikit terkejut mendengar suara Boy hingga membuatnya menoleh. "Kak Boy?"


Boy tersenyum tipis. "Makan ya, demi Ello."

__ADS_1


"Kesya nggak laper, Kak. Lagian kalau Kesya pergi dari sini nanti Papi sendirian" ucap Kesya menggeleng.


Boy berjongkok dihadapan gadis itu seolah menyesuaikan tingginya. "Masa lo nggak mau kasih izin buat Kak Gab atau Yera juga bisa duduk deket Om?"


Tentu saja pertanyaan Boy membuat Kesya segera menatap kedua saudara kandungnya yang sedang duduk tak jauh darinya.


"Eh—"


Seolah tau bahwa Kesya akan meminta maaf, Boy pun segera memotong pembicaraannya. "Kasih kesempatan buat mereka deket sama Om juga ya? Mau ngobrol di taman belakang sekalian makan demi gue dan Ello.."


Benar kan? Kesya akan selalu menurut dengan ucapan Boy yang juga selalu bisa memberikan pengertian kepadanya. Ah, andai saja semesta memberikan izin untuk mereka memiliki hubungan.


*****


Taman Belakang


Disinilah keduanya berada dengan piring makanan yang ada di tangan Boy agar bisa membujuk Kesya makan. Kesya mengambil piring tersebut.


"Makan sendiri aja, Kak" ucap Kesya pelan.


Boy hanya diam namun matanya tidak berhenti menatap gadis kecil dihadapannya yang sedang makan dengan sangat pelan.


"Kak.. maaf ya.." ucap Kesya pelan yang membuat Boy mengerutkan kening.


"Kesya ngerepotin Kak Boy mulu, apalagi sekarang Kesya malah nggak ngurus Ello."


Boy tersenyum tipis. "Ello juga kan perlu waktu berdua sama gue."


"Kak.. kenapa ya Papi jahat sama Kesya..?"


Genggaman tangan yang semakin mengerat membuat Boy sadar bahwa Kesya hendak menyakiti dirinya lagi. Dengan segera Boy menggenggam tangan Kesya.


"Jangan nyakitin Kesya, ya.. dia cewek cantik punya bahu yang kuat banget makanya dikasih ujian biar dia makin kuat.. biar dia juga sadar kalau ada banyak orang yang peduli sama dia.."


Air mata Kesya keluar tiba-tiba membasahi wajah cantiknya saat mendengar ucapan Boy. Ia sadar bahwa selama ini ada banyak sekali orang yang menyayanginya dan peduli padanya.


"Kesya itu cewek yang paling kuat yang pernah gue temuin. Dengan semua masalah yang dihadepin sama dia mau itu masalah sepele atau bahkan berat sekalipun, dia nggak pernah mau ngerepotin orang bahkan dengan cerita sedikitpun. Sebisanya dia nggak ngajak orang buat masuk secara sukarela di masalah dia sendiri karena dia mau masalahnya cuman dia yang tau. Gue bangga banget karena nggak semua orang bisa bertahan kek dia.."


Mau satu yang mirip Boy, bisa? Atau mau Boy nya aja.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2