
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Sepanjang perjalanan, suasana di alam mobil benar-benar sepi seperti biasanya dan Ziko pun sudah terbiasa dengan itu.
Ketika ia mendengar cerita bahwa pernikahan Devan dan Dhea terpaksa, ia sendiri sadar bahwa bukan hanya satu pihak melainkan keduanya yang sama-sama sakit.
Karena tidak tau harus berbuat apa, Ziko hanya berharap akan datang cinta secepatnya di hubungan keduanya.
"Tolong jaga sikap karena banyak wartawan yang datang" ucap Ziko membuka suara.
Dan, lagi-lagi ia tau bahwa tidak ada jawaban atas ucapannya barusan.
*****
Devan sangat muak memerankan tokoh suami idaman dihadapan publik ketika ada pesta besar yang dihadiri oleh banyaknya wartawan seperti sekarang.
"Gandeng, Dev."
Ucapan Ziko membuat Devan tiba-tiba tersadar dan segera menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam butik Kesya.
Suasana di dalam butik Kesya cukup ramai karena ada begitu banyak tamu undangan yang turut menghadiri acara pembukaan butik model ternama tersebut.
Tatapan Devan menuju ke arah seorang bocah kecil yang selalu menggandeng tangan Boy kemana-mana membuatnya hanya bisa menatap dengan diam.
Sedekat itu Ello dengan Boy sekarang.-Devan.
"Gue mau nyapa Kesya dulu" ucap Dhea yang membuat lamunan Devan buyar.
Seolah mengikuti kemana arah Dhea pergi, tatapan Devan beralih menatap gadis cantik yang sedang tertawa bahagia bersama teman-temannya.
Kesya memang selalu cantik dan bersinar dimana pun ia berada dan melihat gadis itu membuat senyum tipis Devan terukir jelas.
"Kesya selalu cantik ya, Zik" ucapnya tanpa sadar.
__ADS_1
Ziko mengikuti arah mata Devan dan benar saja, siapapun akan setuju dengan ucapan Devan bahwa Kesya memang sangat cantik.
"Cantik, dan selalu cantik banget. Tapi tolong, jaga sikap lo" ucap Ziko memperingati.
Devan terkekeh pelan mendengar ucapan Ziko. "Apa udah nggak ada harapan buat gue balik sama Kesya?"
Mendengar pertanyaan itu yang kembali keluar dalam mulut Devan, Ziko hanya bisa diam.
"Kesya.. cantiknya gue.. dan selalu cantik.."
"Shut up, bro!" (Diam, bro!)
"Key.. aku kangen.. kangen banget sama kamu.. sama kita.."
Seolah tidak ingin menanggapi, Ziko benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat dan membiarkan Devan larut dalam pikirannya sendiri hingga tak lama kemudian Dhea kembali ke meja mereka.
"Udah selesai ngeliat ceweknya?" tanya Dhea terkekeh pelan ketika Devan sadar bahwa ia sudah kembali.
Devan hanya diam tanpa ingin menjawab ucapan Dhea karena ia tidak tau harus merespon bagaimana.
"Kesya cantik banget ya, Kak?"
"Dev, gue boleh ngomong berdua?"
Devan mewanti-wanti apa yang ingin dibahas oleh Boy yang sepertinya cukup serius.
Keduanya pun berjalan sedikit menjauhi kerumunan orang-orang karena memang pembicaraan mereka hanya bisa diketahui oleh dua pihak saja. Selebihnya, hanya Tuhan yang tau.
Cukup membuat Devan terkejut ketika mendengar bahwa sahabatnya itu sepertinya akan melanjutkan hubungan yang serius dengan gadis yang sampai saat ini masih berada dalam pikirannya.
"Gue emang brengsek, Dev. Gue naruh harapan ke Kesya disaat lo masih bareng dia. Gue minta maaf banget karena gue nggak bisa kontrol perasaan gue sendiri. Makanya sekarang, sebelum gue melangkah maju, gue mau nanya dulu perasaan lo ke dia gimana karena gue nggak mau bahagianya gue malah nyakitin sahabat gue sendiri."
Ah, apakah sudah saatnya untuk Devan merelakan gadisnya? Apakah sekarang saatnya untuk Devan berhenti berharap pada hubungannya dan Kesya?
"Boy.."
Ada jeda sebentar sebelum Devan kembali membuka suara dan Boy dengan setia mempersiapkan telinga nya untuk mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
"Lo nggak salah, semua dugaan lo emang bener dan gue nggak bisa menyangkal itu semua. Sampai detik ini pun gue masih berharap sama Kesya.."
__ADS_1
Boy diam, karena ia tau bahwa Devan memang belum selesai berbicara.
"Gue emang belum bisa relain Kesya sama siapapun termasuk lo. Tapi, gue sadar kalau gue gini terus yang ada gue malah jadi penghambat kebahagiaan Kesya. Apalagi ketika gue lihat kalau dia juga punya rasa yang sama dengan lo.."
Devan tersenyum tipis. Tak bisa dipungkiri bahwa saat bersamanya pun Kesya sering membicarakan Boy yang membuat dirinya akhirnya mengerti bahwa gadis itu juga memiliki perasaan yang sama.
"Kalau sama gue, Kesya banyak sakitnya.. gue udah banyak nyakitin Kesya dan gue sadar dengan semua yang udah gue lakuin ke dia.. mungkin ini karma buat gue karena udah menyia-nyiakan kesempatan buat memiliki hati gadis kecil kesayangan semua orang. Udah saatnya gue ngelepasin Kesya, kan? Gue titip dia ke lo ya, bro. Gue tau kalau lo nggak akan nyakitin Kesya kaya gue nyakitin dia. Gue tau kalau lo bisa bahagian dia sampai dia lupa gimana rasanya nangis."
"Dev.. lo udah rela kalau gue maju dapetin Kesya..?"
"Rela nggak rela ya gue harus rela, kan? Kesya berhak bahagia dan lo juga berhak jadi alasan Kesya bahagia. Setelah ini, gue akan belajar buat ngelepasin Kesya. Anyway, jangan lupa undangannya ya."
Bohong. Tidak ada sedikit pun niat untuk Devan melepaskan Kesya walaupun sedetik saja dalam pikirannya. Kesya sudah masuk terlalu dalam di hati Devan.
*****
Bar Bobby memang menjadi tempat pelarian Devan setiap malam ketika pikirannya sedang berantakan. Seperti malam ini, setelah selesai acara pembukaan butik Kesya dan selesai pembicaraan bersama Boy, Devan melakukan mobilnya menuju bar Bobby untuk melampiaskan semua rasa sakit yang ia tahan selama ini.
Satu gelas, dua gelas, hingga sudah tak terhitung berapa gelas vodka yang ia habiskan sendirian yang membuat Bobby hanya bisa menghela nafas berat.
Bobby sedikit mengetahui tentang Devan dan Kesya hingga membuatnya sedikit mengerti perasaan sahabatnya tersebut terlebih ketika mendengar Devan yang selalu meracau mengucapkan kata maaf kepada Kesya setiap ia mabuk berat seperti sekarang.
Malam ini sepertinya menjadi malam yang sangat berat bagi Devan karena ia lebih kacau dari biasanya hingga membuat Bobby mau tidak mau menghubungi Ziko untuk memintanya menjemput Devan karena sudah tak terhitung berapa kali ia kembali meminta Bobby untuk memberikannya botol vodka yang baru.
Karena tak kunjung diangkat, mau tak mau Bobby pun menelepon Dhea untuk memberitahukan kepadanya bahwa Devan sudah mabuk berat di bar miliknya.
Dhea yang saat itu sudah bersiap-siap untuk tidur pun dengan segera mengambil jaket dan kunci mobil menuju ke lokasi yang diberikan oleh Bobby.
Tak butuh waktu lama bagi Dhea sampai di bar Bobby yang sepertinya sangat ramai tersebut. Ia berjalan masuk dan menyusuri setiap tempat untuk menemukan suaminya hingga ia melihat sosok lelaki yang terlihat begitu kacau tersebut.
"Lo kenapa lagi sih, Kak?!" gerutu Dhea setelah mencoba untuk membangunkan Devan dengan cara menepuk pelan pipi lelaki itu.
"Key..? Kesya..? Sayang, itu kamu..?"
*
*
*
__ADS_1