
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
“Maaf, saya terlambat”
Deg
suara Devan.
“Hai, Devan” ucap Kiara dengan senang
Kesya benar-benar terkejut saat ia mengangkat kepalanya melihat dihadapannya keluarganya dan keluarga Devan sudah berkumpul
Nggak mungkin, kan?-Gabriel
“Ayo semuanya duduk dulu. Fahri, perkenalkan ini anak-anakku” ucap Franklin ramah
“Ada apa? Tumben sekali kau mengajak makan malam keluarga” tanya Om Fahri heran
“Hei, makanlah dahulu. Kita sudah repot-repot berkumpul disini masa langsung membahasnya”
ucap Franklin tertawa sedangkan Gabriel benar-benar menatapnya tajam
Semuanya makan dalam diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, terutama Kesya yang sejak tadi enggan untuk menyentuh makanan dan hanya menunduk saja tanpa berani menatap Devan yang ada dihadapannya
“Ri, bagaimana jika kita menjadi besan?”
Suara berat Franklin memecahkan keheningan
“Loh? Bukannya kita memang akan menjadi besan?”
tanya Fahri menatap Franklin dengan heran
“Bukan, bukan Kesya. Tapi dengan Kiara. Devan dan Kiara”
Deg
Jantung Kesya berdetak dengan sangat cepat bahkan tanpa sadar tangannya bergetar hebat dan sendok yang ia pegang sudah jatuh ke lantai
“Maaf, saya permisi”
Tanpa mendengar teriakan dan panggilan yang lainnya, Kesya berlari keluar restoran.
“Tidak, saya mencintai Kesya, bukan Kiara”
ucap Devan tegas lalu pergi
“Apa-apaan sih?”
ketus Gabriel yang hendak mengejar Kesya namun Kirana menahannya
“Rana aja, kak”
Dengan segera Kirana berlari menyusul Devan dan Kesya
“Papi ngapain sih?!” tanya Asyera penuh emosi
“Yera!!”
“Papi sadar nggak kalau itu nyakitin kak Kesya?! Bukannya Papi juga tau kak Kesya dan kak Devan pacaran?! Terus Papi rela rebut pacarnya kak Kesya demi kak Kiara?!”
“Asyera!!”
“Yera bener-bener nggak nyangka, orang tua sendiri jahat ke anaknya”
ucap Asyera lalu pergi tanpa menghiraukan teriakan Citra yang memanggilnya
“Puas lo? Sadar nggak, dengan kehadiran lo bikin keluarga kita pecah belah”
teriak Gabriel memaki Kiara yang hanya diam
Plakk
__ADS_1
“Dasar anak kurang ajar!!”
“Bela, Pi. Bela terus anak kesayangan Papi dan Mami”
“Gabriel!!”
“Fran, sudah” ucap Fahri membuka suara
“Tidak, anak ini sudah kurang ajar”
ucap Franklin tersulut emosi
“Gab nggak akan berani melawan kalau kelakuan Papi baik ke Kesya”
“Tau apa kamu? Jangan berbicara yang tidak-tidak”
“Ck, Papi kira karena Gab jauh jadi Gab nggak tau kalau dirumah Kesya nggak pernah dianggap? Mami Papi kemana disaat Kesya ulang tahun? Bela-belain malam-malam ke luar kota cuma buat ngerayain ulang tahun Kiara, tapi anak yang dirumah nggak pernah diperhatiin”
“Gabriel!! Jaga ucapan-“
Brakk
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras membuat semuanya benar-benar terkejut
“Rana, kenapa nak?”
tanya Nia khawatir saat melihat anaknya tiba-tiba menangis
“Kak..Kak Kesya..”
“Kesya kenapa?” tanya Gabriel cepat
“Kak..Kak Kesya..kecelakaan”
“Brengsek”
Gabriel berlari dengan sangat cepat keluar dari restoran untuk mencari keberadaan Kesya, meninggalkan semua orang yang masih berada di restoran tersebut
Semua orang yang mendengar itu benar-benar terkejut termasuk Kiara yang tiba-tiba merasakan sakit dibagian perutnya hingga tak sadarkan diri
“Kiara..Kiara”
*****
Kesya berlari keluar restoran tanpa tau kemana arah dan tujuannya. Pikirannya benar-benar kacau sehingga tanpa sadar ia sudah berlari ditengah jalan dengan derasnya air hujan pada malam itu, seakan tau tentang kesedihan dihatinya
“Kenapa? Kenapa gue nggak pernah diizinkan buat bahagia?”
teriak Kesya bersamaan dengan derasnya suara hujan
Ia sakit, benar-benar sakit melihat perlakuan orang tuanya yang bahkan tak memberikan kesempatan untuknya bahagia. Karena keegoisan orang tuanya lah, Kesya harus hidup sulit selama beberapa tahun ini. Kesya menangis, air matanya mengalir dengan deras berjatuhan bersamaan dengan air hujan yang sudah membasahi tubuh mungilnya
“Tolong, sekali aja gue pengen bahagia” lirihnya pelan
Berkali-kali ia memukul dadanya sendiri karena merasakan sesak untuk sekedar bernafas
“Kenapa, Tuhan? Kenapa?”
teriak Kesya dengan penuh emosi
Tiba-tiba
Brukkk
Ia merasakan tubuhnya melayang dan terpental sangat jauh
“Kesyaaa!!”
Teriakan Devan sempat terdengar olehnya dan sosok Devan yang berlari kearahnya, hingga
gelap.
Detik berikutnya, ia tak mendengar bahkan melihat apa-apa lagi.
*****
Rumah Sakit Yohanes
__ADS_1
Suara sirene ambulance terdengar memasuki rumah sakit dan menuju ke depan UGD, membuat sang kepala rumah sakit menunggu dengan cemas
“Bawakan segera”
Hanya dengan menyebutkan kalimat tersebut, semua pekerja baik perawat, dokter, dan tim medis lainnya segera membawa Kesya masuk dan menanganinya
“Key..Key..”
Air mata Rey jauh saat melihat tubuh adiknya yang dipenuhi dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya
Mama Melly segera memeluk sang anak yang sejak tadi meronta-ronta ingin masuk dan melihat keadaan Kesya
“Rey, sabar nak. Kesya sedang ditangani oleh Mas Raka”
“Nggak..Key..Kesya..”
“Rey”
Boy berlari dengan segera mendekati Rey
“Boy..adek gue Boy..”
“Tenang, Kesya baik-baik aja..Lo kan tau adek lo kuat”
Boy berusaha untuk menenangkan Rey walaupun didalam hatinya ia juga merasakan takut jika Kesya kenapa-kenapa
Key, jangan tinggalin gue.-Boy
Setelah sedikit tenang, Rey berjalan kearah Devan yang sejak tadi hanya diam menatap ruang UGD
“Gue udah bilang berkali-kali, Dev”
“Rey, sorry..” lirih Devan pelan
“Dengan kata maaf, lo kira bisa kembaliin keadaan? Anjing lo”
Devan hanya bisa menghela nafas berat melihat Rey yang pergi menjauh bersamaan dengan Boy yang berlari mengikutinya
Gue juga nggak pernah mau Kesya sakit, Rey.-Devan
*****
Steven yang saat itu baru saja mendarat di luar kota langsung putar balik ketika mendengar kabar bahwa sang adik kecelakaan. Dalam perjalanan, Steven benar-benar terlihat sangat cemas sehingga Papa Aldino berkali-kali menenangkannya
“Nak, tenanglah”
“Gimana abang bisa tenang, Pa? Kita nggak tau keadaan Kesya gimana”
“Disana sudah ada Mas Raka, ada Gabriel juga, Papa yakin mereka bisa menangani semuanya”
“Key..Lo kenapa?” lirih Steven pelan
“Adik kamu kan kuat”
ucap Papa Aldino seraya menepuk pelan Pundak Steven
Kali ini, gue cuma minta lo jangan tinggalin gue.-Steven
Beberapa saat kemudian, akhirnya Steven dan Papa Aldino sampai di bandara lalu segera meminta supir taksi untuk membawa mereka menuju rumah sakit
“Brother udah dikabarin?”
“Lagi diperjalanan”
“Duh, ponsel Rey mati, Pa” ucap Steven khawatir
“Sabar, bang. Sebentar lagi kita juga sampai”
Sepanjang perjalanan, Steven hanya bisa diam dan berdoa agar adiknya baik-baik saja. Steven takut jika ia mendengar kabar buruk yang menimpa sang adik.
Key, jangan tinggalin gue.-Steven
Tanpa sadar, air mata mengalir diwajah Steven.
*
*
__ADS_1
*