
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Beberapa hari yang lalu.
Malam itu, Gabriel terbangun dari tidurnya ketika mendengar ponselnya berdering beberapa kali. Ia sedikit bingung ketika melihat nama sahabatnya di layar ponsel yang menyala tersebut.
"Vino? Ngapain jam segini?" gumam Gabriel pelan seraya mengembalikan kesadarannya kembali.
Gabriel beranjak dari tempat tidur untuk sedikit menjauh karena istrinya sudah tertidur nyenyak.
"Oit, ada masalah?" tanya Gabriel saat panggilan sedang berlangsung.
Terdengar helaan nafas dari seberang sana yang membuat Gabriel sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa lo?"
"Gab, lo bisa ikut gue ke Cambridge sekarang?" tanya Vino to the point.
Tentu saja hal itu membuat Gabriel terkejut apalagi ketika melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02:38 waktu setempat.
"Ada masalah sama Devan?" tanya Gabriel seraya mengerutkan keningnya heran.
Vino mengangguk pelan namun tentu tidak bisa dilihat oleh Gabriel. "Sepuluh menit lagi gue ke apart lo."
Setelah mengatakan itu, Vino segera memutuskan panggilan membuat Gabriel benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.
Dengan segera Gabriel pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan bersiap-siap untuk pergi dengan hanya membawa tas kecil, dompet, dan ponselnya.
Tak lupa ia menuliskan memo singkat untuk sang istri karena tidak ingin membangunkan Isabelle yang sudah tertidur nyenyak.
Cup.
"Mimpi indah, Sayang."
*****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai di Cambridge pada pukul 06:49 waktu setempat.
Sepanjang perjalanan, Vino benar-benar tidak mengatakan apa-apa sehingga Gabriel masih tidak mengerti alasan mereka ke Cambridge dari larut malam kemarin hingga sekarang mobil berhenti di sebuah hotel bintang lima.
"Gab.. gue sangat amat minta maaf sebelumnya sama lo" ucap Vino saat mobil mereka berhenti di sebuah hotel.
Gabriel mengerutkan keningnya heran. "Gue udah hampir mati penasaran karena lo nggak ngasih tau alesan kita kesini dan sekarang lo malah minta maaf ke gue. Kenapa, Vin?"
"Sebelum gue ngomong, lo harus liat dengan mata kepala lo sendiri."
"Devan main cewek?"
Deg.
__ADS_1
Vino terdiam dan memang sengaja tidak ingin membuka suara lagi hingga membuat Gabriel benar-benar ingin meninju nya sekarang.
Vino keluar dari mobil dan masuk ke dalam hotel diikuti oleh Gabriel yang masih tidak tahu menahu.
"Loh?! Ziko?!"
Gabriel semakin penasaran ketika melihat Ziko, sahabat Devan juga ada di hotel tersebut. Pikiran buruk sudah hinggap di kepalanya membuat dirinya hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja sekarang. Gabriel langsung memikirkan adik kesayangannya yang jauh disana. Ia sungguh takut jika Kesya kembali disakiti lagi.
"Ini ada apa sebenarnya?"
Tidak ada satu pun yang berani berbicara sampai tiba-tiba Ziko berhenti di depan pintu kamar. Ziko langsung mengambil id card dan membuka kamar tersebut.
Saat melihat apa yang terjadi dihadapannya, Gabriel sekarang mengerti kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Gabriel emosi, ia sangat ingin meninju wajah Devan sekarang terlebih ketika melihat seorang wanita tanpa busana tertidur disebelahnya.
"Anjing lo, Dev!"
Setelah mengatakan itu, Gabriel keluar dari kamar hotel dan pergi menjauh agar tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya.
Yang sangat ingin ia lakukan sekarang adalah memeluk Kesya namun itu sangat tidak mungkin mengingat jarak mereka sangat jauh.
Gabriel segera mencari tiket kereta yang akan membawanya kembali ke apartemen dimana istrinya pasti menunggu kedatangannya.
"Key, Kak Gab nggak akan biarin kamu sakit lagi" ucap Gabriel berjanji.
*****
Isabelle terbangun dari tidurnya ketika merasakan tidak ada siapapun di sebelahnya.
Mata Isabelle tertuju pada sebuah memo yang tertempel di atas meja.
Sayang, maaf. Aku ke Cambridge dengan Vino walaupun aku belum tau alesannya apa, mungkin ada hal penting. Aku telpon nanti, iloveyou. — Gab.
Isabelle sedikit terkejut ketika membaca memo singkat dari Gabriel yang mengatakan bahwa dirinya sedang berada di Cambridge.
"Dia nggak bawa barang?" gumam Isabelle seraya menatap koper sang suami yang masih ada.
*****
Beberapa jam kemudian, akhirnya Gabriel sampai ke New York setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Saat ini sebenarnya ia sangat lelah karena harus bolak balik New York-Cambridge dan bahkan tidak sempat beristirahat karena pikirannya sangat kacau.
Untunglah, Gabriel tidak terlalu lama mencari taksi online sehingga ia segera sampai di apartemennya.
Isabelle yang saat itu sedang bersiap-siap karena ada jadwal pemotretan pun terkejut mendengar pintu rumah yang dibuka sehingga bisa dipastikan bahwa suaminya sudah kembali.
"Sayang?! Ada apa?!" tanya Isabelle sedikit terkejut.
Gabriel diam namun tatapannya sangat rapuh sehingga membuat Isabelle langsung menawarkan pelukan padanya. Dengan segera Gabriel memeluk sang istri dengan erat. Akhirnya, ia bisa melepaskan semua perasaan yang sejak tadi membuatnya tersiksa.
Isabelle hanya diam namun pelukannya sangat menenangkan hingga ia sadar bahwa tubuh suaminya bergetar hebat menahan tangis.
"Gapapa, ayo lepasin semuanya. Jangan dipendam sendiri, kan ada aku."
Setelah mengatakan hal itu, perlahan Isabelle mendengar Isak tangis sang suami yang membuat bahunya basah.
__ADS_1
"K-Kesya.. Kasian Kesya.."
Isabelle akhirnya sadar bahwa ada sesuatu yang terjadi pada hubungan Kesya dan Devan. Entah kejadian apa yang dilakukan oleh Devan hingga membuat Gabriel sampai harus mendatanginya disana.
"Kenapa?! Kenapa Kesya selalu disakitin?! Aku nggak becus jadi kakak.. aku nggak bisa jaga adek aku sendiri.."
"Sstt, jangan ngomong gitu ah. Kamu udah jadi kakak yang sangat baik buat Kesya, Kiara, dan Yera. Tuhan tau kalau Kesya itu cewek yang kuat, masalah yang dihadapi Kesya itu bakal bikin dia semakin kuat nantinya. Kita berdoa aja ya semoga semuanya baik-baik aja.."
*****
Kembali pada saat ini dimana Boy dan Kesya sudah berada di dalam mobil milik Boy.
"Kak, maaf ya gue ngerepotin lo mulu. Harusnya sekarang lo masih ada di restoran ketemu sama rekan Om Heru, tapi lo malah jemput gue."
Kesya benar-benar tidak enak ketika ia harus merepotkan Boy yang sedang sibuk dengan urusan pentingnya.
"Gue udah bilang bisa pulang sendiri, Kak. Kenapa lo sampai ninggalin acara penting itu?"
"Gue jemput anak gue."
"Kak, kan bisa ketemu di apart nanti. Gue ngerepotin lo terus tau."
"Gue suka direpotin sama lo."
Deg.
Wajah Kesya langsung memerah ketika mendengar ucapan Boy yang dengan santai sekali keluar dari mulutnya.
Aduh, tolong.-Kesya.
**
Lucu banget.-Boy
Tiba-tiba ponsel Kesya berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Devan. Hal itu membuat Kesya dan Boy saling tatap.
"Kak.. ini gi—"
"Gue berhenti bentar bawa Ello keluar."
Boy sadar bahwa mereka memang butuh ruang tersendiri untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Nggak. Kak Boy disini aja.. gue juga nggak mau angkat telponnya" ucap Kesya yang membuat Boy sedikit terkejut.
"Gue cuman mau fokus sama Ello aja."
"Kalau lo mau penjelasan, gue bisa temenin lo buat ngobrol sama dia."
"Nggak, Kak.. gue maunya lo aja."
Anjing.-Boy.
*
*
__ADS_1
*