Tentang Kesya

Tentang Kesya
Dexter


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


"Lo mau pulang?" tanya Boy seraya menatap Kesya yang sibuk mencuci piring.


Sebenarnya, Boy sudah menawarkan diri untuk membantu namun gadis itu menolak dengan alasan agar Boy kembali beristirahat saja.


"Ya gue harus ngapain lama-lama disini?" tanya Kesya balik.


Boy terkekeh pelan. "Ya siapa tau mau nginep lagi."


"Heh."


"Mau beli ice cream nggak?"


"Alasan lo bikin gue masih di sini kenapa?"


Kesya sepetinya tau Boy memang enggan menyetujui kepulangannya. Entah apa yang terjadi pada lelaki ini, tiba-tiba terlihat manja sekali membuat Kesya sedikit merinding karenanya.


"Lo tuh udah gede masa nggak malu sama Ello? Manja banget sih."


"Ya bagus biar lo bisa ngurus gue juga."


"Dih?"


"Emang bener nggak peka nih bocah" gumam Boy dengan wajah kesalnya.


*****


Kesya baru saja tiba di rumahnya saat ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Ziko.


Detak jantung Kesya berdebar cukup kencang ketika nama itu terlihat. Siapapun tau bahwa ini ada hubungannya dengan Devan. Memangnya, sejak kapan Ziko menghubungi Kesya jika tidak ada masalah degan Devan?


Sebenarnya, Kesya tidak mau menanggapi panggilan Ziko, namun lelaki itu sudah menghubunginya beberapa kali hingga membuat Kesya mau tidak mau mengangkatnya.


"Halo?"


"Key, tolong gue.."


"Iya? Kenapa, Kak?"


"Devan mabuk berat.."


Kesya terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa atas ucapan Ziko. Rasanya, ia sangat kurang ajar jika masih ikut campur dalam kehidupan Devan disaat lelaki itu sudah sah menjadi suami orang.


"Devan butuh lo. Sesayang itu dia sama lo, Key."


Ada tawa getir yang kesya perlihatkan saat mendengar Ziko mengatakan bahwa Devan sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Apa yang dia butuhin lagi dari gue? Selama ini, gue kira kelakuan Devan itu karena gue banyak kurangnya, tapi karena dia nya yang nggak bersyukur."


Ucapan Kesya menampar keras pikiran Ziko. Ia merasa dirinya sudah sangat jahat karena seolah memaksa Kesya untuk kembali pada Devan padahal ia sendiri sangat tau bahwa gadis itu sudah menderita.


"Gue rasa, semuanya udah selesai seminggu sebelum pesta pernikahan itu. Devan nggak pernah nunjukin effort dia kalau memang dia cuman mau sama gue. Gue juga capek, Kak. Gue sayang Devan tapi gue capek sama kelakuan Devan, sampai akhirnya semesta minta hubungan nggak jelas gue dan dia selesai."


Hanya terdengar helaan nafas berat di seberang sana.


"Kalau lo cari gue karena Devan, sorry gue nggak bisa. Harusnya Devan sadar diri kalau dia udah jadi suami orang. Makasih, Kak."


Setelah mengucapkan hal itu, Kesya memutuskan panggilan bahkan sebelum Ziko menjawab ucapannya.


Ia tidak tau apakah yang dilakukannya sekarang sudah benar atau tidak. Yang pasti, Kesya bukan orang bodoh yang masih mau dengan suami orang.


*****


Pagi ini terlihat sangat cerah dari biasanya membuat si pemilik kamar segera bangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Cukup lama ia berdiam diri di kamar mandi sehingga terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Gadis itu keluar dengan menggunakan jubah mandi dan segera berjalan menuju lemari pakaian miliknya.


Tiba-tiba dering ponsel membuat fokus gadis yang sedang memilih pakaian tersebut terganggu. Ia segera beranjak menuju nakas untuk mengambil ponselnya yang berdering menandakan sebuah panggilan masuk.


"Kenzo? Ngapain pagi-pagi?" gumam Kesya saat melihat nama kontak pemanggil.


"Kenapa lo nggak bilang kalau lo ditinggal nikah sama cowok brengsek yang lebih milih sahabat lo itu?"


Hei, Kesya belum menyapa sudah dimaki saja. Apa Kenzo adalah adik dari Dexter yang tertukar? Sepertinya mereka sangat mirip karena selalu marah-marah tidak jelas.


"Gue nanya, Kesya."


"Ngeri banget" gumam Kesya pelan.


"Kenapa? Kenapa lo nggak cerita ke gue dan berakhir dengan gue tau dari internet? Lo nggak tau gimana emosinya gue ketika dengar berita sialan itu?"


"Ken, semuanya udah selesai. Hubungan gue dan Devan udah selesai."


"Dhea? Anjing! Dia sahabat dekat lo dari zaman orok dan bisa-bisanya ngerebut Devan dari lo."


"Dia nggak ngerebut, cuman keadaan aja yang memaksa dia buat harus jadi istri Devan."


"Nggak usah lo ngebela mereka. Semuanya sama aja, sama-sama nggak punya otak."


Kesya hanya diam. Ia tidak akan pernah bisa menenangkan Kenzo saat lelaki itu tersulut emosi. Kesya cukup tenang karena Kenzo hanya akan memarahinya dengan tidak melakukan tindakan yang macam-macam seperti yang dilakukan Rey biasanya. Ralat, bukan tidak, hanya saja Kesya tidak pernah tau apa yang akan Kenzo lakukan.


*****


Boy sudah siap dengan pakaian rapi nya dan akan pergi ke kantor namun tiba-tiba teriakan Jojo menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari rumah.


"Woi gue ikut!"


"Dih? Lo mabuk mending tidur aja."


"Lo juga mabuk anjir!" gerutu Jojo tidak terima.

__ADS_1


Boy terkekeh pelan. Siapa bilang dirinya mabuk berat? Boy itu peminum yang kuat dan tidak mudah mabuk. Malam kemarin ia hanya cukup lelah dengan keadaan dan bersyukurnya semalaman tidur ditemani oleh gadis cantik idamannya.


"Udah, lo mending tidur aja. Gue ada rapat pagi."


Setelah berpamitan, Boy melangkahkan kakinya keluar rumah dan mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan menuju ke Grandly Group.


Mobil navy baru saja parkir di parkiran khusus Grandly Group dimana saat Boy melangkahkan kakinya keluar, ia sudah disapa oleh orang-orang. Boy memang sudah memegang jabatan sebagai Wakil Presdir di perusahaan tersebut sehingga para karyawan sudah mengenal siapa sosok itu.


"Selamat pagi, Tuan Boy" sapa sekretaris pribadi Om Heru.


Boy tersenyum singkat dan melenggang pergi dari hadapan sekretaris tersebut.


"What's up, man?!"


Teriakan pagi di lobi kantor membuat Boy menoleh seketika.


"What?!"


Siapa yang tidak terkejut melihat sosok Presdir perusahaan luar negeri yang sudah duduk manis menunggunya di lobi.


"Jangan bilang lo—..?"


Dexter tertawa seraya mengangguk pelan. Memang, di Indonesia tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya memimpin perusahaan JD milik James, Daddy nya.


"****. Kenapa nggak kabarin?"


Boy memeluk sahabatnya tersebut dengan pelukan ala lelaki. "Lo dari LA kapan?"


"Kemaren. Gue kek lagi ngidam banget pengen ke Indo makanya dibalik alasan dinas luar, gue sekalian mau liburan."


Boy terkekeh pelan mendengarnya. Memang, mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama terlebih ketika Dexter sudah jarang sekali ke Indonesia karena tuntutan pekerjaan.


"Ngomong-ngomong, katanya lo mau buka perusahaan cabang di Indo?" tanya Boy yang membuat Dexter mengangguk.


"Sekalian mau netap disini aja, gue udah nyaman masalahnya."


"Dih? Lo tuh bule, ngapain disini? Eh, yaudah ayo ke ruangan gue aja dari pada ngobrol di lobi."


Keduanya pun menuju lift khusus lantai atas. Sepanjang perjalanan, Dexter hanya diam memikirkan apa ia harus mengatakannya sekarang atau akan terus menunda. Ia merasa dirinya benar-benar brengsek sekarang karena menutupi hal yang cukup besar pada sahabatnya.


"Boy.."


"Hm?"


"Sebenarnya, gue diusir.."


Deg.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2