
Jangan lupa untuk di VOTE dan KIRIM HADIAH ya semuanya🥰.
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Selamat membaca🥰😘.
*****
Malam itu, setelah memutuskan panggilan dengan Dhea, Boy pun memutarbalikkan mobilnya untuk kembali ke rumah Kesya karena sudah berjanji akan pulang ke "rumah" nya.
Kesya yang saat itu masih terjaga pun segera bangkit berjalan cepat menuju ke pintu ketika mendengar suara mobil Boy.
"Loh? Beneran ditungguin?" tanya Boy terkekeh pelan seraya mengacak rambut Kesya dengan gemas.
Kesya menatap lelaki yang ada dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kak Boy gapapa?"
"Gapapa, ayo masuk dulu nanti kita ngobrol."
Boy pun mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam, tak lupa mengunci pintu dahulu karena ia yakin bahwa ia tidak kembali ke rumahnya malam ini.
"Tadi gue abis mastiin Devan pulang ke apart dengan selamat."
"Loh?" Kesya terkejut karena ia bahkan tidak memikirkan tentang itu.
"Gue minta izin ke Devan buat bawa lo berpetualang di sisa hidup gue.."
Deg.
"Kenapa minta izin?" tanya Kesya seraya menatap kedua bola mata indah milik lelaki itu.
Melihat Kesya yang menatapnya seolah tidak sabar dengan jawabannya, Boy pun terkekeh pelan seraya kembali membuka suara.
"Sebelum gue ajak lo berpetualang maka gue harus pastiin kalau nggak ada orang yang sama halnya dengan posisi gue sekarang. Gue nggak mau dengan bahagianya gue nanti malah nyakitin orang lain karena gue bisa bersaing dengan siapapun yang juga suka sama lo, tapi gue nggak akan pernah bisa bersaing dengan orang yang masih ada di hati lo."
Gadis itu sudah tidak tau harus bersikap seperti apa dihadapan lelaki yang baru saja mengatakan hal yang membuat hatinya berdebar seketika.
"Maaf kalau mungkin sampai hari ini, semua perlakuan gue membingungkan lo, tapi gue nggak ada niat sedikit pun buat bikin lo bingung dengan keadaan gue. Maka dari itu, karena gue ngerasa ada kesempatan, gue mau minta izin dulu ke orang pertama yang ngisi hari-hari lo dan karena obrolan itulah Devan berakhir di bar Bobby dengan keadaan yang berantakan banget."
Ada jeda sebentar sebelum Boy kembali membuka suara. "Gue cuman mau memastikan kalau Devan baik-baik aja karena gue tau gimana dia kalau mabuk."
"Kak.. gue—"
"Nggak perlu ambil pusing dengan semua ucapan gue, lo berhak berpendapat tentang semua hal tapi gue harap untuk sekarang lo nggak perlu ambil pusing."
__ADS_1
"Gue belum selesai ngomong padahal" gerutu Kesya seraya mengerucutkan bibirnya.
Boy tertawa mendengarnya. "Gue nggak mau karena gue, lo jadi malah kepikiran."
"Gue bener-bener masih nggak habis pikir dengan jalan pikiran lo, Kak. Susah ditebak" ucap Kesya yang membuat Boy tersenyum tipis.
"Tapi masih sayang, kan?"
"Selalu."
Mendengar hal itu, Boy memundurkan sedikit tubuhnya menjauh dari Kesya.
"Wah, gila nih bocah."
Sepertinya lelaki itu tidak bisa harus berlama-lama ketika Kesya benar-benar bisa menggodanya.
*****
Ting.
Devan sedikit terkejut mendengar ponselnya berdering pagi ini. Tanpa melihat, ia sudah menduga-duga bahwa si pengirim pesan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya.
Dan benar saja, ketika ia mulai menyentuh benda elektronik tersebut, terlihat nama Dhea terpampang jelas di layar ponselnya.
Dhea
Sebenarnya, Dhea sudah hampir setiap hari menanyakan tentang perceraian padanya namun entah kenapa rasanya Devan enggan untuk membahas itu. Bukan tanpa alasan, Devan hanya tidak mau Dhea terluka karena tanpa diketahui bahwa orang tua Dhea sudah mengancam Devan untuk tidak menceraikan putri tinggal mereka.
Tangan Devan bergerak menari di atas layar ponsel yang sedang menyala tersebut. Entah pesan apa yang ia kirimkan namun sekarang wajahnya benar-benar terlihat sangat serius.
Ting.
Lo gila?! Gue tau kalau lo sampai kapan pun nggak akan bisa ngelepasin Kesya, Kak!-Dhea.
Tiba-tiba nama Dhea terpampang jelas di layar ponselnya menandakan perempuan itu sedang menghubunginya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Devan pun mengangkat panggilan tersebut.
"Gue nggak tau gimana cara kerja otak lo, tapi gue nggak habis pikir kenapa lo tiba-tiba banget bilang kalau nggak ada perceraian di rumah tangga kita. Ini semua bukan karena malam tadi, kan?"
Terdengar ragu, namun Dhea tetap memberanikan diri untuk bertanya membuat Devan menghela nafas berat sebelum membuka suara.
"Percuma kalau cerai, sampai kapan pun gue nggak akan bisa balik sama Kesya lagi."
__ADS_1
Dhea terdiam. Memang sakit rasanya ketika mendengar alasan Devan yang tidak menginginkan perceraian hanya karena Kesya tidak bisa ia miliki lagi. Lalu, bagaimana jika ada kesempatan kedua untuknya? Apakah Devan akan dengan segera mengirimkan surat perceraian padanya?
"Lo cuman mikirin diri lo sendiri, Kak! Terus gue gimana?! Gue juga mau memperjuangkan Jojo."
Setelah sekian lama, akhirnya Dhea memberanikan diri untuk meyebutkan nama Jojo lagi dihadapan Devan.
"Kejar kebahagiaan lo, Dhe."
Setelah mengucapkan hal itu, Devan memutuskan panggilan secara sepihak membuat Dhea tidak mengerti maksud dari lelaki itu.
*****
Ello menatap lelaki dihadapannya dengan sangat kesal, bagaimana tidak? Boy dengan santainya memakan sarapan yang ia buat sedangkan lelaki itu belum menjelaskan apa-apa kepada Ello.
"Jangan melihat Daddy seperti itu" tegur Boy yang masih sibuk makan.
Ello sedikit tersentak karena pergerakannya diketahui. "Daddy belum menceritakannya."
"Menceritakan apa?"
"Daddy lebih memilih Mommy daripada Ello?!"
Tentu saja pertanyaan yang keluar dari mulut Ello sontak membuat Boy dan Kesya tertawa seketika. Benar-benar ya bocah itu, bagaimana bisa ia cemburu dengan Kesya?
"Hei hahaha, kenapa berpikir begitu?"
"Karena Daddy memilih tidur dengan Mommy daripada dengan Ello" gerutu bocah itu yang membuat Boy hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Gila saja jika Boy memang tidur dengan Kesya walaupun memang mereka pernah beberapa kali tidur bersama ketika Kesya sedang takut ataupun ketika Boy sedang mabuk.
Malam tadi, Boy tidak tidur dengan Kesya namun ia tidur di kamar Ello. Setelah menghabiskan cukup banyak waktu untuk bercerita, Boy pun memilih tidur bersama anaknya namun Ello yang tidur dengan sangat nyenyak pun tidak menyadari hal itu.
"Memangnya kenapa kalau Daddy tidur dengan Mommy?"
"That's a sign that Daddy doesn't love me anymore". (Itu tandanya Daddy sudah tidak mencintai ku.)
"Kenapa berpikir begitu?"
"Karena Daddy memilih Mommy."
Kesya hanya bisa menggeleng melihat kedua bayi besar itu sedang memperdebatkan sesuatu yang bertele-tele.
*
__ADS_1
*
*