Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kesya's Happiness


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Klek


"Permisi, maaf saya sedikit terlamb—loh? Kak Devan?!"


"Dhea?! Lo ngapain disini?" tanya Devan heran.


"Kak Dhea?!" Kirana pun terkejut melihat seseorang yang ia kenal tiba-tiba masuk ke privat room.


"Sudah saling kenal ternyata. Sayang, ini sahabat dekat Papi namanya Om Fahri" ucap Rangga memperkenalkan keluarga Fahri kepada Dhea.


Dengan raut wajah yang masih heran, Dhea pun bersalaman dengan Fahri dan juga Nia, kedua orang tua Devan.


"Pi, ini ada apa ya?" tanya Dhea tidak sabaran.


Rangga terkekeh pelan. "Makanlah dulu."


Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya dengan perasaan harap-harap cemas karena tidak tau apa yang direncanakan oleh Rangga dan juga Fahri.


*****


Unknown Number


Gue liat-liat ada yang masih kesel nih.-Steven.


Siapa ya?-Kesya.


Paketan belum nyampe?-Steven.


Siapa ya? 2-Kesya.


Astaga, Key. Maafin lah, masa gitu aja ngambek.-Steven.


Gitu aja?! Gitu aja lo bilang?! Setahun coy setahun gue kek orang bego nggak tau Abang sendiri jadian sama sahabat gue.-Kesya.


Hehe ya maaf, gue kan waktu awal-awal jadian sibuk penelitian jadi nggak punya waktu buat ngedate juga makanya gue males cerita.-Steven.


Ya maaf dan maaf ya itu beda.-Kesya.


Salah mulu gue. Yaudah maafin, itu paketan udah otw.-Steven.


G.-Kesya.

__ADS_1


Kak Boy said "pake titik biar keliatan galak".-Kesya.


Hadeh.-Steven.


Kesya tidak membalas pesan Steven lagi. Ia pun masih kesal dengan kakaknya yang itu karena merahasiakan hubungannya dengan Widya yang sudah berjalan satu tahun lebih. Yang membuat Kesya semakin kesal adalah karena diantara keluarganya, hanya Kesya lah yang baru mengetahui hal itu.


Ponsel Kesya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Widya. Kesya sudah yakin bahwa Steven pasti mengadu pada kekasihnya itu.


"Who's this?" (Siapa ini?)


"Kesya maaf, ih jahat banget kontak gue di apus. Maaf banget huhu, gue kan nggak bermaksud gitu, Key. Kita terlalu sibuk ngebahas lo sama Jang Jun sampai-sampai gue lupa cerita."


"Nggak usah bawa-bawa Jang Jun, bilang aja lo emang mau main rahasia sama gue. Sumpah sih gue marah banget."


"Kesya jangan gitu dong. Please maafin, masa lo gitu sama gue?"


"Ya terus lo gimana? Masa lo main rahasia sama gue? Ternyata selama ini gue nyumpahin Abang gue didepan pacarnya sendiri."


"Tapi gue nggak pernah kasih tau Even, kok! Beneran, Key."


"What?! Even?! Abang gue yang jelek kek monyet gitu lo kasih nama Even?! Emang ye kata orang cinta itu buta."


"Hehe Abang lo cakep banget tau. Sayang Even banyak-banyak."


"Sumpah gue jijik. Bisa-bisanya lo kecantol seorang Steven?! Kenapa nggak sama Brother aja sih?! Harusnya lo sadar kalau cuman Mas Raka dan Brother yang waras."


"Ya gue sukanya sama Even, gimana?!"


Kesya benar-benar kesal mendengar Widya yang selalu memanggil kekasihnya dengan panggilan Even. Panggilan lucu namun tidak dengan orangnya. Bagiamana bisa Widya memutuskan untuk menjadi kekasih lelaki itu? Kesya saja sampai harus mengelus dada mendengarnya terlebih mendengar bahwa keduanya sudah menjalin hubungan cukup lama.


*****


Bagaimana dengan pertemuaan antara keluarga Devan dan Dhea malam itu? Jangan berpikir negatif, ternyata Rangga hanya ingin bersilaturahmi karena sudah lama tidak bertemu saja.


Semenjak hari itu, keduanya semakin akrab karena mengetahui bahwa orang tua mereka adalah sahabat dekat. Seperti siang ini saat Dhea sedang memposting bahwa dirinya sedang berada di cafe dan Devan pun memesan americano ice satu gelas lalu meminta Dhea untuk mengantarkannya ke kantor dan akhirnya gadis itu mau tidak mau harus mengantarkannya kepada Devan.


"Nah gini sama calon ipar" ucap Devan yang membuat Dhea mendengus kesal.


"Oh iya gimana lo sama Jojo sekarang?"


"Jangan bahas Kak Jojo, gue lagi kesel sama dia."


"Lah kenapa?" tanya Devan seraya tangannya bergerak membereskan berkas-berkas yang baru saja ia periksa.


"Masa ya dia mau lanjut kuliah lagi" ucap Dhea dengan wajah kesalnya.


Devan hanya diam karen atau gadis itu belum selesai berbicara.


"Ya gue tau pendidikan itu penting tapi apa nggak bisa ditunda dulu? Dia janji mau ngelamar gue secepatnya tapi selalu ditunda gara-gara sekarang dia mau ngambil S3 lagi abis ini. Gue capek tau udah puluhan kali dijodohin sama rekan Papi."

__ADS_1


"Tumben banget Jojo ngambis" gumam Devan pelan.


"Iyakan? Kek lo baru sadar kah pendidikan tuh penting? Lo ngapain aja SMA dulu suka bolos pelajaran ekonomi? Sumpah gue kesel banget."


Devan tertawa mendengar cerita Dhea. "Mungkin aja Jojo lagi berusaha mencapai sesuatu. Lo pernah nanya nggak apa tujuan dia lanjut pendidikan?"


Pertanyaan Devan membuat Dhea menggeleng pelan.


"Coba lo mikir pake cara yang berbeda. Lo harus tau apa tujuan Jojo tiba-tiba ngambis banget gitu dan tanya tujuan yang mau dia capai itu apa. Siapa tau lo akhirnya bisa ngerti kenapa dia lebih mementingkan itu."


"Coba deh nanti gue tanya. Kalau misalkan dia nggak tau alasan dia mau lanjut gimana?"


"Bahas baik-baik aja sama dia tentang kelanjutan hubungan lo berdua. Gue ngerti kok kenapa dia gitu karena banyak yang harus lo persiapkan ketika lo siap masuk ke jenjang yang lebih serius. Nggak cuman usaha dan materi, mental juga perlu lo siapkan apalagi lo ngambil anak gadis orang."


"Wow, ini Kak Devan, kan? Keknya lo cocok deh nikah sekarang, Kak."


"Sialan."


*****


Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, tidak terasa kini sudah setahun Kesya berada jauh dari keluarganya. Saat ini Kesya sudah menjadi mahasiswa semester akhir dan akan lulus dua bulan lagi karena otak cerdasnya tidak membutuhkan waktu lama menempuh pendidikan di negara orang.


Ello pun sudah terlalu nyaman degan kelas penitipan anak terlebih teman sekelasnya sangat baik kepadanya. Bocah itu tidak pernah lagi merengek meminta Boy untuk menjemput mereka karena ucapan Boy membuat Ello tersadar.


Flashback on


Malam itu Ello meminta Kesya untuk menelepon Boy. Awalnya Kesya tidak mau karena di Indonesia sudah subuh dan bisa dipastikan itu akan mengganggu tidur Boy, namun karena entah kenapa Ello tiba-tiba merengek hingga akhirnya dengan terpaksa Kesya menelepon Boy.


Boy yang semalaman tidak tidur karena tuntutan pekerjaan pun akhirnya bisa beristirahat sebentar dan berbicara dengan sang anak.


"When will Daddy pick me up?" (Kapan Daddy akan menjemput ku?) rengek Ello dengan wajah sedihnya.


Boy terkekeh pelan. "What is it? Daddy's Son is very spoiled." (Apa itu? Anak Daddy sangat manja.)


"I want to live with Daddy and Mommy like kids my age." (Aku ingin tinggal bersama Daddy dan Mommy seperti anak-anak seusiaku.)


Ucapan Ello membuat Boy terdiam. Untung saja Kesya sedang berada di dapur karena ada yang ia ambil sebentar sehingga ia tidak mendengar ucapan Ello.


"What's wrong with Daddy's Son? Is something bothering u?" (Ada apa dengan anak Daddy? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?)


Ello mengangguk pelan. "My friends always tell me that they go on vacation with their parents, they talk about eating and sleeping with their parents. Why can't I be like that?" (Teman-teman ku selalu memberi tahu ku bahwa mereka pergi berlibur dengan orang tua mereka, mereka berbicara tentang makan dan tidur dengan orang tua mereka. Kenapa aku tidak bisa seperti itu?)


Terdengar helaan nafas Boy karena sadar anaknya sedang berbicara serius.


"Hey, didn't Daddy ever say that no matter what, Ello had to be the main reason for Mommy's happiness." (Hei, bukankah Daddy pernah mengatakan bahwa apapun yang terjadi, Ello harus menjadi alasan utama kebahagiaan Mommy.)


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2