
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Boy benar-benar terkejut ketika melihat Zoya, perempuan yang beberapa kali sudah berjuang untuk mendapatkan hatinya namun tak pernah menggoyahkan hatinya untuk berpaling dari Kesya.
Diketahui, Zoya adalah teman sekelas Boy semasa berkuliah di Seoul. Zoya adalah gadis yang cantik parasnya dan body yang sangat bagus sehingga bisa dikatakan ia sebagai salah satu mahasiswi yang cukup dikenal karena kecantikannya.
Sejak awal bertemu dengan Boy, gadis itu sudah menaruh hati kepada lelaki dingin yang tidak pernah sama sekali berdekatan dengan gadis mana pun. Zoya mulai mencari tau tentang Boy hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk melakukan pendekatan kepada lelaki itu namun tetap saja tidak ada tanggapan dari Boy.
Cukup lama Zoya berjuang sendiri untuk menaklukkan hati lelaki itu hingga akhirnya ia menyerah karena memang semua perjuangannya selama ini tidak membuahkan hasil yang baik bahkan tidak bisa menggoyahkan perasaan Boy yang saat itu masih denial terhadap Kesya.
Beberapa tahun tidak bertemu, akhirnya semesta mengizinkan Zoya untuk bertemu dengan lelaki yang berhasil membuatnya jatuh cinta sedalam ini. Pertemuan tidak sengaja membuat hati Zoya semakin berdebar kencang.
"Boy?! It's u?!" ucap Zoya dengan langkah yang mendekat. (Boy?! Itu kamu?!"
Boy mengerutkan keningnya heran. "Who?" (Siapa?)
"I'm Zoya. Zoya Bellona, popular girl in our class." (Aku Zoya. Zoya Bellona, gadis populer di kelas kita.)
"Ah, I remember it." (Ah, aku mengingatnya.)
Zoya tersenyum kecut ketika melihat respon dari Boy yang terlihat biasa saja. Sebenarnya, itu salahnya karena berharap lebih dengan respon Boy karena lelaki itu memang tidak akan pernah bisa membuka hati untuknya.
"Who's she? Hey, i'm Zoya" ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya pada Kesya yang memang sejak tadi hanya diam mendengarkan. (Siapa dia? Hei, aku Zoya.)
"Kesya."
"My future wife." (Calon istriku.)
Kalimat yang keluar dari mulut Boy memang singkat namun tepat sasaran menyakiti hati kecil Zoya yang sampai sekarang masih berharap semesta akan berpihak padanya.
"Ah.. r u getting married..?" (Ah.. apakah kamu akan menikah..?)
__ADS_1
Boy mengangguk cepat tanpa ragu, lalu tangannya bergerak untuk menggenggam tangan mungil Kesya. "I'm getting married. I will send the invitation to u. See u." (Aku akan menikah. Aku akan mengirimkan undangannya untukmu. Sampai jumpa.)
Dengan segera Boy berpamitan dan mengajak Kesya untuk sedikit menjauh karena ia sendiri tidak nyaman bertemu dengan Zoya.
"Maaf" gumam Boy pelan saat mereka sudah berada cukup jauh dari posisi Zoya tadi.
Kesya mengerutkan keningnya heran. "Maaf? Buat apa?"
"Karena gue nggak pernah cerita tentang dia. Gue kira awalnya emang nggak perlu buat cerita ke lo karena gue sama sekali nggak pernah naruh perasaan apalagi bikin anak orang baper. Tapi karena sekarang dia tiba-tiba muncul, gue rasa gue emang perlu bahas itu. Zoya it—"
"Kak.. bahas nya nanti aja gimana? Nggak enak banget ngobrol di sini" ucap Kesya pelan karena memang mereka sedang berjalan-jalan di mall dan tentu saja ada banyak orang yang mengenal mereka.
"Lo marah? Gue nggak mau ada kesalahpahaman disini."
"Gue nggak marah. Nggak nyaman aja kalau bahas hal gituan disini."
"Bohong! Lo pasti marah sampai nggak mau denger penjelasan gue."
Kesya menatap lelaki itu dengan tatapan tajam. "Lah?! Lo nggak bisa mikir kalau kita lagi dimana?! Kalau bahas hal gitu di tempat umum gini emangnya nyaman?! Persetan sama penjelasan apapun!"
Mendengar hal itu, Boy tiba-tiba diam karena tidak menyangka bahwa Kesya benar-benar marah padanya.
Keduanya sama-sama diam tanpa ada yang mau mengalah untuk membuka suara hingga akhirnya Kesya tidak tahan dengan kesunyian itu.
"Gue mau ke butik. Nggak bakal bisa dilanjut kalau kaya gini."
Setelah mengatakan hal itu, Kesya segera pergi menjauh meninggalkan Boy yang hanya diam menatap punggungnya dari kejauhan.
*****
Gadis itu berbohong. Sejak kapan butik Kesya berada di tangga darurat? Benar sekali, Kesya memilih untuk pergi dan menghindar dari Boy karena ia ingin menangis.
Entah kenapa rasanya ia benar-benar kesal dengan lelaki itu. Bukan karena kehadiran Zoya yang bisa dibilang gadis dari masa lalu Boy, hanya saja Kesya marah karena Boy terlalu egois dan mementingkan dirinya sendiri tanpa berpikir panjang dengan apa yang terjadi diantara mereka jika ia masih kekeh untuk tetap menjelaskan tentang Zoya di tempat umum.
"Sumpah gue kesel banget dan nggak mood buat lanjut jalan. Mana sanggup gue diem-dieman sepanjang jalan padahal ke mall juga buat cari barang-barang pernikahan. Dia juga egois banget nggak mau ngomong seolah-olah tahan diem-dieman sama gue."
Kesya menumpahkan semua rasa kekesalannya di tangga darurat yang hanya ada dirinya seorang.
__ADS_1
Ting.
Ponselnya berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari Dexter.
Key, lo dimana sekarang? Lagi ribut sama Boy? Laki lo nyariin tadi.-Dexter
Kesya menghela nafas berat. Ia belum siap untuk berdebat langsung dengan Boy, maka dari itu ia memilih berperang dingin saja sampai mereka sama-sama sadar dengan kesalahan masing-masing.
Tanpa membalas pesan dari Dexter, Kesya segera pergi dari mall dijemput oleh ojek online yang akan mengantarkannya ke butik.
*****
Sepanjang perjalanan, Boy memukul setir mobil beberapa kali seolah melampiaskan emosinya sekarang. Kuku-kuku yang memutih akibat cengkeraman kuat di setir mobil menandakan bahwa lelaki itu benar-benar sedang dipenuhi oleh amarah.
"Kenapa jadi gue yang disalahin? Gue cuman mau jelasin apa yang terjadi tapi dia malah marah-marah" gerutu Boy dengan kesal.
Tak lama kemudian, ia mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang.
"Halo?"
"Kesya ada di butik?"
"Lah? Lo amnesia apa gimane? Kan lo berdua lagi ke mall?"
Boy berhasil menangkap jawaban Dexter yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Kesya belum sampai di butik.
"Anjing! Jangan bilang lo berdua lagi ribut dan Kesya kabur dari lo?! Ribut masalah apa sih?! Udah pada mau married juga, masih aja kek bocah ingusan."
"Kabarin gue kalau anaknya udah sampai butik."
Tanpa menanggapi ucapan Dexter, Boy segera memutuskan panggilan.
"Dia nggak mungkin kabur, kan? Paling lagi di jalan aja" gumam Boy seraya meyakinkan dirinya sendiri.
*
*
__ADS_1
*