Tentang Kesya

Tentang Kesya
Semakin Dekat


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Tak lama kemudian, Boy pun keluar dari kamar mendatangi ketiganya yang masih berada di ruang keluarga.


"Ello bangun?" tanya Kesya seraya menatap Boy yang duduk disebelahnya.


Boy menggeleng pelan. Ia benar-benar sangat mengantuk sekarang karena kurang tidur sehingga tubuhnya sangat lemas.


"Lo lanjut tidur lagi gih, gue janji bakal diem" ucap Dexter ketika melihat keadaan Boy.


"Oh iya, lo tidur dimana?"


"Loh?!" Dexter menatap Steven dengan tatapan tajam.


"Lo nggak nyiapin kamar buat gue?!"


Plak


"Berisik anjir! Anak gue bisa bangun."


Walaupun dengan keadaan lemas karena mengantuk, Boy masih terdengar sangat galak ketika memarahi Dexter yang tidak bisa diam.


"Eh—ya maap. Lagian nih bocah satu ngapain aja sampai nggak nyiapin kamar buat gue?!" gerutu Dexter dengan wajah kesalnya.


Steven menghela nafas berat. "Cuman ada tiga kamar. Lo kan bisa tidur di sofa."


"Ogah. Pokoknya gue mau tidur di kamar, atau kalau lo nggak mau sekamar sama gue, gue bakal tidur di kamar Ke—"


"Kaga ye jingan! Udah jadi hak milik gue."


Mendengar ucapan Boy, Dexter dan Steven pun tertawa.


"Hak milik apaan? Orang nggak tidur sekamar."


"Dih?! Kata siapa?! Malem ini tidur sekamar" jawab Boy dengan santainya membuat Dexter dan Steven menatapnya tajam.


"Anjing! Ngapain lo?! Awas aja macem-macem."


"Bosen idup lo?"


"Kan mau nyusu."


Plak

__ADS_1


"KAK BOY IH JOROK!!" teriak Kesya ketika mendengar ucapan Boy, sedangkan kedua kakaknya malah tertawa.


"Yaallah bapaknya Ello masih nyusu" ucap Steven disela-sela gelak tawanya.


"Sialan! Pake ****** anjing!"


"Heh! Mulut lo tuh ya apa perlu gue kasih pelajaran?! Tinggal di sana bikin otak lo jadi bebas gitu mikirnya" gerutu Kesya menatap Dexter dengan kesal.


Bagaimana tidak? Mereka benar-benar menggodanya hingga ia sendiri pun malu. Ah, dimana Kesya menyembunyikan wajahnya? Di punggung Boy? Bahkan lelaki itu yang memulai.


*****


Setelah cukup lama mengobrol dengan Kesya yang sesekali beranjak ke kamar untuk memantau keadaan Ello, semuanya pun pamit untuk tidur karena sudah sangat mengantuk.


"Anjing?! Lo beneran tidur berdua?!" tanya Dexter panik ketika melihat Boy dengan santainya berjalan menuju kamar Kesya.


Kesya yang berada di belakang Boy pun tersadar lalu menarik pelan ujung bajunya. "Kak.."


"Nggak lah yakali. Gue cuman mau sun sama anak gue sekalinya sama nyokap nya" ucap Boy terkekeh pelan.


"Aduh jingan! Stress gue lama-lama jadi jomblo."


"Lo baru beberapa jam. Apa kabar gue yang bakal bertahun-tahun?!" gumam Steven seraya menghela nafas berat.


"Gimana kalau kita membentuk aliansi uwu-phobia?" usul Dexter saat mereka sedang berjalan menuju kamar Steven.


"Gue nggak se-prik lo. Anyway, sun nya jangan lama tar ada setan yang ngintip."


Plak


"Gimana sama Boy?"


Oke, sekarang mode serius.


"Gue orang paling depan yang bawa spanduk ngedukung hubungan mereka" jawab Steven mantap.


Dexter tersenyum tipis. "Lo sadar nggak sih kalau kita terlalu banyak nuntut sama Boy? Apa dia nggak capek?!"


"Coba gue balik lagi pertanyaan itu ke lo. Apa lo nggak capek ikut campur sama urusan orang yang bahkan nggak ada hubungan darah sama lo?" tanya Steven seraya menatap Dexter yang juga sedang menatapnya.


Dexter menggeleng pelan. "Bagi gue, Kesya dan lo semua adalah sosok pelengkap cerita yang nggak pernah bisa gue temuin di orang lain."


Karena tau bahwa ucapan Dexter belum selesai, Steven memilih untuk diam sebentar.


"Buat gue yang hidupnya nggak semenyenangkan orang-orang, lo semua adalah sosok penting yang nggak perlu gue cari di orang lain. Gue nggak perlu caper sana-sini biar dapet perhatian orang, gue nggak perlu masuk rumah sakit dulu biar dijenguk orang, gue nggak perlu kena musibah dulu biar ada yang peduli sama gue. Saat gue bangun tidur pun, lo semua udah siap menyambut pagi gue. Sepenting itu."


"Ini kenapa gue nggak pernah pusing lagi mikir gimana perasaan Boy. Gue udah terlalu nyaman sama lo dan Boy jadi gue nggak perlu nanya lagi tentang ini. Kalau nantinya semesta lagi jahat dengan jauhin lo berdua, gue akan sangat siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Gue cuman harus bisa banyakin ikhlas dan sabar aja."


Dexter tersenyum tipis. "Gue anak tunggal tapi kerasa banget banyak sodara pas ketemu lo pada, makanya gue bersyukur banget di tahun itu. Yang dulunya cuman ngerayain Natal sekeluarga, sekarang sibuk bolak balik luar negeri cuman buat ngumpul sama kalian."

__ADS_1


"Gue bersyukur karena Kesya ketemu sama lo. Thanks ya, Dex. Tanpa lo, mungkin semuanya nggak sebahagia ini."


"No! Gue yang bersyukur karena dikasih kesempatan buat kenal lo, Mas Raka, Bang Dio, Kak Gab, Rey, bahkan Yera. Nggak pernah ada pikiran bisa punya kenalan dua keluarga besar langsung. Ah ralat, tiga. Keluarga Boy kelupaan."


"Lo inget nggak sih waktu kita ngumpul? Kalau ke restoran tuh nggak bisa kalau nggak reservasi duluan. Kaga ada mejanya anjir" ucap Steven tertawa.


"Ya iyalah ******. Nyatuin empat keluarga termasuk keluarga gue, gimana nggak pusing tuh karyawan resto nya."


Pikiran keduanya kembali pada beberapa bulan yang lalu dimana para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja kantoran sedang berlibur karena memasuki bulan Desember.


Saat itu, keluarga Dexter memang sudah berjanji akan merayakan Natal bersama di Indonesia sehingga pada suatu hari, karena ide emas para lelaki bobrok itulah yang membuat satu restoran tiba-tiba tutup.


Ide pertama datang dari Rey yang mengatakan ingin berkumpul bersama sehingga yang lain pun setuju. Namun, Dexter malah meminta untuk menyatukan seluruh keluarga.


Siapa yang tidak terkejut melihat ada begitu banyak mobil yang terparkir rapi di halaman restoran bahkan membuat pemiliknya keluar karena mengira ada masalah.


Itulah pertemuan pertama dari keluarga Aldino, keluarga Franklin, keluarga Heru, dan keluarga Frans.


*****


Kesya terbangun dari tidurnya ketika merasakan bahwa ada cahaya matahari yang masuk ke kamarnya.


"Loh?! Kak Boy?!" ucap Kesya terkejut.


Boy yang sedang berbaring di sofa yang ada di kamar pun hanya menoleh sebentar lalu kembali memejamkan matanya.


"Kak Boy ngapain disini?" tanya Kesya panik seraya menutupi tubuhnya dengan selimut.


Bukannya menjawab, Boy malah sengaja mendengkur. Tentu saja hal itu membuat Kesya semakin kesal hingga melemparkan bantal kearahnya.


"Noh kedua kakak kesayangan lo berisik banget. Udah tau gue ngantuk banget malah haha hihi tengah malem kek cewek lagi ghibah aja" gerutu Boy dengan mata yang masih terpejam.


Ah, Kesya memang mendengar bahwa Steven dan Dexter masih belum tidur hingga larut malam. Namun, dirinya dan Ello tidak terganggu karena sudah benar-benar mengantuk.


"Yaudah bobo sini" ucap Kesya seraya menepuk ruang disebelah Ello yang masih tertidur nyenyak.


Boy segera terduduk dan menatap Kesya dengan tatapan tidak percaya. "Beneran?! Boleh?! Bobo berdua?!"


"Heh. Maksudnya ya bobo di kasur sekalian temenin Ello, kan gue harus beres-beres rumah" ucap Kesya kesal.


"Yahh, padahal udah seneng banget pengen dipeluk bobonya."


"Ih nggak boleh tau, belum sah tar gimana kalau hamil?!" tanya Kesya sewot.


"Tinggal tanggung jawab. Kasian Ello juga mau adek."


"KAK BOY!!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2