
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Malam hari pun tiba dimana puncak acara yang sangat meriah membuat tamu undangan semakin banyak yang berdatangan. Kesya merasa sedikit bosan karena ditinggal sendiri sehingga ia pergi ke luar gedung untuk menghirup udara segar.
"Excuse me?"
Ada yang berbicara dengannya membuat Kesya berbalik.
"Anata wa hontō no nihonjindesu ka?" (Apakah kau orang Jepang asli?) tanya orang itu menggunakan bahasa Jepang.
Untung saja Kesya bisa menguasai beberapa bahasa termasuk bahasa Jepang sehingga membuatnya mudah mengerti dan menjawab.
"Īe, watashi wa Indoneshia hitodesu." (Tidak, aku orang Indonesia.)
Hal itu membuat lelaki tersebut terkejut karena bahasa Jepang Kesya sangat lancar.
"Koko de benkyō shimasu ka?" (Apakah kau bersekolah disini?"
Kesya tertawa. "Bangō." (Tidak.)
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Kesya tau bahwa lelaki itu adalah salah satu anak rekan kerja Aldino yang menempuh pendidikan di Jepang.
Inilah yang harus dipelajari sebelum berlibur ke negeri orang, yaitu harus bisa bahasa mereka atau setidaknya kuasai lah bahasa Inggris.
Kesya mempunyai kepintaran diatas rata-rata sehingga mempelajari bahasa asing sangat mudah baginya. Sekarang, ia bisa berbagai macam bahasa seperti bahasa Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, Thailand, Italia, Rusia, Belanda, dan sebagainya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah, lamanya ia belajar bahasa sekitar satu sampai dua bulan saja. Benar-benar genius.
*****
"Key" panggil Rey ketika melihat Kesya baru saja masuk kembali ke gedung.
Kesya segera menghampiri Kakak nya tersebut. "Apa?"
__ADS_1
"Bisa ngomong berdua bentar?" tanya Rey menatap Kesya lekat.
Aduh, dia pasti curiga.-Kesya.
"Penting banget?" tanya Kesya yang seolah ingin menghindar agar Rey tidak curiga lagi padanya.
Rey segera berjalan menuju tempat yang tidak ramai sekali membuat Kesya harus pasrah mengikuti kemana langkah kaki Kakak nya.
"Ada masalah?" tanya Rey to the point.
Kesya menggeleng pelan namun ia tidak mau mengangkat kepalanya maupun menatap Rey membuat sang Kakak menghela nafas berat lalu berjalan mendekati Kesya.
Rey dengan segera merengkuh tubuh gadis itu dengan penuh kasih sayang, menyalurkan semua perasaannya kepada Kesya sedangkan Kesya hanya diam namun tetap membalas pelukan sang Kakak.
"Berat ya, Key" ucap Rey pelan.
Kesya hanya diam namun ia tidak sadar bahwa air matanya sudah mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Lo pasti sendirian dan selalu menyalahkan diri lo atas semuanya."
Ada jeda sebentar sebelum Rey kembali membuka suara.
"Kalau Kak Rey gini terus, mau sampai kapan Kesya bergantung hidup sama orang lain? Kesya nggak mau jadi beban, Kak. Nggak semua orang bisa ngerti masalah apa yang Kesya alami. Orang-orang juga punya masalah sendiri yang lebih penting, jadi kenapa Kesya harus terus bergantung sama orang?"
Rey diam tanpa ingin merespon dulu karena ia tau bahwa Kesya belum selesai berbicara.
"Kak, kalau gini terus yang ada Kesya bakal ilang dari hidup kalian.."
"Key!"
"Semakin Kesya diperhatiin, makin Kesya benci ke diri Kesya sendiri. Gue kenapa?! Kenapa harus selalu jadi beban?! Kenapa nggak bisa ngurus semuanya sendiri?!"
"Hei, nggak ada yang bilang lo beban selama ini. Itu tanggung jawab kita ngurus lo" ucap Rey yang ingin memberikan pengertian kepada Kesya.
"Emang nggak ada yang bilang Kesya beban, Kesya sendiri yang ngerasain itu. Cuman demi Kesya, kalian semua lupa sama kebahagiaan kalian sendiri. Cuman demi Kesya, kalian bakalan rela kesana kemari. Dan cuman demi Kesya, kalian bahkan rela ninggalin studi. Gimana Kesya nggak nyebut diri sendiri beban, Kak?! Jadi tolong.. tolong jangan selalu minta maaf karena jauh dari Kesya.. sakit, Kak.."
"Key, sorry k—"
__ADS_1
"Kak Rey! Kesya nggak ada terima kata maaf apapun. Percaya sama Kesya, Kesya bisa urus semuanya sendiri. Kesya harus bisa mandiri Kak biar nggak ngerepotin orang terus."
*****
Setelah obrolan yang cukup serius dan cukup lama, akhirnya Rey hanya bisa mengikuti kemauan adik perempuannya yang memintanya untuk tidak terlalu khawatir dengan keadaan Kesya selama ia tinggali dalam menempuh pendidikan.
Sebenarnya, Rey masih merasa tidak enak jika harus membiarkan Kesya sendirian disana karena ia benar-benar takut jika Kesya harus mengatasi masalahnya sendiri. Bukan karena Rey tidak percaya dengan Adik nya, tapi karena Rey tidak ingin melepas tanggung jawab sebagai seorang Kakak.
Rey juga sedikit merasa bersalah jika harus melibatkan Boy dalam menjaga Kesya karena kata-kata Kesya tadi membuatnya sadar. "tolong, jangan bawa orang lain buat jaga Kesya"
"Kak, kasih kesempatan buat Kesya bisa mandiri" ucap Kesya menatap Rey dengan tatapan penuh arti.
Rey menghela nafas berat sebelum menjawab. "Apa gue sangat over sama lo?"
"Bukan masalah over nya, Kak. Tapi masalahnya karena Kak Rey terlalu mengutamakan Kesya dari pada semuanya."
"Gue cuman mau jagain lo."
Kesya kesal, benar-benar kesal karena telinga Rey sepertinya bermasalah sejak dulu.
"Kak, Kesya nggak ngelarang kalau Kak Rey mau jagain Kesya, tapi tolong kasih kesempatan Kesya buat mandiri dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa bantuan siapa pun termasuk Kak Rey."
Berkali-kali Kesya menjelaskan hal yang sama namun Rey seolah menutup telinga.
"Tap—"
"Kak Rey nggak mau babak belur kan malam ini?"
Glek.
Rey menelan ludah dengan kasar seraya menatap Kesya yang sudah melotot kearahnya.
"Kabur!" teriak Rey yang segera berlari dengan kencang membuat Kesya tertawa seketika.
Maaf, Kak. Gue nggak bisa kalau terlalu sering bergantung ke semua orang.-Kesya.
*
__ADS_1
*
*