Tentang Kesya

Tentang Kesya
Didepan Boy


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


"Key!"


Kesya sedikit terkejut pagi itu saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seorang lelaki yang tidak disangka-sangka sudah berdiri dihadapannya.


"Sorry gue baru sampai" ucap Dexter seraya merentangkan tangannya.


Kesya segera menarik Dexter agar sedikit menjauh dari tempat tidur. Tangannya bergerak menunjuk ke arah tempat tidur dimana ada seorang lelaki yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak.


"Ssttt, kasian baru tidur subuh tadi" ucap Kesya memberitahu.


"Anjing?! Lo sekamar sama Boy?!" teriak Dexter panik.


Dexter benar-benar panik terlebih ketika ia melihat wajah Boy yang masih tertidur dengan nyenyak nya. Jika ia tidur di sofa, mungkin Dexter tidak akan seheboh ini. Namun, ini Boy tidur di tempat tidur Kesya dengan dua bantal bersebelahan yang bisa dipastikan bahwa keduanya tidur bersama.


"Ih kok lo tidur sama Boy sih?!"


Plak


"Diem dulu bisa nggak sih? Belum juga dijelasin, ngomong juga nggak usah teriak-teriak gitu tar Kak Boy nya bangun."


Kesya benar-benar menatap Dexter seolah hendak memakan lelaki itu. Ia kasihan terhadap Boy yang baru saja tertidur subuh tadi. Bagaimana jika lelaki itu terbangun? Kepalanya pasti akan pusing karena kurang tidur.


"Ribut banget."


Ah, ucapan Kesya benar. Lelaki itu terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan khas Dexter.


"Kok lo bisa tidur nyenyak sama cewek sih anjing?!"


Dexter yang masih penasaran pun berlari mendekati Boy dan memukul kepala lelaki itu dengan bantal.


"Lah lo kenapa bisa balik kesini?" tanya Boy balik.


Plak


Pukulan keras mendarat di kepala Boy membuat lelaki itu menatap Dexter dengan tatapan tajam.


"Ya karena gue beli tiket kesini lah."


"Ya gue juga karena gue tidur disini" jawab Boy tidak mau kalah.


Kesya hanya bisa menghela nafas berat ketika melihat dua lelaki yang tidak bisa akur tersebut sedang berdebat untuk kesekian kalinya.


"Kesya turun dulu."


Seolah tidak ingin menunggu keduanya selesai berdebat, Kesya memilih untuk pamit turun ke lantai bawah.


*****

__ADS_1


Kamar Kesya


"Gimana ceritanya lo bisa tidur bareng Kesya?" tanya Dexter untuk kesekian kalinya sedangkan Boy benar-benar tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Dexter sehingga dirinya memilih untuk kembali tidur.


Plak


"Gue ngomong tuh dijawab."


"Gue ngantuk anjir, tadi tidur jam 3" gumam Boy malas.


Dexter terkekeh pelan. "Abis ngapain lo? Bikin adeknya Ello?"


"Sialan. Otak lo emang perlu dikasih ajar lagi. Heran gue mesum mulu."


"Ya gue kaget lah liat lo tiba-tiba tidur satu kasur lagi sama Kesya."


"Adek lo nangis subuh-subuh."


Flashback on


Setelah Boy menjelaskan dengan segala cara bahwa ia menunda kelulusan dengan alasan tidak ada hubungannya dengan Kesya, keduanya pun malah mengobrol sangat lama hingga tidak sadar bahwa waktu sudah semakin larut.


Sebenarnya, malam tadi Kesya akhirnya bisa menangis lagi. Ya, menangis dihadapan Boy. Tangisan yang sejak lama ingin ia keluarkan dan rasa sakit yang sejak lama menggerogoti tubuhnya akhirnya sudah keluar dan membuat perasaannya semakin lega.


Boy pun merasa cukup lega setelah sekian lama akhirnya tangisan Kesya kembali terdengar. Boy lebih suka jika melihat Kesya menangis daripada harus diam seperti beberapa hari yang lalu karena Boy tau menangis dalam diam itu sungguh menyakitkan.


"Jangan ragu buat lari ke gue."


Ah, malam itu Kesya semakin yakin bahwa dirinya sudah masuk ke dalam fase denial secara sukarela.


Flashback off.


*****


Devan baru saja keluar dari ruang dosen karena ia baru saja menyelesaikan bimbingan terakhirnya sebelum sebulan lagi ia akan wisuda di kampusnya.


"Devan!" teriak seseorang yang membuat Devan menoleh.


"Come talk to me. Don't dodge!" (Ayo bicara padaku. Jangan menghindar!)


Ah, gadis itu. Gadis yang Devan hindari sejak kejadian di hotel dulu. Sekuat tenaga ia menghindar agar hubungannya dan Kesya kembali baik-baik saja.


"I don't have time to talk to u." (Aku tidak mempunyai waktu untuk berbicara denganmu.)


Devan beranjak pergi namun Levanna sempat menahan lengannya agar tidak pergi. Seolah melihat ada kesempatan, Levanna langsung memeluk tubuh Devan dengan sangat erat sehingga membuat lelaki itu cukup kesusahan melepaskan pelukan Levanna.


"Don't touch me." (Jangan sentuh aku.)


"Dev. I love u. I am so really love u." (Dev. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.)


Devan terdiam mendengar pengakuan cinta Levanna. Harusnya ia bersikap biasa saja karena siapapun tau bahwa Levanna memang sejak dulu mengejar cintanya. Namun entah kenapa saat mendengar ucapan itu keluar langsung dari mulut teman baiknya selama ini, Devan menjadi terdiam.


Ia merasa bahwa dirinya benar-benar brengsek sekarang. Tanpa disadari dengan segala kelakuannya akhir-akhir ini malah membuat Levanna menaruh harapan padanya. Devan tidak bisa menerima pengakuan cinta itu, hatinya sudah dimiliki oleh Kesya. Namun, ia pun tidak tega menolak Levanna, memang karenanya lah Levanna menjadi seperti ini. Menaruh harapan pada lelaki yang ternyata tidak mempunyai sedikit pun rasa padanya.


"Sorry.." (Maaf.)

__ADS_1


Devan hanya bisa mengatakan maaf. Ia sadar dirinya benar-benar salah sekarang.


"I just want to live with u. I just want us to go back to the good old days where we were always together. I can't live without u, please accept my love." (Aku hanya ingin hidup denganmu. Aku hanya ingin kita kembali ke masa lalu yang indah dimana kita selalu bersama. Aku tidak bisa hidup tanpamu, terimalah cintaku.)


Levanna tidak tau bahwa semakin ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai Devan, semakin lelaki itu menyalahkan dirinya sendiri.


"Lev, sorry.." (Lev, maaf.)


Sekuat tenaga Devan melepaskan pelukan Levanna lalu menjauh pergi dan tidak menoleh sedikit pun agar Levanna tidak berharap lagi padanya.


Untung saja alam bawah sadar Devan bisa bekerja sama. Ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama lagi hingga membuatnya harus kehilangan Kesya.


*****


"****. Ngapain lagi dia nyari lo?"


Emosi Ziko menggebu-gebu ketika mendengar kejadian siang itu dimana Levanna akhirnya menyatakan cinta kepada Devan.


"Anjing. Awas aja kalau lo berani macem-macem lagi. Gue nggak akan mau bantu lo."


Setelah kejadian di hotel dulu, memang Ziko memilih menjauh dari Devan hingga membuat lelaki itu benar-benar sendirian. Namun entah kenapa beberapa bulan ini Ziko akhirnya mau lagi mengobrol bersama Devan. Bagaimana pun, Devan adalah orang yang sangat baik kepadanya.


"Gue nggak mau ngelakuin kesalahan yang sama" jawab Devan pelan.


"Sumpah sih kalau lo berani lagi, gue beneran angkat tangan bahkan angkat kaki lagi dari apart. Nggak usah sok jadi cowok brengsek, mending ngurus cewek lo yang sekarang. Apa lagi kurangnya Kesya? Anjing sih kalau lo berani macem-macem sama tuh anak."


"Udah, nggak usah terlalu memperjelas kesalahan gue dulu."


"Tapi ya mau gimana? Orang lo emang beneran anjing. Kasian Kesya harus punya cowok aneh kek lo. Kenapa dia nggak sama gue aja?"


Plak


"Mimpi aja lo."


Tiba-tiba ponsel Devan berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Kirana.


"Disana udah malem ngapain nelpon?" tanya Devan saat panggilan sedang berlangsung.


Terdengar tawa Kirana dari seberang sana. "Rana kan mau laporan tentang Kak Kesya hari ini" ucap Kirana.


"Gimana?"


"Akhirnya Kak Kesya bisa nangis juga, Bang. Tap—"


"Tapi apa?" tanya Devan tidak sabaran.


"Nangisnya cuman didepan Kak Boy.."


Deg.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2