
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
"Devan?!"
Deg.
Boy yang saat itu baru saja menurunkan kereta baby Ello pun terkejut mendengar ucapan Kesya.
"Mana?" tanya Boy sedikit panik.
Kesya diam namun tangannya menunjuk kearah seberang sana membuat Boy pun ikut menoleh kearahnya.
Ternyata memang benar, itu adalah Devan yang sedang sibuk dengan ponselnya hendak menyeberang jalan ke arah dimana Kesya berada.
Seolah seperti sedang dikejar penagih hutang, Kesya segera berlari masuk ke dalam mobil Boy dengan perasaan campur aduk. Melihat Kesya yang tiba-tiba masuk, Boy pun juga ikut masuk bersama baby Ello.
"Lo beneran nggak mau ketemu sama dia?" tanya Boy pelan.
Kesya terdiam. Ia tidak tau harus melakukan apa sekarang. Seolah sedang jalan di tempat, Kesya tidak tau harus maju atau mundur yang semuanya memang mempunyai resiko. Jika ia maju, ia akan maju dengan rasa sakit dan jika ia mundur, ia akan mundur dengan rasa penyesalan. Ah, ternyata cinta cukup rumit.
"Key, ada masker nggak? Kereta Ello masih diluar" ucap Boy pelan yang membuat Kesya akhirnya tertawa.
"Kok nggak bilang dari tadi sih?" tanya Kesya disela-sela gelak tawanya seraya memberikan sebuah masker kepada Boy.
Boy terkekeh pelan. "Gue baru sadar jok belakang kita aja masih kebuka. Pegang Ello bentar ya."
Setelah memberikan Ello kepada Kesya, Boy pun keluar untuk memasukkan kembali kereta Ello yang sudah dikeluarkan olehnya seraya sesekali melirik Devan yang berjalan melewati mobil mereka.
"Sorry, Dev."
Tak lama kemudian, Boy pun kembali ke dalam mobil. "Mau pindah tempat makan?" tawar Boy yang membuyarkan lamunan Kesya.
"Mau pulang aja, Kak.." ucap Kesya pelan.
Ah, Boy sadar bahwa gadis yang ada dihadapannya saat ini sedang terkejut dan ketakutan jika Devan mengetahui keberadaannya. Terlebih ketika melihat Kesya yang meremas kuat ujung bajunya membuat Boy menghela nafas berat.
"Ngobrol bentar ya, sini Ello nya" ucap Boy seraya mengambil alih Ello kembali.
"Gue tau kalau lo pengen banget denger penjelasan Devan."
Deg.
Ucapan Boy membuat Kesya segera menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Boy tersenyum tipis seraya mengelus pipi gembul Ello. "Lo bingung, kan? Lo terlalu takut buat ngambil keputusan. Lo pengen denger penjelasan Devan tapi lo takut sakit hati dan lo pengen ngehindar tapi lo takut nyesel nantinya."
Ucapan Boy benar-benar tepat sasaran hingga membuat lidah Kesya membeku seketika.
"Keputusan dan pilihan yang kita ambil itu semuanya pasti ada resiko, tergantung kitanya aja lagi mau atau nggak nerima resiko itu."
"Kak.."
"Hm?"
__ADS_1
"Salah nggak sih gue gini? Gue kadang heran, satu sisi gue ngerasa jadi ceweknya Devan tapi di sisi lain gue ngerasa jadi orang asing banget."
"Bukannya itu resiko dari keputusan yang lo ambil?"
"Maksud lo?"
"Friendzone."
Damn.
*****
Setelah berpikir cukup lama dengan masih belum menemukan jawaban atas tanda tanya besar dalam hatinya, Kesya pun meminta Boy untuk membawanya kembali ke apartemen.
"Loh? Kan mau makan di luar" ucap Steven heran ketika melihat mereka sudah kembali.
Dexter menggeleng pelan. "Makin hari lo makin pikun aja, sejam yang lalu gue bilang mereka nggak jadi makan di luar karena papasan sama Devan."
Kesya hanya terkekeh pelan mendengar keduanya yang akan selalu berdebat.
"Gue mau masak dulu. Jagain Ello."
"Gue aja yang masak, Key" ucap Boy tiba-tiba.
Dengan segera, Boy beranjak menuju dapur meninggalkan Steven dan Dexter yang menatapnya seraya berdecak kagum.
"Apa lo nggak ada niat buat jadiin Boy laki lo? Secara dia bisa apa aja gitu, masak bisa, nyari duit bisa, jaga Ello bisa, bikin adik Ello juga pasti bisa."
Plak
"Kalau aja bunuh orang itu nggak dosa, keknya lo target pertama gue" gerutu Kesya dengan kesalnya seraya menatap Dexter dengan tatapan mematikan.
"Ah, si cantik marah-marah mulu."
"Anjir, gue baikin malah ngelunjak nih bocah."
"Udah-udah, ribut mulu lo berdua."
Tiba-tiba ponsel Kesya berdering menandakan sebuah panggilan suara dari Dhea.
"Duh yang lagi ketemuan nih, gimana kejutannya?"
Deg.
"Dhe, lo nggak salah sambung?" tanya Kesya heran.
Terdengar tawa Dhea di seberang sana. "Yaelah masa lo nggak mau cerita sih sama gue? Udah ke Namsan Tower nggak nih?"
Setelah mencerna beberapa saat, Kesya akhirnya sadar apa yang dimaksud oleh Dhea.
"Jangan bilang lo ada kasih tau alamat gue ke Devan..?"
"Loh? Kak Devan belum nyamperin lo?"
Dhea yang diseberang pun sama terkejutnya dengan Kesya.
"Nanti gue kabarin lagi."
Tut tut tut.
__ADS_1
"Anjing! Devan tau alamat apart?" tanya Dexter panik.
"Apa?!"
Steven yang saat itu baru saja kembali dari kamar setelah mengantarkan laptop pun terkejut mendengarnya.
"Jangan bilang yang lo berdua liat tadi emang dia mau otw kesini?!"
Kesya hanya bisa diam karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan jika nantinya Devan menemuinya.
"Duh gimana nih anying?! Mana sempet kita keluar kalau gini caranya."
"Aduh temen lo emang jancok! Ngapain sih pake acara ngasih alamat apart ke dia?!"
Dexter dan Steven sama paniknya karena takut jika Devan benar-benar akan mengunjungi apartemen mereka.
"Boy?! Sini bentar" teriak Dexter yang membuat Boy berlari ke arah mereka.
"Anak gue rewel?"
"Bukan, Devan otw kesini."
"Hah?"
"Ini gimana kita sembunyi nya?"
"Key, keputusan lo gimana?"
Bukannya ikut panik, Boy malah bertanya hal seperti itu dengan Kesya.
"Kalau lo siap ketemu dia, kita nggak akan kabur. Tapi kalau lo udah nggak mau ketemu dia, kita masih bisa keluar apart sekarang."
Kesya diam, pikirannya sedang berantakan sekarang. Ia tidak tau harus melakukan apa.
"Lo cuman punya dua keputusan, mau atau nggak denger penjelasan Devan."
"Boy bener, keputusan semuanya kembali ke lo" ucap Dexter menanggapi.
"Nggak! Gue nggak akan setuju kalau lo balik lagi sama cowok brengsek itu."
Saat mendengar Steven berbicara dengan nada tinggi, Boy segera mengambil alih Ello dari pelukan Kesya dan menutup telinga anaknya agar tidak mendengar ucapan-ucapan kasar yang keluar dari mulut mereka.
"Bang.. izinin Kesya biar denger penjelasan Devan.."
Baik Steven maupun Dexter dan Boy, semuanya benar-benar terkejut mendengar keputusan yang diambil oleh Kesya.
Pada akhirnya, lo akan selalu kembali ke dia.-Boy.
"Anjing! Lo mau disakitin terus-terusan sama dia?! Emang ye, cewek kalau udah sayang, tololnya minta ampun."
Dexter benar-benar emosi ketika mendengar Kesya yang ingin memaafkan kesalahan fatal yang dilakukan oleh Devan. Ia hanya ingin melindungi Kesya bahkan rela terbang ke Seoul agar Kesya tidak bisa menemui Devan lagi, namun ternyata keputusan Kesya malah membuatnya kecewa.
"Terima resiko lo sendiri."
Setelah mengatakan itu, Steven pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan Kesya yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Kesya tau bahwa keputusannya akan ditentang oleh semua orang. Bagaimana lagi? Ia tidak ingin jika nantinya ia harus menyesal karena tidak memberikan kesempatan untuk Devan menjelaskan semuanya. Mau bagaimana pun juga, tidak bisa dipungkiri bahwa Kesya memang merindukan sosok lelaki itu.
*
__ADS_1
*
*