
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
"Mommy!" teriak Ello dari dalam kamar membuat Kesya yang saat itu sedang memasak pun segera berlari menghampirinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kesya dengan raut wajah panik.
Dengan segera, Kesya berlari menuju kamar Ello ketika mendengar teriakan anaknya tersebut.
Perlu diketahui bahwa sekarang Ello memang sudah tidak tidur lagi bersama Kesya karena Kesya sedang mengajari anak lelakinya untuk mandiri dalam hal kecil sekali pun.
"Mommy, can I have breakfast with Daddy?" tanya Ello dengan raut wajah sedihnya. (Mommy, bisakah aku sarapan pagi bersama Daddy?)
Kesya segera mendekati sang anak lalu mengelus pucuk kepalanya. "Why must shout?" (Kenapa harus berteriak?)
"I am sorry, Mommy. Ello salah" ucap bocah tersebut seraya menunduk karena takut Kesya memarahinya.
Kesya tersenyum tipis lalu menggendong sang anak. "Okay, pagi ini kita breakfast with Daddy."
"Really?!" (Benarkah?!)
Ucapan Kesya benar, tak lama kemudian ia segera menghubungi Boy dan memintanya untuk sarapan di rumah mereka saja mengingat rumah Kesya dan Boy tidak jauh.
"Hei, Son" ucap Boy segera setelah ia masuk ke dalam rumah Kesya.
Ello yang mendengar suara Boy pun langsung berlari ke arah lelaki tersebut. "Daddy!"
"What's wrong with u? Kenapa pagi-pagi rewel banget?" tanya Boy seraya menggendong sang anak. (Ada apa denganmu?)
"I don't know, I just miss Daddy." (Aku tidak tau, aku hanya merindukan Daddy.)
Boy terkekeh pelan mendengar ucapan sang anak. "Kangen Daddy? Bukannya kemaren ada yang nggak mau pulang dari rumah Daddy?" ejek Boy yang membuat Ello tertawa.
"Let's have breakfast!" teriak Kesya dari dapur yang membuat kedua lelaki tersebut saling berbisik. (Ayo sarapan!)
"Mommy akan berubah menjadi singa" bisik Boy yang membuat Ello tertawa seraya mengangguk pelan.
"Ayo lari sebelum singa nya mengejar kita."
*****
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Kesya saat melihat Ello yang sedang sarapan seraya tersenyum sejak tadi.
__ADS_1
Ello menggeleng pelan. "Gini dong, Daddy dan Mommy itu harus akur" ucap bocah tersebut yang membuat Boy tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Kesya yang duduk di sampingnya.
"Like this?" (Seperti ini?)
"Yup! It's always like this!" (Ya, seperti ini selalu.)
Baik Kesya maupun Boy hanya tertawa melihat Ello yang sangat senang ketika melihat mereka kembali dekat seperti dulu lagi setelah kejadian dimana Kesya memberanikan diri untuk jujur tentang perasannya terhadap lelaki tersebut.
Setelah sarapan bersama, Kesya pun segera membantu Ello untuk bersiap-siap karena bocah itu akan segera berangkat ke sekolah.
Tok tok tok
"Apa Daddy bisa masuk?"
"Sure, Dad!" (Tentu, Dad!)
Boy pun segera masuk ke dalam kamar Ello dan melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat tenang dimana Kesya yang sedang membantu Ello memasangkan dasi.
Indah banget hidup gue kalau Ello beneran jadi anak gue.-Boy.
Ada senyum cerah yang Boy perlihatkan ketika dalam hati ia tanpa sadar meminta dua orang yang dihadapannya ini agar bisa menemani masa hidupnya.
"Sudah siap?"
"Loh? Kak Boy mau nganterin Ello?" tanya Kesya seraya mengerutkan keningnya heran.
Boy mengangguk pelan. "Sekalian mau ke kantor juga. Lo juga mau ke butik sekarang atau gimana? Biar bareng aja kalau sekarang."
"Jadi, Mommy nggak ikut nganterin Ello?" tanya bocah itu dengan raut wajah sedihnya.
Kesya tersenyum tipis seraya mengelus pucuk kepala sang anak. "Nanti Daddy kasihan harus bolak balik nganterin Mommy" ucap Kesya seraya memberikan pengertian kepada sang anak.
Ello hanya diam dan tidak mau menjawab ucapan Kesya. Padahal, ia sudah merencanakan bahwa akan diantar ke sekolah oleh keluarga lengkapnya hari ini.
Melihat Ello yang hanya diam, Boy pun membuka suara. "It's okay, demi anak Daddy yang ganteng ini, Daddy gapapa kalau harus bolak balik anterin Mommy."
"Daddy serius?!" tanya Ello menatap Boy.
Dan benar saja, ketika ia melihat lelaki tersebut mengangguk, bocah itu segera melompat-lompat kegirangan karena rencananya berhasil.
"Kak.. nanti gue balik naik gojek aja deh ya" ucap Kesya sedikit berbisik.
Boy menggeleng tegas. Bagaimana mungkin ia mengizinkan Kesya untuk pulang naik gojek? Apalagi jika tukang ojeknya pura-pura mengerem mendadak atau bisa saja ia mengelus lutut Kesya saat di lampu merah. Ah, memikirkannya saja membuat Boy sudah hampir tersulut emosi.
"Kenapa? Kan biar Kak Boy nggak telat ke kantor."
Kesya tetap kekeh ingin pulang dengan gojek padahal ia tidak tau saja bahwa lelaki dihadapannya sudah memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi menurutnya ketika gadisnya pulang dengan gojek.
__ADS_1
"Nanti dia naksir lo, gue gimana?"
Bukan hanya Kesya, Ello saja tertawa mendengarnya. Siapapun tau bahwa Boy itu sedang cemburu.
"Ya, nggak gimana-gimana. Kalau dia ganteng, ya gue naksir balik."
Ah, gadis itu sedang mengerjai lelaki yang sudah tersulut emosi.
"Terus gue gimana kalau lo naksir tuh tukang ojek?"
"Maunya gimana? Orang nggak ada hubungan apa-apa."
Skakmat.
Wah, Kesya ini entah bercanda atau serius tapi memang hubungannya dan Boy hanya berjalan di tempat.
*****
Gerasya's Boutique
Saat itu, ketika melihat ada kesempatan untuk berbicara empat mata, Boy berjalan mendekati Devan yang sedang duduk bersama Ziko dan Dhea.
"Dev? Gue boleh ngomong berdua?" tanya Boy to the point.
Tanpa menjawab, Devan pun mengajak Boy ke tempat yang lumayan sepi karena tau bahwa obrolan mereka mungkin cukup serius.
"Kesya?" tanya Devan tanpa basa-basi.
Boy tersenyum tipis. Ia tau bahwa sahabatnya itu masih berharap dengan Kesya bahkan sampai sekarang.
"Gue tau kalau pertanyaan gue ini percuma karena gue sendiri udah tau jawabannya tapi jujur gue pengen banget denger dari mulut lo sendiri, apa lo masih berharap sama Kesya?"
Devan terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa, mengelak pun rasanya tidak mungkin karena semua orang sudah tau bahwa ia memang masih sangat berharap kembali pada gadis kecilnya tersebut.
Boy tersenyum tipis. "Gue nggak akan berani melangkah maju kalau lo masih mengharapkan Kesya karena mau gimana pun, lo lebih dulu dekat sama Kesya daripada gue."
Deg.
"Boy.. lo serius sama Kesya..?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Devan membuat Boy menghela nafas seraya tersenyum tipis.
"Gue emang brengsek, Dev. Gue naruh harapan ke Kesya disaat lo masih bareng dia. Gue minta maaf banget karena gue nggak bisa kontrol perasaan gue sendiri. Makanya sekarang, sebelum gue melangkah maju, gue mau nanya dulu perasaan lo ke dia gimana karena gue nggak mau bahagianya gue malah nyakitin sahabat gue sendiri."
Ah, Boy ini masih sama saja, masih selalu mengedepankan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri.
*
__ADS_1
*
*