
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Kesya tertawa canggung mendengar ucapan Papa Aldino. "Pa.. ini udah tengah malem loh, kok becanda aja.." ucap Kesya tertawa pelan.
Saat mendengar tidak ada jawaban dari Papa Aldino, Kesya kembali membuka suara. "Papi kemaren baru banget telpon Kesya minta pulang karena kangen sama Ello.. Papi masih bisa ketawa-ketawa liat cucunya yang udah bisa berdiri sendiri.. Kenapa Papi ninggalin Kesya..?"
Papa Aldino menghela nafas berat. "Kesya pulang ya, Sayang.. Papa tau anak Papa kuat.."
Kesya hanya diam terlebih saat Papa Aldino memutuskan panggilan membuatnya segera menatap sendu kearah Boy.
"Kak..?"
"Hm?" Boy segera mengelus pelan pucuk kepala gadis itu.
"Kok semesta jahat banget sama Kesya..? Kesya baru baikan loh sama Papa, banyak momen yang dulunya nggak sempet dilakuin.."
Boy hanya diam melihat Kesya yang bahkan tidak bisa menangis. Gadis itu benar-benar sakit namun tidak bisa mengutarakan rasa sakitnya membuat Boy pun ikut sakit melihatnya.
"Pantes ya Kesya sesak nafas.. ternyata Papi pamit pergi.."
"Boleh peluk..?" tanya Boy pelan.
Dirinya masih memikirkan logika jika langsung memeluk Kesya tanpa izin karena tau bahwa gadis dihadapannya sudah jadi milik orang lain.
Kesya mengangguk pelan membuat Boy akhirnya merengkuh tubuh gadis mungil itu. Kesya tidak menangis, namun tatapannya kosong. Ia tidak bisa mengeluarkan air mata, namun jauh didalam hatinya ia sungguh sakit. Ia ingin berteriak dan menyalahkan semesta, namun lidahnya sangat kaku bahkan teriakannya hanya sampai di ujung tenggorokan.
Rasa sakit yang paling menyakitkan adalah ketika dirimu bahkan sudah tidak bisa menangis karenanya.
*****
Steven yang saat itu masih tertidur nyenyak pun terbangun karena mendengar panggilan suara dari Papa Aldino yang juga mengabarkan kabar duka padanya. Dengan segera ia berlari menuju ke kamar Kesya yang ternyata saat itu Boy sudah ada bersamanya.
__ADS_1
Boy selalu ada buat lo, Key. Kapan lo bisa buka mata lo..?-Steven.
Saat kehadiran Boy, Steven sadar bahwa Boy selalu bisa diandalkan dalam hal apapun. Boy akan berlalu bergerak satu langkah didepan jika hal menyangkut Kesya.
Steven berjalan mendekat seraya mengelus punggung Kesya yang hanya diam dengan tatapan kosong. "Abang packing ya, kita pulang sekarang" ucap Steven.
"Gue aja, Stev. Lo temenin Kesya disini" ucap Boy yang hendak izin beranjak namun Steven langsung menahannya.
"Sama gue, dia bakal pakai topeng."
Setelah mengatakan itu, Steven pun pergi untuk mempersiapkan segala hal terutama mencari penerbangan subuh itu agar mereka bisa kembali ke Indonesia secepatnya.
Kembali kepada Kesya dan Boy yang masih dalam posisi berpelukan di dalam kamar. Tangan Boy tidak berhenti bergerak untuk mengelus pucuk kepala gadis itu.
"Om pasti bangga liat anak gadisnya udah tumbuh dewasa.." ucap Boy memulai pembicaraan.
Air mata Kesya perlahan keluar membasahi wajahnya saat mendengar ucapan Boy.
"Om bangga liat Kak Gab udah nikah sama cewek yang dia suka, liat lo dan Ello yang benar-benar bikin semua orang bangga, liat Yera yang dulunya kecil sekarang tingginya bahkan melebihi Om. Om juga pasti bangga ninggalin anak-anaknya sama Tante karena Om tau Tante dan Kak Gab bisa jaga semuanya. Selama di dunia ini, Om udah ngelakuin banyak hal dan sekarang tugasnya udah beres jadi sekarang Om mau istirahat. Om nggak pergi jauh, kan masih ada di hati lo dan di hati semuanya.."
Perlahan, tangis Kesya semakin terdengar jelas bahkan terdengar di kamar Steven yang saat itu sedang mempersiapkan semuanya. Kesya menangis dengan kencang, ia bahkan berteriak-teriak memanggil nama Franklin bahkan tanpa sadar dirinya menyakiti diri sendiri. Ia memukul dadanya yang sangat sesak dan memukul kelapanya. Untung saja Boy sigap menahan lengan Kesya agar berhenti menyakiti dirinya lagi.
"Nangis aja gapapa, walaupun tetap sakit gue lebih mau lo nangis dan keluarin semuanya daripada harus kek tadi yang bahkan lo sendiri nggak bisa nangis walaupun pasti sakitnya udah di ujung tenggorokan.."
Boy mengeratkan pelukannya seolah memberikan sedikit saja kekuatan untuk gadis dihadapannya ini. Hati Boy benar-benar sakit ketika melihat penampilan Kesya yang sangat kacau. Ia tidak bisa melihat Kesya terpuruk seperti ini sehingga dirinya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan senyum Kesya.
*****
Steven yang sudah selesai membereskan pakaiannya dan pakaian dari kamar Boy pun segera menarik dua buah koper ke luar kamar dan beranjak menuju kamar Kesya untuk mengemas barang-barang Kesya dan Ello.
Ting.
Ponsel Steven berdering menandakan sebuah notifikasi pesan dari Papa Aldino.
Papa Aldino mengirimkan foto.
Private jet Mas akan segera kesana. Akan ada yang mengubungi Abang jika mereka sudah sampai di bandara.-Papa Aldino.
__ADS_1
Ternyata, Papa Aldino mengirimkan private jet milik Raja yang ada di Jepang sehingga memudahkan mereka untuk kembali ke Indonesia karena perjalanan dari Jepang menuju Korea dengan menggunakan private jet bisa ditempuh sekitar dua jam. Steven pun bisa bernafas lega setelah membaca pesan Papa Aldino karena saat ia mengecek tadi, tidak ada penerbangan subuh hari itu.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya telah bersiap dan menunggu di ruang keluarga. Ponsel Steven kembali berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Halo?"
"What's this with Mr.Steven? I'm the pilot of Mr. Raka's jet. I want to inform u that we have arrived at Incheon International Airport." (Apa ini dengan Pak Steven? Saya adalah pilot jet Pak Raka. Saya ingin memberi tahu Anda bahwa kami telah tiba di Bandara Internasional Incheon.)
"We're leaving now. Thank u, Sir." (Kami berangkat sekarang. Terima kasih, Pak.)
Setelah mengatakan itu, mereka pun segera beranjak menuju mobil yang ada di parkiran apartemen untuk melaju ke bandar udara Incheon.
*****
Kediaman Franklin
Malam itu menjadi malam yang penuh dengan air mata dan rintihan antara orang-orang yang menatap tubuh yang terbujur kaku dihadapan mereka ternyata sudah tidak bernyawa.
Kepergian yang tiba-tiba menyisakan duka dan penyesalan yang mendalam bagi semua orang. Kehilangan yang tidak akan pernah bisa berjumpa lagi membuat semua orang hanya bisa menyalahkan takdir dan semesta.
Hal itu dirasakan pula oleh wanita paruh baya yang sejak tadi menangisi kepergian sang suami yang sangat tiba-tiba sekali. Tidak ada pertanda, tidak ada salam perpisahan, bahkan tidak ada pelukan terakhir. Seolah semesta memang sengaja merampas paksa orang yang mereka sayangi.
Franklin Ayin, seorang bapak dengan empat orang anak dan satu cucu yang sudah hidup selama 47 tahun. Umur yang masih sangat muda untuk pergi meninggalkan keluarganya bahkan mereka sudah merencanakan untuk mengatakan pesta saat ia mencapai umur yang ke 50 tahun. Ternyata, ia malah pergi malam ini dan tidak akan pernah bisa merasakan pesta 50 tahun yang direncanakannya dengan keluarganya.
"Papi.."
Ah, seorang anak yang sudah besar sekarang duduk dihadapan tubuh yang terbujur kaku tersebut. Ia tidak bisa membohongi hati kecilnya, ia sakit dan benar-benar sakit ketika melihat orang yang ia sayangi harus pergi meninggalkan.
"Kenapa Papi pergi duluan..? Papi kan jadi mau hadir di acara kelulusan Yera.."
*
*
*
Selamat jalan, Om Franklin. Terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita ini. Terima kasih juga atas didikannya untuk Gabriel, Kesya, Kiara, dan Asyera. Salam cinta dari semuanya.
__ADS_1
*
*