Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kecewa


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Setelah beberapa saat, Devan pun perlahan melepaskan pelukannya ketika merasakan bahwa Kesya sedikit lebih tenang.


"Maaf, Key.."


Hanya kata itu yang bisa ia katakan sekarang.


"Gue nggak mau denger itu lagi. Lo selalu bilang maaf dan bikin janji nggak nyakitin gue, tapi nyatanya apa? Lo selalu bikin gue sakit dan bodohnya gue masih tetep sayang lo.."


Deg.


Devan benar-benar terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kesya. Bahkan ia tidak pernah menyangka bahwa itu jawaban atas semua penjelasannya tadi.


"Gue selalu mengelak dan bilang bahwa gue bener-bener benci lo. Tapi, mau gimana pun gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri.. gue sayang lo Kak dan akan selalu sayang lo walaupun lo nyakitin gue berkali-kali.."


Kesya akhirnya menyadari bahwa ia benar-benar menyayangi lelaki ini. Sejak dulu, ia tak pernah bisa membenci Devan bahkan ketika Devan beberapa kali membuatnya menangis. Bukan rasa benci yang Kesya rasakan, ia malah lebih merindukan kebersamaan mereka kembali. Kesya akhirnya akan kembali pada yang ia sebut "rumah".


*****


Setelah melewati malam yang panjang, akhirnya Kesya terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara alarm ponselnya berbunyi.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa ketiga lelaki itu sudah bangun dan bersiap untuk sarapan pagi padahal ini baru pukul 07:00 waktu setempat.


"Ello masih tidur, Kak?" tanya Kesya seolah memulai pembicaraan di meja makan.


Boy mengangguk pelan seraya memberikan piring kepada Dexter. Bisa dipastikan bahwa chef pagi ini adalah Boy lagi.


Semuanya diam dan membuat suasana semakin canggung terlebih ketika Kesya melihat Steven yang bahkan seolah tidak peduli dengan kehadirannya.


"Gue pagi ini mau balik" ucap Dexter memulai pembicaraan.


"Udah siap semua?" tanya Steven seadanya.


"Safe flight, Bro. Kabarin kalau kesini lagi." Boy pun hanya menanggapi seperti itu.


Kesya menatap Dexter dengan tatapan penuh arti sedangkan yang ditatap terlalu fokus menikmati sarapan pagi. Ah, bukan terlalu fokus, Dexter hanya menghindari tatapan Kesya.


"Dex.." panggil Kesya pelan yang membuat Dexter menoleh sebentar lalu kembali fokus menikmati sarapan paginya.


Kesya diam seolah menimang apakah ia perlu bertanya sekarang dan menyinggung masalah kemarin atau tunggu berdua dengan Dexter saja?


Ah, Kesya tidak berani melihat kekecewaan Steven.


Lo pergi karena gue, kan?-Kesya


"Cepet banget lo pulang" ucap Kesya tertawa canggung.


Dexter terkekeh pelan. "Maklum udah jadi mahasiswa tua, tugas akhir udah nungguin gue."


Kesya hanya tersenyum tipis menanggapi. Ia sangat hafal bahwa Dexter hanya ingin mencairkan suasana saja karena suasana pagi ini sangat teramat canggung untuk mereka.

__ADS_1


*****


Saat ini semuanya sedang bersiap-siap untuk mengantar Dexter ke bandara kecuali Kesya yang sejak tadi mengurung diri di kamarnya karena tidak berani keluar.


Klek


Pintu kamar Kesya terbuka dan masuklah Dexter dengan senyum khasnya. "Loh? Lo nggak ikut anterin gue?" tanya Dexter mengerutkan kening ketika melihat Kesya yang belum bersiap-siap.


Kesya menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Maaf ya, gue tiba-tiba ada perlu ke kampus bentar lagi."


Gue takut kehadiran gue nggak dianggap lagi.-Kesya.


Dexter mengangguk pelan. Siapapun tau bahwa Kesya memang menghindar dari suasana canggung bersama Steven.


"Dex, gue boleh peluk lo..?" tanya Kesya ragu.


Dexter tertawa lalu mengulurkan tangannya membuat Kesya berlari kecil lalu memeluknya erat.


Sekuat tenaga Kesya menahan diri untuk tidak terisak dihadapan Dexter. Ia memeluk sosok yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu dengan sangat erat.


Dexter hanya diam seraya mengelus punggung Kesya beberapa kali. Namun akhirnya, pertahanan Kesya pun runtuh.


"Dex.. lo pergi karena gue, kan..? Karena keputusan gue bikin lo dan yang lain kecewa.. maaf Dex, karena gue selalu nyusahin lo, gue nggak sadar diri.."


"Hei, kok ngomong gitu sih?! Nggak ada yang kecewa sama lo, Key. Kita semua mau nggak mau ya harus terima sama semua keputusan lo" ucap Dexter seraya mengelus punggung Kesya.


Hal itu malah semakin membuat Kesya memeluknya erat. "Maaf.. maaf karena gue selalu jadi beban.."


"Udah, nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Gue juga berusaha jagain lo sebisa mungkin sampai akhirnya ada saat dimana gue udah nggak bisa ngejaga lo lagi. Dan mungkin udah saatnya sekarang, lo berhak nentuin keputusan-keputusan di hidup lo dalam tangan lo sendiri."


Sebenarnya Dexter tidak marah dan kecewa dengan keputusan Kesya, ia hanya sedikit terkejut saja karena selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya jika Kesya mau memaafkan kesalahan Devan.


Gue nggak terima lo cepet banget dewasanya.-Dexter.


*****


Semua orang sedang dalam perjalanan menuju Incheon Airport tanpa Kesya karena memang ia tidak ingin membuat suasana semakin canggung.


Sebelum berpamitan pun, Dexter meminta izin untuk membawa baby Ello bersama mereka dengan alasan bahwa biarkan baby Ello ikut mengantarkannya.


Kesya yang ditinggalkan sendiri pun segera bersiap-siap untuk ke kampus. Sebenarnya, ia ada jadwal sekitar dua jam lagi, namun karena memang ia takut menghadapi Steven, akhirnya ia pun berangkat ke kampus lebih pagi.


Ting.


Ponsel Kesya berdering.


Manusia Bunglon


Morning, cantikku. Wake up babe!-Devan.


Kesya tersenyum tipis.


Who's this? I am her boyfriend.-Kesya. (Siapa ini? Aku kekasihnya.)


Ponsel Kesya kembali berdering menandakan panggilan masuk dari Devan.


"Sayang!"

__ADS_1


Terlihat wajah panik Devan saat panggilan sedang berlangsung.


"Panik banget, Pak" ucap Kesya terkekeh pelan.


Devan mendengus kesal. "Siapa yang nggak panik? Cewek secantik ini perlu dijaga tau."


"Di iket sekalian."


"Mau?"


"Nggak ih becanda" ucap Kesya kesal.


Devan terkekeh pelan. "Baby, i need u" (Sayang, aku butuh kamu.) ucap Devan dengan manjanya.


"Nggak mempan. Udah, gue pengen ke kampus."


"Hei, i need ur hug, babe, please.." (Hei, aku butuh pelukan mu. Please.)


"Sialan, nggak bisa gini. Cepetan shareloc!"


Devan tertawa. Ternyata Kesya masih seperti dulu yang tidak bisa tahan jika melihat Devan kambuh manjanya.


"I am waiting for u, baby." (Aku menunggu mu, Sayang.)


*****


Incheon International Airport


"Oi!" teriak Rey saat melihat tiga lelaki itu berjalan masuk ke dalam bandara.


"Buset udah disini aje lo. Kenapa nggak ke apart tadi?" tanya Dexter heran ketika melihat Rey yang sudah ada di bandara.


Rey terkekeh pelan seolah tidak ingin menanggapi ucapan Dexter.


"Para babi, nggak usah ngehindar gitu. Kasian Kesya ngerasa sendiri lagi tar" ucap Dexter memberi nasihat.


"Siapa suruh dia balik sama si anjing?"


Plak


Boy memukul pelan tengkuk Steven yang tidak bisa menjaga ucapannya bahkan saat baby Ello sangat anteng menatapnya.


"Astaga, gue sampai lupa anak gue disini."


Dengan segera Rey mengambil alih baby Ello.


"Lo nggak mau sekali pun ke apart? Jauh-jauh dari Italia tapi malah ribut gini."


Rey menggeleng pelan menjawab pertanyaan Dexter. "Dia aja nggak ngehargain gue, ya buat apa?"


"Gue kesel banget sumpah bisa-bisanya dia kasih kesempatan lagi."


"Yup, cewek emang tolol kalau udah bucin."


"Nggak heran lo berdua satu rahim" ucap Boy kepada Steven dan Rey.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2