Tentang Kesya

Tentang Kesya
Interogasi Keluarga 2#


__ADS_3

Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Selamat membaca🥰😘.


*****


Boy mengangguk pelan. "Kesya harus selalu minum susu merk apapun sebelum tidur karena kalau nggak minum susu, dia nggak bisa tidur nyenyak. Kesya paling berani naik rollercoaster dan ngobrol sama makhluk halus dibandingkan harus tinggal sendiri di rumah dengan keadaan hujan deras, petir, dan mati listrik. Kesya akan memeluk Ello kalau dia lagi stress berat dan pastinya nangis kenceng diam-diam."


"Kalo itu mah lebih dari 3 juga bisa Boy jawab" celetuk Rey.


Raka tertawa. "Itu hanya pertanyaan menjebak tapi Boy bisa menjawabnya dengan detail. Oke, Mas lanjutkan pertanyaan selanjutnya. Bagaimana perasaan Boy selama ini kepada Kesya? Pasti tidak mudah mencintai seseorang secara diam dan selama itu."


Boy mengangguk karena memang benar adanya. "Mas benar, Boy terjebak denial dengan waktu yang sangat lama apalagi Kesya sempat masih stuck pada Devan. Sekuat tenaga Boy berusaha untuk menyangkal semua perasaan Boy, namun setiap Boy menyangkal semua itu, entah kenapa Kesya memberikan kesempatan untuk Boy masuk sehingga tanpa sadar Boy pun masuk lebih dalam."


"Mas hanya berbasa-basi, tanpa interogasi seperti ini pun Boy pasti dapat restu dari Mas. Mas titipkan Kesya pada Boy, ya? Mas yakin bahwa Boy bisa menjaga Kesya dan Ello dengan baik."


"Kita perlu basa basi juga nggak nih?" celetuk Steven yang membuat Rey memukul punggungnya.


"Yang anaknya otw dua gih duluan" ucap Rey menatap Gabriel.


"Kesya kalau kesel biasanya gimana?"


Gabriel pun sama halnya dengan Raka yang seolah enggan untuk memberikan kesempatan untuk Boy bernafas lega.


"Kesel dalam hal apa dulu, Kak? Kalau kesel emosi beneran, Kesya bakal nangis diem. Tapi kalau kesel emosi cuman sesaat, dia bakal ngomel mulu."


"Kalau seneng gimana?"


"Dia bakal laporan di gc fams terus dia bakal laporan ke Om Franklin dan Kiara. Terus, dia bakal kasih izin Ello buat makan ice cream" jawab Boy santai.


"Kalau capek?"


Boy menatap Gabriel dengan serius. "Kesya bakal nangis tapi nggak mau kalau sampai Ello tau. Malemnya, dia bakal meluk Ello dengan sangat lama bahkan biasanya sampai ketiduran."


"Kalau marah beneran sampai harus debat?"


"Kesya bakal terus ngelawan kalau ngerasa dirinya benar tapi pastinya dia ngelawan dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca karena dia takut emosinya bikin orang lain sakit hati."


Gabriel bertepuk tangan seolah semua ucapan Boy tidak ada yang salah. Benar, Boy benar-benar mengetahui baik buruknya Kesya sehingga Gabriel sebagai kakak tertua pun pastinya akan dengan senang hati melepaskan Kesya pada lelaki seperti Boy.


"Buset, udah 3 restu nih dan gue mulai kehilangan pertanyaan" gumam Rey pelan.

__ADS_1


"Boy, kita istirahat bentar atau lanjut aja?"


"Dih? Ada kali gitu istirahat? Dulu Isa aja nggak dikasih izin buat nafas bentar sama lo semua" gerutu Gabriel tidak terima.


Steven tertawa karena memang benar. Baik Claudya istri Raka, Isabelle istri Gabriel, dan Helen istri Dio pun tidak pernah diizinkan untuk beristirahat sebelum semua restu didapatkan.


"Lanjut aja" jawab Boy tersenyum tipis.


"Coba lo sebutin nama lengkap dan tanggal lahir semua orang yang ada disini termasuk Kesya dan Bang Dio."


Semua orang menatap Steven dengan raut wajah terkejut. Bagaimana tidak? Mereka sendiri pun terkadang lupa dengan lama lengkap, apalagi tanggal lahir.


"Lo gila apa gimana?!" gerutu Rey kesal.


"Gue coba jawab ya?



Raka Anthony Yohanes : Beijing, 31 Desember, 35 tahun


Dio Renaldi Yohanes : Yogyakarta, 1 Januari, 29 tahun


Steven Geraldy Yohanes : Swiss, 7 Juli, 26 tahun


Gabriel Nicholas Ayin : Jakarta, 20 Maret, 31 tahun


Kesya Cloresya Ayin : Belanda, 27 Oktober, 24 tahun


Kiara Anastasya Ayin : Belanda, 27 Oktober


Asyera Nichol Ayin : Bandung, 25 Desember, 22 tahun


Ello Gerald Ayin : Cambridge, 1 September, 6 tahun


Ravindra Dexter Julio : Bali, 5 Agustus, 27 tahun


Ini sekalian sama Dexter juga deh soalnya dia juga bodyguard-nya Kesya."



Tentu saja semua orang benar-benar dibuat terkejut karena tidak menyangka bahwa Boy akan mengingat semuanya bahkan sampai ke usia.


"Kesya pernah cerita semuanya dari awal Tante dan Om yang mutusin buat lahiran di tempat yang berbeda setiap anaknya sampai cerita kelahiran semua orang, dan sedikit banyak gue masih inget."

__ADS_1


"Itu bukan sedikit banyak anjir, emang banyak banget" ucap Rey yang masih tidak percaya.


"Coba deh ceritain secara singkat cerita kelahirannya" ucap Gabriel yang juga penasaran apakah Boy masih mengingatnya atau tidak.


"Mas Raka lahir duluan sebelum tanggal perkiraan yang awalnya mau di London malah lahiran di Beijing. Kalau Bang Dio tuh emang udah direncanain di Jogja karena Tante suka ngidam segala hal khas Jogja. Kalau Stev, pas lagi ada acara keluarga. Rey tuh karena kebobolan nggak sih?—"


"Anjing lo."


"Language, Rey!"


"Maaf, becanda doang. Rey tuh anak terakhir yang nggak disangka-sangka dan karena umur Stev juga masih kecil jadi lah Rey lahiran di Swiss juga."


"Yang lain gimana?" tanya Asyera yang masih penasaran.


"Kak Gab karena ada pekerjaan Om dan Tante. Kesya dan Kiara pas banget lagi berkunjung ke tempat Kakek dan Nenek di Belanda. Kalau si bontot nih karena Kakek pindah ke Bandung setelah kepergian Nenek."


Bukan hanya Asyera, semua orang pun ikut bertepuk tangan seolah puas mendengar jawaban dari Boy.


"Udah deh, lo nggak perlu pertanyaan apa-apa lagi. Kita semua bakal kasih restu buat lo sama Kesya."


Asyera yang mendengar ucapan Rey pun segera angkat bicara. "Loh?! Nggak bisa gitu dong! Yera udah mempersiapkan semua pertanyaan dan harus ditanyain sekarang!" gerutu bocah yang akan lulus sarjana beberapa bulan lagi.


"Yaudah gih nanya daripada bocahnya ngambek nggak jelas" gumam Rey yang membuat Asyera menatapnya tajam.


"Kak Boy, if u hurt my sist, can i kill u?" (Kak Boy, jika kamu menyakiti kakakku, bisakah aku membunuhmu?)


Plak


"Lo psikopat kah anjir?!" teriak Rey panik.


Asyera menatap Rey dengan kesal karena pukulan yang mendarat di paha nya cukup panas dan sakit. "Ya itu resiko yang harus diterima Kak Boy dong. Dia tau kan dari awal Kak Kesya disayang dan dijaga banget sama keluarga, tapi kalau dia berani nyakitin Kak Kesya, berarti dia juga siap buat dibunuh" jawab Asyera santai.


"Ya tapi nggak dibunuh juga bahasanya, dek" gumam Steven.


Asyera menggeleng seolah tetap kekeh pada ucapannya. "Kak Kesya selalu jadi orang pertama yang Yera cari selama ini. Jadi Yera nggak akan tinggal diam ke siapapun yang berani nyakitin dia sekalipun itu Kak Boy."


Boy mengangguk pelan. "Sedikit pun nggak pernah ada niatan gue nyakitin Kakak lo. Jadi kalau misalkan suatu saat nanti gue melakukan hal bodoh, lo orang pertama yang gue cari buat bunuh gue" ucap Boy serius.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2