Tentang Kesya

Tentang Kesya
Denial


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


"Anjing?!"


Dexter terkekeh pelan. "Kalau lo kira keluarga gue udah baik-baik aja, lo salah besar.. Gue udah keluar dari keluarga itu dan hidup sendiri.."


"Dari kapan?"


"Setahun yang lalu."


"****?! Lo selama ini anggep kita apa, anjing?! Setahun yang lalu lo nutupin semuanya dari kita dan anjingnya gue baru tau sekarang!"


Dexter terdiam. Ia tau jika teman-temannya akan marah ketika mendengar hal yang ia sembunyikan selama ini. Namun, bagaimana lagi jika Dexter selalu menyembunyikan hal itu. Sebelum mereka tau dari orang lain memang ada baiknya jika Dexter yang menceritakan langsung.


"Sorry, Boy. Awalnya gue mau kekeh nutupin semuanya dari lo pada, tapi gue takut lo pada makin kecewa kalau nantinya tau dari orang lain dan bukan dari gue sendiri."


"Lo gimana selama ini, Dex?! Lo lebih khawatir sama kita padahal lo aja lagi susah banget."


Dexter tertawa melihat sahabatnya yang sangat khawatir. Sebenarnya, ia merasa sangat bersyukur ketika dipertemukan dengan keluarga mereka. Jujur, akhirnya Dexter mengetahui bahwa masih ada orang baik di dunia ini. Keluarga Kesya benar-benar welcome dan menerimanya dengan sangat baik.


"Gue aman, buktinya gue selama ini baik-baik aja dan bisa bertahan, kan? Lo nggak perlu khawatir sama gue, Boy. Gue cuman mau kasih tau aja nggak ada niat lain."


"Lo nggak mau netap disini aja bareng kita? Lo bisa tinggal dan kerja sama gue" ucap Boy yang membuat Dexter lagi-lagi terdiam.


Ia tidak tau harus membalas budi dengan apa, keluarga ini benar-benar menerimanya dengan sangat baik.


"Gue udah bohongin lo dan semuanya. Gue bikin lo pagi-pagi ke kantor buat rapat padahal gue aja udah nggak megang perusahaan bokap. Kenapa lo tetap baik ke gue, Boy?"


"Karena lo sahabat gue."


*****


Apartemen Devan


Rumah tangga pengantin baru ini benar-benar tidak pernah harmonis. Bagaimana bisa mereka tidak pernah saling menyapa selama hampir satu bulan pernikahan? Baik Dhea maupun Devan akan sibuk dengan urusan masing-masing.


"Terserah kalau lo benci sama gue, tapi gimana kita bisa cepet cerai kalau lo ngehindar dari gue? Gue juga nggak pernah mau dengan pernikahan ini." Ucapan Dhea membuat Devan yang saat itu hendak keluar tiba-tiba terdiam.


Karena melihat langkah Devan terhenti, Dhea segera beranjak berdiri dihadapan lelaki itu.

__ADS_1


"Lo bilang bakal cari cara apapun biar kita cerai, tapi apa? Lo ngehindar dari gue, Kak! Gimana bisa kita kerja sama kalau nggak ada diskusi kek gini?!"


Seolah tertampar dengan ucapan itu, Devan hanya bisa menghela nafas berat karena ia pun tidak tau ada apa dengan dirinya.


Devan begitu kacau sehingga ia lupa mencari cara untuk balas dendam. Hal yang ia lakukan hanya selalu bekerja, bekerja, dan bekerja lalu ketika pulang ke rumah ia tak pernah absen untuk mabuk.


Selama ini, nama Kesya tak pernah lepas dari pikirannya hingga membuat Devan benar-benar menderita sekarang.


"Gue cuman mau Kesya."


"Gue juga cuman mau Kak Jojo, Kak!" teriak Dhea frustasi.


Devan terdiam ketika melihat gadis yang sudah menjadi istrinya selama satu bulan ini menangis. Ini pertama kalinya ia melihat Dhea menangis keras hingga membuatnya tak tau harus melakukan apa.


"Lo kira gue selama ini baik-baik aja? Lo salah besar, Kak! Kalau hati lo sekarang sakit, hati gue juga sakit karena posisi kita sama. Gue capek, Kak! Gue rasanya mau mati aja karena gue sendiri nggak tau apa yang harus gue lakuin sekarang. Disaat gue kira gue bisa diskusi dengan lo buat rencana kita tapi ternyata lo malah benci sama gue, gue makin capek."


Bukan, Devan sebenarnya tidak membenci Dhea. Hanya saja, ketika melihat gadis itu, hati Devan benar-benar sakit. Ia kasihan karena sudah merusak hubungan Dhea dan sepupunya. Ia terlalu malu untuk berbicara dengan Dhea karena ulah Papa nya.


"Gue.. gue nggak benci lo" ucap Devan pelan.


"Lo emang nggak benci gue tapi lo benci kenal gue, kan?"


Deg.


*****


Saat ia mulai berbicara jujur kepada Boy, Dexter sadar bahwa ia harus menerima segala macam resiko yang akan terjadi karena selama ini ia membohongi sahabat-sahabatnya.


Namun, semua pemikiran negatif yang selama ini Dexter pikirkan tidak pernah terjadi. Tidak ada yang membencinya, semua orang benar-benar masih menerimanya. Tak jarang semuanya menawarkan bantuan padanya hingga membuat Dexter tanpa sadar menangis.


"Lo itu orang baik makanya hidup lo selalu dikelilingi oleh orang baik" ucap Kesya tersenyum tipis.


Dexter tersenyum tipis. "Gue bener-bener bersyukur kenal sama lo semua. Thanks udah hadir dalam hidup gue."


"Jadi gimana? Lo pilih mau kerja sama siapa?" tanya Rey memastikan.


Dexter terdiam sejenak lalu menatap Boy seolah meminta izin kepada lelaki itu.


"Bareng Boy? tebak Rey yang membuat Dexter menggeleng pelan.


"Kalau lo semua nggak keberatan, gue mau kerja bareng Kesya aja. Bukan tanpa alesan, lo semua kan tau gue lulusan apa jadi gue rasa akan lebih baik kalau gue kerja di bidang yang gue tekuni."


"Terus lo ngapain ngeliat Kak Boy?" tanya Kesya heran.


Memang, sepertinya Kesya ini tipe-tipe bocah yang sangat jauh dari kepekaan.

__ADS_1


"Minta izin, kan laki lo."


Ucapan Dexter yang santai membuat Kesya menatapnya tajam.


Sejak kejadian dimana Kesya memutuskan untuk enggan membuka hati, hubungannya dan Boy pun kembali seperti seolah tidak terjadi apa-apa.


Boy tidak mau memaksakan diri untuk masuk lebih dalam ke hati Kesya dan gadis itu pun seolah menarik diri darinya sehingga mereka benar-benar asing sekarang.


"Kenapa diam, Key?" tanya Steven yang membuat Kesya tersadar dari lamunannya.


"Eh—boleh banget kalo Dexter mau kerja bareng gue. Langsung deh gue angkat jadi manajer" ucap Kesya tertawa.


"Nggak, anjir. Gue harus ikuti prosedur dong kalau mau cari kerja" ucap Dexter tidak terima.


Kesya menatapnya heran. "Lah? Pake jalur ordal aja."


Plak


"Gue nggak bakal kerja bareng lo kalau gue pake jalur ordal."


"Hadeh, iya-iya."


Kesya hanya bisa pasrah dan tidak mau memaksa Dexter untuk menerima bantuannya.


*****


"Lo gimana sama Boy?"


Pertanyaan ini sudah Kesya hindari sejak. Namun, tetap saja akan ada seseorang yang bertanya kepadanya.


Semua orang tau bahwa hubungan Kesya dan Boy benar-benar renggang sekarang. Setiap sedang berkumpul bersama, mereka bahkan tidak pernah saling bertegur sapa lagi. Hanya ketika ada Ello saja mereka akan memulai akting sebagai Mommy dan Daddy.


"Gimana apanya? Bukannya emang nggak ada hubungan apa-apa? Kenapa Bang Stev malah nanya gitu?"


Jujur saja, saat membahas tentang hubungannya dengan Boy, Kesya benar-benar merasakan emosi yang ia sendiri bahkan tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.


"Gue bukan Ello yang bisa lo bohongin, Key."


"Apaan sih, Bang? Orang kita nggak ada apa-apa." Lagi-lagi Kesya berusaha untuk menghindari topik tentang Boy.


"Kalau suka tuh bilang, nggak usah pake masuk fase denial. Emang lo rela kalau Boy jatuh di tangan cewek lain?"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2