
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Asyera baru saja tiba di mall dengan motor kebanggaannya lalu berjalan masuk menuju Timezone karena bisa dipastikan kakaknya sudah ada disana.
Benar kan? Kesya dan Boy seolah pasangan suami istri yang sedang menunggu dan menemani anak mereka bermain.
"Oi" ucap Asyera lalu berlari kearah mereka.
"Heh kok makin tinggi?!" Kesya protes karena tinggi Asyera melebihi dirinya padahal dulunya bocah itu yang selalu tidur di pelukan Kesya.
Asyera tertawa. "Ya kan lagi masa pertumbuhan."
"Gimana kabar, Kak?" Asyera menjulurkan tangannya ke arah Boy.
"Lah? Perasaan baru ketemu" ucap Boy yang mengundang gelak tawa Asyera.
"Kakak sendiri nggak ditanya kabarnya" sindir Kesya dengan wajah kesalnya.
Asyera segera memeluk tubuh gadis mungil itu. "Aduh pendek banget" ucapnya yang membuat Kesya semakin kesal.
Plak
"Nggak sopan banget sama yang tua."
"Oh? Ngaku tua?"
"Kok?! Ya Tuhan kenapa adek gue makin nyebelin sih?! Gini nih pengaruh circle Kak Rey."
*****
Dhea dan Devan kembali menyusuri jalanan malam hingga mobil berhenti di sebuah butik ternama. Keduanya segera masuk ke dalam karena sudah membuat janji.
"Kak.." panggil Dhea pelan yang membuat Devan menoleh kearahnya.
"Ini kita gapapa..?"
"Konteks gapapa menurut lo gimana? Emang sejak kapan kita gapapa dengan perjodohan sialan ini?"
Deg.
*****
__ADS_1
"Tuh kan apa gue bilang? Nggak usah, Kak."
Begini lah kebiasaan Kesya dan Boy saat berada di depan kasir. Keduanya harus bersitegang dahulu dan berdebat panjang karena sama-sama ngotot untuk membayar.
Boy yang merasa dirinya sebagai Daddy Ello pun dengan senang hati mengeluarkan uang sebanyak apapun. Dan Kesya yang merasa tidak enak pun akan selalu menolak karena menurutnya Boy tidak mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi Ello.
"Buset, mau sampai kapan ribut mulu? Heran, dari zaman sekolah sampai udah punya anak masih aja ribut masalah kasir" ucap Asyera disela-sela gelak tawanya.
Bagaimana tidak? Sejak beranjak dari hadapan kasir, wajah kesal Kesya terpantau sudah diaktifkan bahkan dirinya sejak tadi mendengus kesal menatap Boy yang sudah sering menang debat dengannya.
"Kakak lo tuh, orang ada niat baik malah ditolak."
"Ya kan niat baiknya nggak setiap saat juga, Kak. Coba bayangin kalau Kak Boy terus-terusan bayarin keperluan Ello, tar duitnya abis terus Kak Boy nikah gimana? Masa nggak ada modal nikah?"
"Mommy and Daddy are married right?" (Mommy dan Daddy sudah menikah, kan?)
Pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulut Ello membuat semua orang terdiam. Baik Kesya, Boy, bahkan Asyera terdiam dan tidak tau harus menjawab apa. Selama ini, pertanyaan itu tidak pernah muncul bahkan mereka tidak pernah menyadari bahwa Ello bisa saja menanyakan hal itu.
Bocah lelaki itu sudah tumbuh menjadi anak yang pintar sehingga mereka mau tidak mau harus siap dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari mulut kecil Ello nantinya.
"Would u like to buy a toy?" (Apakah kamu mau membeli mainan?) tanya Kesya berusaha mengalihkan pembicaraan agar Ello tidak bertanya apapun lagi.
"Mom, I ask. Why isn't it answered?" (Mom, aku bertanya. Mengapa tidak dijawab?)
Ah, usaha Kesya gagal. Gadis itu seketika tertawa canggung ketika anaknya semakin penasaran dengan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan.
Boy berjongkok dihadapan Ello seraya tersenyum tipis. "If I've become Daddy, isn't that a sign that Mommy and Daddy are married?" (Jika aku sudah menjadi Daddy, bukankah itu tandanya Mommy dan Daddy sudah menikah?)
"Then, why not live together?" (Lalu, mengapa tidak tinggal bersama?)
Damn. Boy terdiam seketika.
*****
Pagi ini Devan bangun lebih lambat dari biasanya hingga membuat Nia akhirnya masuk ke kamar sang anak untuk membangunkan Devan.
"Bang, ayo bangun. Nggak pergi ke kantor?" tanya Nia seraya mengelus rambut anaknya.
Devan menggeliat pelan namun seolah tidak mau membuka mata.
"Bang, itu Ziko udah ada dibawah. Kenapa malas banget bangun?"
Setelah beberapa menit akhirnya Devan pun bangun dari tidurnya.
"Ayo mandi sana cepat sarapan."
"Huh Nico kira semuanya cuman mimpi" gumam Devan pelan seraya tatapannya tertuju pada dua buah cincin yang tertata rapi diatas meja.
__ADS_1
Nia hanya bisa menghela nafas berat. Ia tidak tau jika akhirnya harus mengorbankan sang anak demi keegoisan suaminya. Disaat anaknya menderita, Nia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Devan.
"Maaf, Mama nggak bisa bantu apa-apa.."
"Udah, Ma. Mau gimana pun juga emang Nico yang nggak punya keberanian lawan Papa. Kalau memang akhirnya gini ya mau gimana lagi?"
Jauh dalam lubuk hati Devan bahwa dirinya benar-benar merasa sangat bersalah ada di posisi ini. Tidak bisa berjuang sepenuhnya untuk gadisnya dan mengkhianati sepupu sekaligus sahabat dekatnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menerima semua takdir hidupnya yang sudah disiapkan sedemikian rupa oleh orang tua yang egois.
"Nanti masih tinggal di rumah, kan?" tanya Nia memastikan.
Devan menggeleng. "Nico mau tinggal di apartemen aja."
"Loh? Masa tinggal di apartemen?"
"Mau kabur dari Papa" ucap Devan terkekeh pelan.
*****
Kesya dan Ello baru saja tiba di rumah Citra dan langsung disambut oleh teriakan baby Hawila karena senang melihat Ello.
Ello segera berlari ke arah baby Hawila yang sedang belajar duduk sendiri. "Mom, I want a sister too." (Mom, aku mau adik juga.)
Ucapan Ello membuat semua orang terdiam. Bukan semua, kecuali Asyera yang seketika tertawa.
"Minta dengan Daddy."
Plak
Kesya refleks memukul belakang kepala sang adik yang dengan santainya menjawab ucapan Ello.
"Jadi, kapan nih rencananya?" tanya Isabelle tersenyum penuh arti.
"Kak Isa, jangan mulai deh. Kek nggak tau otak pintar Ello aja" bisik Kesya pelan yang membuat Isabelle tertawa.
"Mami juga setuju kok sama Boy. Anaknya baik, sopan, sayang Ello juga."
Boy hanya terkekeh pelan.
Oh jadi gini rasanya diceritain didepan orangnya?-Boy.
"Ayo atuh, Kak. Udah dapet lampu ijo noh, tinggal kesiapan diri aja mau nggak tinggal sama kembaran singa" ucap Asyera yang membuat Kesya menatapnya tajam.
"Kalau Kak Kesya nih ya kan kesehariannya Kak Boy pasti udah tau, suka tiba-tiba banget, tiba-tiba nangis lah, tiba-tiba ketawa nggak jelas lah, pikirannya random semua. Jadi ya kalau siap hayuk bawa Om Heru ke rumah biar cepet dinikahin. Oh iya, jangan lupa ye minta restu sama Papi."
"Lo bisa diem nggak?! Makanya kata gue nggak usah deket-deket Kak Rey gini kan jadinya, kalau ngomong nggak disaring dulu."
*
__ADS_1
*
*