Tentang Kesya

Tentang Kesya
Memaafkan


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Devan berjalan sedikit lebih cepat ketika melihat bahwa dirinya sudah hampir sampai di alamat yang diberikan Dhea padanya. Dalam hatinya ia berdoa semoga Kesya mau menemuinya dan mendengarkan semua penjelasannya.


"Sayang, maaf.." gumam Devan pelan.


Tak butuh waktu lama untuknya sampai di sebuah apartemen mewah yang ada di tengah kota Seoul, dimana disitulah tempat tinggal Kesya selama ini.


Devan terdiam beberapa saat menatap pintu rumah yang ada dihadapannya. Pikirannya berantakan dan ada begitu banyak kemungkinan-kemungkinan negatif yang ia pikirkan saat ia sudah menekan bell pada pintu tersebut.


Beberapa saat sudah berlalu dan akhirnya Devan memantapkan hatinya untuk mengejar Kesya.


Ting tong ting tong


Suara bell terdengar bersamaan dengan detak jantung Devan yang berdebar sangat cepat.


Tangannya hendak menggapai bell sekali lagi hingga tiba-tiba


Bugh


Bughh


Bughhh


Ia tidak sempat menghindari dari serangan tiba-tiba yang menghampirinya. Devan terjatuh dengan darah yang keluar dari hidung dan bibirnya.


"Brengsek! Ngapain lo cari Kesya, anjing?!"


Devan terdiam, ia sangat mengenal suara itu hingga membuatnya mendongak dan benar saja, sosok Rey ada di hadapannya sekarang.


Bugh


Bughh


Bughhh


Devan hanya diam dan tidak menghindar saat Rey beberapa kali memukulnya dengan membabi buta. Ia sadar bahwa kesalahannya bahkan tidak sebanding dengan pukulan di wajahnya saat ini.

__ADS_1


Klek


Pintu apartemen terbuka dan keluarlah gadis yang sangat Devan rindukan sekarang.


"Kak Rey?!" teriak Kesya seraya menarik Rey yang masih memukul Devan dengan kasar.


*****


Saat itu Kesya masih tidak bisa tidur karena memikirkan keputusan yang ia ambil yang membuatnya harus merasakan kemarahan Steven dan Dexter sekarang bahkan sepertinya Boy juga kecewa padanya.


Setelah Steven yang langsung masuk ke kamar, Boy meminta baby Ello untuk tidur dengannya malam ini membuat Kesya benar-benar merasakan kesendirian lagi.


Kesya beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur karena ia ingin menangis disana. Jika ia menangis di kamar, semua orang pasti akan mendengarnya terlebih karena kamarnya berada di tengah-tengah.


Baru saja rasanya ia berjalan keluar, tiba-tiba Kesya mendengar samar-samar suara bising tepat di depan pintu apartemen mereka hingga membuatnya mendekat dan melihat kejadian itu.


*****


Rey menepis kasar tangan Kesya yang berusaha untuk menengahi keduanya. "Ngapain lo bela dia terus?! Dia udah nyakitin lo, Key!" teriak Rey dengan nafas memburu.


Kesya tidak menanggapi ucapan Rey dan segera berlari mendekati Devan yang sudah babak belur oleh kakaknya tersebut.


"Kak Devan?! Lo gapapa?! Bentar Kak, gue ambil kotak obat di dalam" ucap Kesya panik.


"Anak orang bisa mati di tangan lo, Kak.."


Rey tertawa sinis. "Bahkan disaat dia nyakitin lo pun lo masih mikirin perasaan dia?!"


"Kak Rey mending masuk dulu, gue perlu obati luka Kak Devan."


"Yang perlu diobati itu luka hati lo, Kesya!" teriak Rey frustasi.


"Kak Rey!" Tanpa sadar Kesya meneriaki kakaknya.


Rey kembali tertawa sinis. "Silahkan kalau lo lebih milih dia."


Setelah mengucapkan itu, Rey segera pergi dari hadapan Kesya membuat gadis itu terdiam beberapa saat.


"Key.. kejar Rey sekarang.."


Kesya tersadar bahwa Devan sedang sekarat hingga ia segera berlari masuk mengambil kotak obat untuk segera mengobati Devan.


Tak butuh waktu lama untuknya keluar dengan kotak obat dan membawa Devan sedikit menjauh dari apartemennya hingga mereka duduk di tepi tangga darurat.

__ADS_1


Dengan telaten Kesya mengobati luka-luka yang ada di wajah Devan akibat ulah kakaknya tersebut. Hingga ketika tangan Kesya bergerak ingin memasang plester di pinggir bibirnya, Devan segera menangkap tangan mungil itu dan membuat suasana sedikit canggung.


"Key.. maaf.."


Kesya hanya diam saat Devan menggenggam erat tangannya.


"Gue tau kesalahan gue udah fatal banget yang bahkan mungkin gue nggak bisa dimaafin lagi. Tapi gue bener-bener nyesel sekarang dan gue pengen ngejelasin semuanya sama lo. Kasih izin gue buat cerita semua yang terjadi tanpa ada satu pun yang gue tutupin lagi sama lo."


Melihat Kesya yang mengangguk pelan, ada getaran di hati Devan saat ia sadar bahwa dihadapannya ini adalah sosok gadis berhati malaikat.


"Gue sadar perubahan gue selama setahun terakhir ini yang mungkin bikin lo bertanya-tanya ada apa dengan gue. Jujur, gue sendiri nggak ngerti kenapa gue bisa berubah drastis ketika netap disana bahkan hal terburuknya gue sampai ngelakuin itu.. malam itu seperti biasa gue ke bar dan mabuk berat sampai gue nggak sadar ternyata gue bisa berakhir di kamar hotel dan untuk pertama kalinya gue lepas keperjakaan gue dengan temen kampus gue. Kalau lo tanya dia siapa, dia temen kampus yang beberapa kali jadi temen minum gue disana. Gue nggak tau kenapa malam itu dia tiba-tiba ada disana dan berujung dengan gue dan dia di kamar hotel. Gue ngaku kalau gue memang ngelakuin itu dan gue bener-bener nyesel.."


Tangan Kesya bergetar hebat ketika mendengar penjelasan Devan yang beberapa kali berhasil menusuk hatinya.


"Setelah kepergok, gue langsung cari penerbangan pagi buat nyusul lo kesini karena gue sadar kalau gue udah nyakitin lo terlalu jauh dan gue pengen ngejelasin semuanya sendiri sama lo. Alesan kenapa gue baru bisa berani muncul dihadapan lo adalah karena gue masih harus nyari tau ada apa dengan malam itu dan kecurigaan gue bener bahwa Levanna yang ngerencanain semuanya seolah-olah gue yang godain dia bahkan dia sendiri bilang kalau dia sekarang hamil anak gue. Setelah cukup lama, akhirnya kebenaran terungkap, anak yang ada di rahim Levanna itu bukan anak gue bahkan disaat gue dan dia ngelakuin itu, dia udah hamil."


Devan menjelaskan semuanya tanpa menutupi satu hal pun dari Kesya. Ia tidak mau lagi kehilangan gadis yang sangat ia cintai ini. Devan rela menerima segala konsekuensi atas penjelasannya hari ini.


"Lo.. brengsek, Kak.." ucap Kesya pelan.


Devan mengangguk karena ia sendiri pun sadar sebrengsek apa dirinya saat ini dan dengan tidak tau malunya ia berani muncul di hadapan Kesya.


"Gue disini tersiksa setahun terakhir karena selalu kangen lo, kangen kita.. tapi lo malah nyakitin gue.. lagi.."


Hati Devan benar-benar sakit mendengar ucapan Kesya terlebih ketika melihat air mata kembali jatuh di wajah cantiknya akibat ulah Devan. Lagi.


"Gue selalu berharap ada keajaiban yang bikin lo kembali seperti dulu lagi.. tapi semakin gue berharap sama hubungan kita, semakin gue sakit.."


"Sayang.."


Devan tidak siap menerima resiko dari semua yang ia lakukan.


"Gue benci sama lo.. lo anjing!" ucap Kesya dengan suara yang bergetar membuat Devan akhirnya memberanikan diri merengkuh tubuh mungil gadisnya.


Kesya memukul dada Devan berkali-kali seolah mengatakan bahwa rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan semuanya. Devan hanya bisa diam dan memeluk erat tubuh Kesya.


"Gue selalu kangen lo, Kak.."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2