
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Hari ini adalah hari dimana Kesya akan melakukan perjalanan jauh bersama baby Ello yang menemaninya.
Beberapa bulan yang lalu memang sudah ditetapkan bahwa hari ini tepatnya Kesya akan pergi ke Seoul untuk melanjutkan pendidikannya.
Keputusan yang ia ambil saat ini adalah dengan membawa baby Ello dan mengurus bayi tersebut di negeri orang. Ia bahkan sudah mencoba mencari beberapa pengasuh bayi yang bisa ia pekerjakan saat ia sedang berhalangan menjaga baby Ello.
Malam hari sebelumnya, seluruh keluarga besar Franklin dan Aldino berkumpul bersama untuk membahas keputusan yang akan diambil oleh Kesya. Dalam kesempatan tersebut, ada cukup banyak pendapat dari orang-orang yang mengatakan bahwa lebih baik baby Ello dirawat oleh yang lebih berpengalaman seperti Citra dan Melly, atau boleh juga dirawat oleh Raka dan Claudia yang hingga sekarang belum dikaruniai anak.
Alasan keluarga tersebut adalah karena Kesya masih sangat muda untuk menghabiskan waktunya hanya dengan merawat baby Ello terlebih ketika ia baru saja akan menjadi mahasiswa baru yang suatu saat akan membuat waktu luangnya semakin berkurang. Demi keamanan bersama, mereka meminta agar Kesya tidak terlalu fokus mengurus baby Ello sementara ini agar tidak membuat mentalnya rapuh akibat tidak bisa membagi waktu dengan baik.
Namun, apapun pendapat yang diberikan oleh mereka, Kesya masih dengan keputusan yang bulat. Ia rasa, menitipkan baby Ello dengan orang lain akan membuat perasaan bersalah hinggap pada dirinya karena ia sudah berjanji akan mengurus baby Ello dengan tangannya sendiri.
Kesya yang keras kepala pun tidak bisa diganggu gugat lagi keputusannya hingga sekarang ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama Steven dan Boy di sebuah apartemen dan juga akan mempekerjakan dua atau tiga orang pengasuh yang bisa membantunya mengurus rumah dan merawat baby Ello.
Untuk masalah Nyonya Merlin dan Arsya pun sudah ditemukan jalan keluarnya dengan Nyonya Merlin yang belum bisa menerima kebaikan keluarga Kesya dan tetap memilih untuk tinggal di Cambridge.
Kesya pun segera menceritakan kepada Dexter agar lelaki itu bisa membantunya untuk mengunjungi keluarga Nyonya Merlin sesekali jika Kesya tidak bisa berkunjung.
"Ingat ya dek, harus dirawat dengan baik dan jangan lupa selalu konsultasi dengan dokter yang ada disana" ucap Raka untuk yang kesekian kalinya.
Kesya tertawa. "Mas tau nggak udah berapa kali ngomong gitu? Aman aman, tenang aja. Kesya punya dua bodyguard" ucap Kesya seraya menunjuk Boy dan Steven yang juga ikut terbang bersamanya hari ini.
Mendengar hal itu, seluruh keluarga yang mengantar kepergian Kesya pun tertawa.
"Tar Kesya ngadu ke Mas ya kalau Bang Stev ngeluh Ello suka nangis" ucap Kesya pelan.
Steven yang mendengar namanya disebut pun menoleh lalu memukul pelan kepala sang adik. "Ya kali, Key. Yang ada udah disembelih duluan sama Papa" ucap Steven yang kembali mengundang gelak tawa semuanya.
*****
Seperti dugaan Kesya, tangisan baby Ello mulai terdengar ketika pesawat baru saja mendarat di bandar udara Incheon hingga membuatnya sedikit kesulitan. Untunglah ia memiliki dua bodyguard yang selalu siap siaga membantunya kapan saja.
"Coba gue gandong" ucap Boy menawarkan diri ketika melihat baby Ello yang semakin rewel.
"Dia kenapa ya, Kak?" tanya Kesya pelan seraya mengelus pucuk kepala sang anak.
Boy tersenyum tipis. "Gimana sih Mommy nya kok panik? Dia cuman gelisah aja gara-gara perubahan cuaca."
__ADS_1
Untung saja, saat di pelukan Boy, tangisan baby Ello semakin lama semakin menghilang.
"Mau langsung pulang?"
Steven yang baru saja kembali dari mengambil koper Kesya pun membuka suara.
"Di apart ada bahan masakan nggak? Biar tar Kesya masak aja takutnya Ello makin rewel."
"Nggak ada. Nanti gue keluar beli makanan sekalian bahan-bahan aja, jadi kita balik aja dulu."
"Gue bisa bantu."
"Jangan, Mommy dan Daddy Ello harus ngurus anak dulu" ucap Steven dengan santainya membuat Kesya dan Boy sedikit salah tingkah.
"Heh, mulutnya perlu istighfar" gerutu Kesya kesal.
Steven yang melihatnya pun langsung tertawa. "Lagian, bisa-bisanya gue dikirain anak lo berdua sama tuh penumpang tadi."
Flashback on
Saat berada di dalam pesawat, baby Ello terlihat sedikit gelisah sehingga sempat beberapa kali menangis dan membuat Kesya sedikit panik.
Boy yang duduk disebelahnya pun langsung menawarkan diri untuk membantu Kesya dengan mencoba menggendong Ello dan menepuk-nepuk pelan pantatnya hingga membuat bayi tersebut kembali tertidur.
Hal itu disaksikan oleh salah seorang penumpang yang mengira keduanya adalah pasangan suami istri sehingga ia bertanya kepada Steven yang ada di sebelahnya.
Sontak pertanyaan itu membuat Steven menoleh dengan memperlihatkan wajah bingung nya.
"Wait a minute, who do u mean my parents?" tanya Steven seraya mengerutkan keningnya heran.
Penumpang tersebut langsung menunjuk ke arah Boy dan Kesya yang sibuk mengurus baby Ello. "Wouldn't u be their oldest?"
Anjir.-Steven.
Flashback off.
Steven yang baru saja menyelesaikan ceritanya dengan raut wajah kesal pun membuat Kesya dan Boy tertawa seketika.
"Astaga, Kesya nggak salah denger, kan? Yaudah Bang Stev mau jadi anak Mommy Kesya nggak?"
Plak
Steven yang masih kesal pun segera memukul kepala sang adik dengan pelan. "Nggak sopan sama yang tua."
"Kalau gue jadi lo sih harusnya gue bersyukur karena dikira lebih muda dari Kesya" ucap Boy menanggapi.
__ADS_1
Steven yang mencerna ucapan Boy pun langsung menepuk keningnya. "Oh iya, kan bagus gue dikira masih muda bahkan lebih muda dari Kesya."
Melihat hal itu, Kesya dan Boy hanya bisa mendengus kesal.
"Kak, sini biar gue gendong lagi" ucap Kesya seraya mengelus pelan pucuk kepala baby Ello yang tertidur nyenyak di pelukan Boy.
Seolah tidak mendengar ucapan Kesya, Boy malah kembali menidurkan baby Ello di kereta.
"Biarin gue aja yg jagain sekarang, lo pasti masih capek."
Ah, Steven salah berada di tengah-tengah dua manusia yang seolah menganggap dunia hanya milik mereka berdua saja. Ralat, bertiga dengan anak mereka.
*****
Seorang pria baru saja keluar dari sebuah bar dengan terhuyung-huyung membuat semua orang dapat menduga bahwa pria tersebut pasti sedang mabuk berat.
"Dev!" panggil seseorang yang berlari kearahnya membuat Devan berkali-kali mengedipkan matanya meyadarkan diri untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Lo siapa?" gumam Devan pelan.
Aroma minuman keras yang menyengat membuat orang yang memanggil Devan tersebut refleks menutup hidungnya.
"Lo mabuk berat. Kenap—"
Devan yang sedang dipengaruhi oleh alkohol pun langsung membungkam mulut wanita itu. Bukan hanya itu saja, tangan Devan langsung bergerak dengan liar meraba tubuh wanita itu yang juga ternyata membalas perlakuan Devan.
*****
Pagi harinya, ponsel Kesya tiba-tiba berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Dexter.
"Tumben pagi banget" ucap Kesya saat panggilan sedang berlangsung.
"Please, jauhin Devan."
Suara Dexter seperti seseorang yang sedang menahan amarah hingga membuat Kesya sedikit terkejut.
"Lo ke—"
"Dia ngehamilin cewek."
Deg.
*
*
__ADS_1
*