Tentang Kesya

Tentang Kesya
Kedatangan Dexter


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Devan bergegas menuju ke bandar udara karena keputusannya sekarang bahwa ia akan mendatangi Kesya terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya sebelum Kesya tau dari orang lain.


Untuk masalah Levanna, Devan tidak peduli. Dipikirannya saat ini hanya Kesya. Bahkan ia langsung mengambil penerbangan siang untuk terbang ke Seoul menyusul gadisnya.


"Sayang, I am so sorry.." gumam Devan pelan.


Berkali-kali ia memukul kepalanya sendiri, berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu. Ia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya melepas keperjakaan dengan temannya sendiri. Sungguh, Devan hanya ingin memeluk Kesya sekarang.


*****


Kesya terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara Steven yang bermain bersama baby Ello. Ia menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 16.38 WIB.


Ah, ternyata Steven sudah kembali dari kampus.


"Kak Boy dimana, Bang?" tanya Kesya yang berjalan mendekat.


Steven menggeleng pelan seolah menandakan bahwa ia tidak tau Boy dimana.


"Kesya rencananya mau makan diluar aja malam ini, sekalian mau beli perlengkapan Ello."


"Mau makan apa?"


"Kimchi jjigae?"


"Makanan lo itu mulu deh. Yaudah, tar abis Boy balik kita makan diluar" ucap Steven seraya kembali bermain bersama baby Ello.


Tak lama kemudian, terdengar suara kunci apartemen dibuka dan bisa dipastikan itu adalah Boy.


"Kak Boy! Darimana? Ih dasar ya, keluar nggak ngajakin gue" gerutu Kesya dengan kesalnya disaat Boy baru saja melepaskan sepatunya.


Boy pun terkekeh pelan seraya menyerahkan kresek yang ia bawa kepada Kesya.


"Wow, bungeoppang" ucap Kesya senang.


Melihat hal itu, Steven dan Boy hanya bisa menggeleng pelan.


"Dikasih jajan aja langsung diem" gumam Steven yang dibalas dengan anggukan Boy.


*****


Semuanya pun sudah siap untuk pergi ke luar dengan Kesya yang memakai pakaian senada dengan baby Ello.


Cantik banget.-Boy.


"Aura Mommy nya keliatan banget" ucap Steven yang membuat Kesya terkekeh pelan.


"Iya nih, si duren nya belum dapet" ucap Kesya menanggapi.


Plak


"Enak aja kalau ngomong. Tar dikabulin Tuhan" gerutu Steven dengan kesalnya setelah memukul pelan lengan sang adik.


"Loh gapapa tau, lebih bagus lagi kalau duren nya kaya, Om Heru contohnya."


Boy mendengus kesal ketika Kesya berkali-kali meminta menjadi Mama tirinya. Kesya tidak tau saja bahwa Boy lah yang menaruh harapan padanya. Bagaimana bisa Boy setuju ketika gadisnya ingin menjadi Mama tirinya?


"Mending sama gue. Papa udah tua."

__ADS_1


Ucapan Boy tentu saja membuat Kesya menoleh seketika. "Kak Boy ngeselin."


"Yang penting banyak duit, kan?"


"Ya terus anaknya gimana nanti? Aduh gue nggak habis pikir kalau bentukannya mirip Kak Boy semua. Yang ada lama-lama gue stress."


"Bentar-bentar, udah ngomongin anak aja. Emang beneran mau sama gue?"


Boom.


Wajah Kesya memerah seketika saat Boy menggodanya.


Aduh mulut gue bisa nggak sih sehari aja nggak usah ceplas-ceplos kalau ngomong?!-Kesya.


Seolah tidak mendengar ucapan Boy, Kesya segera mendorong kereta baby Ello keluar apartemen membuat Steven dan Boy tertawa karenanya.


"Kalau bisa ucapan lo diseriusin" ucap Steven menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


Boy tersenyum tipis. "Bapaknya cuek, emaknya galak. Anaknya mau jadi apa?"


"Jadi mirip Ello."


*****


Sesampainya di restoran, Kesya dan Boy benar-benar dikira sepasang suami istri. Bahkan Ahjumma yang pemilik restoran pun berkali-kali memuji Kesya dan Boy.


"Jeongmal chugbogbad-eun bubu-ibnida" ucap Ahjumma saat mendatangi meja Boy, Kesya, dan Steven.


(Kalian benar-benar pasangan yang diberkati.)


Ucapan Ahjumma membuat ketiganya menoleh.


"Joesonghabnida, Ajumma nugulang tonghwahaneungeoya?"


Ahjumma tersebut tersenyum tipis seraya menunjuk kearah Kesya dan Boy.


Mereka bertiga pun hanya diam dan tersenyum canggung seolah tidak ingin menanggapi ucapan Ahjumma tersebut.


"Heran banget gue, emang di jidat gue sama Kesya ada tulisan pasangan gitu?" tanya Boy seraya mengerutkan keningnya heran saat Ahjumma tersebut pamit pergi.


Steven dan Kesya yang mendengarnya pun tertawa.


"Tapi iya sih, Kak. Masa setiap ketemu orang dikiranya suami istri mulu padahal masih muda gini."


"Ya bagus dong, siapa tau kan tiba-tiba dikabulin sama Tuhan. Daripada duda sih mending Boy kemana-mana" ucap Steven seraya menatap keduanya bergantian.


*****


Ponsel Steven berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Dexter.


"Oi?"


"Gue butuh alamat apartemen lo."


"Wait, lo mau kesini?"


"Udah mau landing."


"Anjing! Tar gue shareloc."


Tut tut tut.


Panggilan pun terputus.


Steven menatap layar ponselnya tidak percaya. "Aneh gue, dimana Kesya nemu orang gila spek Rey gini sih?" gumam Steven seraya mengirimkan lokasi apartemennya kepada Dexter.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Steven mengatakan bahwa Dexter sedikit gila dan mungkin hampir setara dengan kegilaan Rey. Steven ingat saat dimana ia baru saja melihat snapgram Dexter yang sedang berjalan-jalan di luar, tiba-tiba ketika mendengar kabar Kesya berada di Cambridge, ia langsung putar balik dan rela menempuh perjalanan satu jam penuh walaupun ia baru saja sampai di tempat tujuannya.


Dexter


Steven mengirimkan lokasi.


Sorry ganggu lo malem-malem.-Dexter.


Lo kan emang gangguin. Jadi tadi lo pas ngejelasin itu udah berangkat?-Steven.


Iya wkwk yakali gue diem aja. Lo mau gimana, Stev?-Dexter.


Mau gimana lagi?-Steven.


Kalau dia sampai nemu alamat lo?-Dexter.


Nggak akan gue biarin.-Steven.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 03:17 waktu setempat dimana baby Ello tiba-tiba terbangun dan menangis membuat Kesya terkejut karenanya.


Apartemen Steven memang sangat luas untuk anak seumurannya apalagi ia membeli apartemen di tengah kota yang harganya sangat menguras dompet namun sangat memuaskan dengan tiga kamar, dua toilet, dapur, ruang tv, ruang belajar, dan gudang.


Untung saja Kesya memilih kamar yang berada ditengah sehingga jika baby Ello menangis, suaranya akan terdengar sampai luar dan membangunkan Steven dan Boy.


Steven yang saat itu masih sibuk dengan laptopnya pun keluar dari kamarnya untuk menemui baby Ello yang menangis.


"Kenapa, Key?" tanya Steven saat ia masuk ke kamar Kesya.


"Biasa, Bang. Pantatnya basah" ucap Kesya seraya fokus mengganti pakaian baby Ello.


Steven hanya diam seraya menatap Kesya yang sedang fokus mengganti pakaian sang anak. Sungguh, Steven berkali-kali mengagumi sosok yang ada dihadapannya, dimana ia dengan tekun merawat bayi yang tidak mempunyai darah yang sama dengannya.


Gue harap, kebahagiaan akan selalu bersama lo.-Steven.


Ting.


Dexter


Gue didepan.-Dexter.


"Astaga! Ello! Gue lupa!" ucap Steven seraya menepuk keningnya membuat Kesya menatapnya heran.


"Kenapa sih?" gerutu Kesya dengan kesalnya.


Bagaimana tidak? Ia baru saja kembali menidurkan baby Ello dengan memberikannya ASI yang baru saja ia hangatkan, tiba-tiba bayi itu kembali membuka mata karena terkejut mendengar suara Steven.


"Key, gue lupa Ello. Dexter ada didepan" ucap Steven dengan raut wajah paniknya.


Kesya menatap Steven tidak percaya. "Bang?! Seriusan?! Aduh, kok baru bilang sih?! Ini gimana dong?!"


Karena melihat Steven yang panik, Kesya pun ikut panik akibat ulahnya. Seolah-olah mereka menyembunyikan baby Ello hasil dari perbuatan yang tidak senonoh saja.


"Gimana kalau kita ceritain aja? Walaupun terlanjur banyak yg tau tapi kan Dexter juga berhak tau. Itung-itung buat nambah jajan Ello, lah."


Plak


"Kalau ngomong suka bener."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2